Kamis, 11 Desember 2014

sentimental

sorot mata itu
selalu terkenang di dalam
memori hati ini
ketika kau menatapku dengan
penuh harap
yang mencetak jelas sebuah kegembiraan
di dalam sanubari

aku ingin waktu itu kembali,
untuk melihatmu dari
jarak yang dekat,
yang sesekali tertawa
untuk alasan yang tak begitu jelas
namun nampak sebagai
sebuah kebahagiaan

dan kita pernah bersama
meski tidak pernah ada
sepatah kata utama yang terucap
dan kita terus begitu
sampai tak tahu lagi
kemana perasaan ini
akan berlabuh

aku ingin mendekapmu
meski hanya dalam bayang
aku tak ingin menjauh darimu
selayaknya angin yang tak pernah
bosan menghinggapi daun
atau selayaknya suara yang tak bernyali
saat udara tak ada, aku begitu tak kuasa

dan perasaan sentimental ini
selalu menghujaniku di kala sepi
lantas mengharapkan engkau akan ada disini
pada suatu hari nanti

Rabu, 03 Desember 2014

di depan kampus rawamangun



di depan kampus rawamangun
siang tak lagi soal terik,
juga awan, yang mulai membisik
menyuruh alam untuk mendukung
mendung
dan deru serta debu kuda-kuda
menjengkelkan
setelah itu alam menyisakan
lelaki tua yang duduk di tepi
terpojok sunyi pada sebuah
gerobak hijau yang lusuh.

ia menunduk, menatap
kotoran-kotoran yang menempel
di kaki, juga koreng dan boroknya
yang berdarah nanah

entah apa yang dipikirkannya,
ia terus saja merunduk
seolah dunia tak lagi
menarik baginya. seolah
hidup hanya formalitas
belaka. "percuma" itu mungkin katanya.
"aku lapar, tak ada yang peduli. aku
tidur tak ada yang mengatur. aku
menggelandang, tak ada yang
menggalang bantuan. hidup hanya formalitas
dan rutinitas belaka." katanya. tentu dalam
bahasa dirinya yang apa adanya.

dan jalan ini ramai, kataku.
tapi entahlah di hati kakek tua itu.
aku kasihan. ia terlihat semakin merunduk.
aku tertegun, wajahnya mulai pucat
dalam bingkai kulit keriput hitam cokelat.
aku terperanjat.
----------------------------------------------------------------------
"hai kau pengamat, apa hendak kau perbuat?"
kata seorang penanya.
"apa yang aku perbuat?" jawabku. "apa
yang aku perbuat, hanyalah menulis.
menuliskan tentang kakek itu".
"celaka. kau hanya diam saja, hah?"
"hmm.. tidak juga" jawabku.
"lantas apa yang kau lakukan untuk kakek itu?"
ia bertanya lagi, agak keras, menatap seolah aku bodoh dan acuh
"baiklah aku jawab," kataku.
"apapun yang aku lakukan untuk kakek itu,
bukanlah urusanmu!"
--------------------------------------------------------------------------
aku pun berlalu dari tempat itu
menggiring tubuh menuju asal aku bermula
pada susunan waktu yang semakit sempit
dan pergi dengan perlahan

saat aku menoleh ke belakang
kulihat gerobak itu telah lenyap



Senin, 24 November 2014

Rahasia Penyair

aku benci jadi penyair, berkata ini untuk maksud yang itu
hipokrit
aku kesal jadi penyair, bermaksud tajam malah jadi tumpul
sesal
aku marah jadi penyair, kucinta kau, namun kubilang sirna
sedih
aku muak jadi penyair, bilang manusia menjadi kera
tersedu


ssssstttt.....


tapi.. (berkata pelan)
jangan bilang siapa-siapa ya...


ada satu hal yang kusuka dari penyair,

'ia tidak pernah berbohong tentang perasaannya'


jangan beritahu yang lainnya ya
ini rahasia diantara kita saja
kau bisa jaga rahasia kan para pembaca?

Selasa, 18 November 2014

Sajak Pelacur Tua

di pojok sana, duduklah pelacur tua
duduk sambil sedikit mengangkang
tanda sedang pemanasan

bibir merah, ditaburi gincu murah
bekas beli di pasar tadi sore
dibelikan oleh sang suami,
"ini ma, aku belikan gincu
baru. biar kau semangat kerja."
si suami berkata.
"lelaki brengsek, cumak nganggur
saja kerja kau. darimana kau dapat uang buat beli gincu ini?"
seraya menunjuk batang hidung si suami

sang suami hanya terdiam. dengan lirih
ia berkata, "aku habis maling ayam, ma."

"dasar lelaki goblok. tidak berpendidikan. tolol. kalau
mau kaya raya, masa kau cumak curi ayam? harusnya
kau curi cincin emas dan gelangan, biar kita pada banyak uang"

sang suami terdiam lagi. ia tertunduk. lantas mundur
pada hitungan detik dan pergi keluar rumah.
lalu ia pasang wajah gagah, meski baru saja ia kena istri marah
dan kembali larut, dalam kebiasaan sehari-hari, berjudi.

--------------------------------------------------------------------------------

maka sebentar lagi, hari akan dini
sang pelacur tua mulai resah, mau putus asa
ada rasa hendak pulang, tapi kepala pusing bukan kepalang
apa lagi kalau bukan karena uang.

"(nah, ada tiga lelaki muda disana.. hmm. aku akan
 menawarkan jasaku kepada mereka)."

"Dek, ayo dek. Sini main sama tante. ayo dek. mumpung
masih sempat. tante sedang diskon besar-besaran dek.
sini.. sini.. sayang, tante kasih peluk dan cium di bibir gratis
buat pemanasan." dengan semangat sang pelacur tua menggoda

"Dek, ayo dek. tante sudah gak tahan. ayo, 50 ribu
bertiga juga ga apa-apa." sang pelacur semakin menjadi

Maka ketiga lelaki muda tadi pun berbincang singkat, lantas
mengumpulkan kepingan uang logam mereka
berharap totalnya sampai 50 ribu, buat berbagi rejeki bersama
sang pelacur tua.

Makan-makan

ada ikan sedang makan kucing
juga bebek lagi goreng paha manusia
di penyet padi, dibakar daun kemangi

kodok-kodok duduk rapi
pada menunggu sarapan jadi
ular bumbu balado
yang dpadu dalam mangkuk ukuran jumbo

juga ada geng ayam
ayam kampung, ayam negeri, ayam kate
sedang menanti gulai ayam kampus
masih segar, baru potong, diambil
dari kos-kosan pelacur sebelah

kamu mau bergabung?
cukup bawakan kami sambal kentang
hati manusia yang penuh luka

Selasa, 11 November 2014

Pada suatu malam










Pada suatu malam yang dingin
pemuda itu duduk di tepi
sebuah jalan
terombang-ambing dalam sengketa
pencarian nasib

saat itu ia sedang letih
kakinya gemetar sedih
karena jalan yang ditempuhnya
penuh kerikil nan memberikan luka

di dalam hatinya ia mengusap
air mata kesedihan 
yang tertampak seperti luapan kantuk
ia menyekanya perlahan
menyisikan bulir-bulir
yang mengalir menuju hilir wajahnya

pemuda ini punya mimpi yang sederhana;
ia tak ingin letih lalu duduk di tepi jalan
karena sedih mencari titik nasib
yang terasa semakin dingin

Senin, 10 November 2014

Tanda Tanya

seorang perempuan termangu
memandang deret bukit
dari bingkai jendela alam

ia mamatung, menajamkan mata
namun melapangkan hati
kepada himpitan masalah
yang senantiasa meradang

dan tetiba ia tersedak
kaget melihat seorang lelaki
di saat malam sedang
menampilkan jejak-jejak penuh emosi;
ia mabuk sambil membanting handphonenya
"dasar wanita jalang"
kata si lelaki penuh amarah dan duka

dan sang perempuanpun hanya tertunduk
teringat masa kelam yang baru saja dilaluinya
"lebih baik kita cerai mas"
pinta sang perempuan, waktu itu

lalu mereka berdua duduk saling berdekatan
tak saling pandang, meski ada rasa ingin
"aku menyesal membuat keadaan menjadi begini"
sesal sang lelaki dalam lirih
"aku sedih telah kehilangan suami"
seru sang perempuan dalam hati

maka setelah masa yang agak panjang dan hening
mereka memaksa untuk saling melihat
meski pada saat itu suasana taman sedang remang.
sampai kini keduanya bersitatap;
"parmin??" tanya sang perempuan
"minah??" tanya pula sang lelaki, heran

dan mereka berdua kembali terdiam, lalu mempertanyakan
untuk apa mereka melempar sesal dan tanda tanya

Hujan Rintik

hujan di pagi ini merintik letih
berbentuk bulir-bulir lelah yang jatuh meluruh
dan awan putih tak lagi riang
karena kelabu mulai datang menjelang

sunyi
sepagi ini adalah hari yang sepi
pada sebuah makna perjalanan
di sepilihan waktu

senyap
tak ada bunyi selain rintik
yang letih pada bulir-bulir yang meluruh
jatuh dan lelah

Jatinangor, November 2014

Aku kabarkan

aku kabarkan rindu itu pada awan, tapi ia menolak dan memilih menyepi di ujung bukit seraya menangis melalui bentuk hujannya yang rintik

lalu aku sampaikan pada burung, namun ia menampik seraya pergi meluas cakrwala, mencoba menahan dengan membawanya sendiri ke dalam alam sunyi

dan sebelum sempat aku berkata lagi, kini debu pun bersabda;
''jadi ikhlas, selayaknya aspal yang tak pernah menuntut apa meski tubuhnya senantiasa dirajam roda''

 dan kini aku pun tersipu, menahan malu pada rindu itu.

Kamis, 16 Oktober 2014

Benua Biru

Benua Biru
adalah tempat aku akan berlabuh
di suatu waktu
tunggu aku!

Fragmen ketidaksadaran

Kemudian aku lihat;
sepasang sendal butut yang saling bercengkrama,
berdebat tentang siapa diantara mereka 
yang paling berjasa bagi majikannya 

Dan aku bersitatap;
pada awan-awan gempal yang merapal 
seperti berdoa pada Tuhan 
untuk memintakan hujan agar tak jadi datang 

Hingga kuping terngiang;
pada sorak sorak pelaut yang datang 
yang membawa hasil tangkapan berupa udang
dan kepalang, karena hilang asa mencari uang 

dan tetiba pula merindukanmu;
tersadar senyum indah itu menyapaku
dari balik bukit ketidaksadaranku
bahwa kini engkau hanya ada dialam mimpi itu 
bukan lagi nyata seperti dulu 

Di jalan setapak

di jalan setapak itu
ada seringai curiga dari keong-keong;
mereka takut kalau kami ini adalah petani
yang biasa memburu mereka untuk dijadikan umpan

padahal kami tak sejahat itu
lebih tepatnya kami lebih jahat dari itu
kami bermaksud mematok tanah
yang kami paksa beli dengan harga yang murah
lalu menjualnya dengan harga yang mahal kepada pemerintah

ya, kami ini hanya abdi
karena pemegang kuasa sesungguhnya adalah bupati
ya, kami ini hanya bedil
yang ditempatkan untuk merampas rasa adil

kami peduli dengan petani
tapi kami juga peduli dengan keluarga kami
yang sudah beberapa lama makan dengan sunyi
serta berpapaskan lauk berupa teri basi
namun kami tetap peduli
meski hati tak lagi bertempat di hati
kami tetap peduli
dengan topeng seolah kami orang suci

Jalan

kalau semuanya terlihat meragukan
maka lebih baik kalau semuanya dijelaskan
dengan sebuah kepergian

kalau semuanya terlihat tidak meyakinkan
maka akan lebih elok kalau ada sedu sedan
daripada menyesal di hari kemudian

kalau semua sudah begitu adanya
jenuh dimakan usia yang tak lagi sama
maka lebih baik biarkan itu sirna
dan menemukan jalannya sendiri saja


Minggu, 05 Oktober 2014

Rindu yang berjarak

tak akan indah bila memandangmu terlalu dekat 
karena hanya akan membawa luka;
saat detik-detik aku menelusuri garis nasib 
yang tak kunjung berbaik hati

tak akan seelok itu 
kalau aku tak memandangmu dari sudut situ 
dari hamparan daratan asing yang bertuan 
dari tanah pijakan yang diimpikan 

dan tak akan seindah kenangan kita bersama 
saat awan-awan putih ini mengantarkan aku; 
menelusuri tangga demi tangga yang mendorongku 
untuk pergi menjauh darimu untuk sementara waktu 

serta tak akan serindu ini 
kalau aku dan kamu tak berjarak selayak inchi demi inchi
karena bukan apa yang menjadi anganku pada dirimu
tapi apa yang menjadi harapmu padaku
oo sesegar angin pantai di Ujungkulon
oo sesemampai pohon-pohon di Sunda kelapa 
oo hau hadomi o, Indonesia!

Kamis, 18 September 2014

Seiris retorika menolak lupa

orang-orang pendukung menolak lupa
kini sudah berkuasa
namun aku ragu dengan mereka
kalau mereka akan konsisten tetap meneriakkan
"menolak lupa"

kini mereka mulai amnesia
bahwa ada bagian mereka
yang menjadi pelanggar
hak asasi manusia
apa kabarnya pembunuhan munir, kakanda?
di zaman siapakah kematian munir itu ada, kakanda?
apakah ada pendukung anda
yang kita tahu
terlibat persitiwa itu, kakanda?

Ode seorang anak jalanan

Yadi, itulah namanya
ia hanya anak kecil biasa
yang dilahirkan dari rahim ibu, yang adalah seorang PSK
ayahnya banyak, karena sang ibu bingung menentukan
yang mana yang menanam benih dirahimnya
makanya hingga kini
yadi hanya merasa punya ibu tanpa bapak

Yadi, masih 7 tahun usianya
tapi gaya bicaranya luar biasa
dari binatang buas sampai binatang jinak
fasih sudah ia menyebutnya
jangan heran, jangan heran kawan

Yadi, kata pemerintah ia anak jalanan
makanya ia dipelihara oleh negara
sesuai undang-undang empat lima katanya
makanya ia dipelihara oleh negara
untuk tetap hidup dalam dunia derita
karena memang itu perintah negara

Yadi, pagi-pagi sudah mengamen
sesekali ia juga meminta-minta
memelas dengan penuh iba
kata pemerintah sih ini
namanya bisnis afeksi, katanya

tapi Yadi tidak peduli
baginya hidup hari ini
harus juga dengan perjuangan saat ini
bagi Yadi, makanan hari ini
adalah perjuangan yang ia habiskan
dengan segala usia dan tenaga
cuih, omong kosong dengan belajar
kalau untuk makan saja ia terpaksa kurang ajar
seperti menyisipkan lima jari di saku
seorang pelajar,  yang kalau ketahuan
ia dihajar dan juga ditampar habis-habisan
ohh inikah hidup, Tuhan

Senja lusuh di tengah kota

kulihat kakek tua itu; tersenyum
ia mengulasnya dari balik bilik angkot hijau
sambil memamerkan poster bergambar
wanita cantik, pemudi model masa kini

dari balik senyumnya pula aku lihat
segenggam memori tentang masa lalu
dengan mengecap duri kenangan akan seorang kekasih
yang manis dan menyenangkan
persis seperti pemudi model masa kini tadi

di depannya duduk seorang ibu
penuh peluh membawa barang dagangan
barangkali ia baru pulang dari pasar
seutas senyum tipis mengambang di bibirnya
yang penuh gincu murahan
namun tulus

lain lagi sang sopir, ia memancarkan wajah panik
mungkin setoran masih hari ini belum terkejar
atau mungkin anak sedang butuh banyak biaya
atau mungkin istri merajuk minta dibelikan berlian
makanya ia getir, kepalanya miring sebelah
makanya ia sempat pula melontarkan marah
pada anak sekolah yang tak jadi naik angkotnya

dan pengamen di bus Damri itu
berlagak menyeramkan dengan membawa
gitar tua yang sudah mulai sompral
ia lalu bernyanyi dengan tidak merdu
memandang kesana kesini dari balik kacamata hitam
tanda ia sedang bergaya, juga mungkin merasa minder
karena tak ingin identitasnya diketahui publik
maklum selama ini ia kan playboy, masa mengamen

lalu dimana aku? aku ada disitu
disebuah tempat yang tak perlu kau tahu
aku duduk sambil memandang mereka
aku yang baru saja mengutuki nasib
karena belum diterima bekerja
aku yang sempat berkicau bahwa hidup ini keras
sungguh tak ada apa-apanya saat aku bandingkan
dengan kehidupan mereka yang aku lihat
pulang sore, mungkin pergi saat adzan subuh belum berkumandang
membawa barang berat ke berbagai tempat
meneteskan keringat mengantar penumpang pulang pergi
menggesekkan pick gitar dengan suaranya yang parau
sampai hari lelah, dengan hidup yang belum juga berbaik hati
oh Tuhan... maafkan.. sungguh maafkan aku
yang tak pernah bersungguh-sungguh
mensyukuri segala nikmatmu., sungguh maafkan aku Tuhan..
tiada apapun disini kecuali karena karuniamu
terima kasih Tuhan

Senin, 01 September 2014

Titik tinta putih

Masih dalam kejapan mata
juga singgah bersama murka
adagium-adagium adalah palsu
dan mata memandang cuma derita

saatnya, saatnya kita memasung
bersama kelamnya sesajian di kuil
berpergian sambil menertawakan
dari keberingasan pasang telinga
yang bersembunyi di balik
hitamnya sudut pra sangka

dan gemerlaplah, bergemerincinglah
daun-daun coklat yang merekah
sampai meraung dan terjatuh
melepuh, dengan luka
dengan seberkas titik tinta putih
dan rasa simpati pada kekasih

Jumat, 29 Agustus 2014

Kesekian kali

untuk kesekian kalinya, istriku..
aku merindukanmu
untuk kesekian kalinya, istriku..
aku menantimu
meski tak tahu siapa dirimu
sedang bagaimana dan dimana
dirimu kini berada

hanya satu ungkapan dariku,
bahwa aku mencintaimu,
sungguh aku mencintaimu
bahkan sudah sejak kita tak saling tahu

Kau = Mitokondria

kau dan mitokondria
sama-sama gemar bersemayam dalam hati

kau dan mitokondria
sama-sama gemar memberiku energi

( ............. & .............. )

Aku jatuh cinta kepadamu
Dan Kau juga (harus) jatuh cinta kepadaku
Maka itulah yang dinamakan cinta sejati

Kusut

hanya ada satu desau saat itu
sewaktu angin melintas cergas
dan jutaan kata sudah terangkai
demi mengindahkan segala konstelasi
perasaan yang sudah menumpuk sekian lama

ada rangkai yang mendayu, juga sendu
meniti rimba-rimba gelora cinta
ada rangkai yang sumbang, tak sambung
merintangi batuan dekat tepi jurang

dan jarak sudah semakin dekat
ada makna yang coba diungkap
dan desir semakin cepat
bersama darah yang makin tidak cerah

seulas senyum menipis
dari balik bibir kisut yang gelap
sepintal harap menjejak
dari balik pikir yang tak lagi kikir
tapi kisut karena menyusut

dan jarak sudah semakin dekat
ada makna yang coba diungkap
dan ada cekat yang keluar cepat
dalam balutan semangat yang singkat

seulas senyum kembali terurai
disambut senyum kecut khas pengecut
sebuah kata ajaib pun muncul darinya
"Hai"
sayang tak ada jawaban
dari balik bibir kisut yang gelap itu
mendadak takut, juga
keburu kisut karena menyusut
alamak...segalanya pun jadi kusut

Dan bagaimana

dan bagaimanakah aku akan masuk
kalau nyatanya hatimu masih kau kunci
sementara kuncinya telah kau buang jauh
entah ada kemana?!

dan bagaimanakah aku akan menari di dalam ruang hatimu,
sementara ruang itu saja masih gelap
karena tak kau nyalakan lampunya?!

dan bagaimanakah aku akan mengurai getah-getah kesedihanmu
kalau untuk menyesapnya aku tak berdaya?!

dan bagaimanakah aku akan mengeringkan sungai kepedihan itu
kalau ternyata mata air kesedihan itu masih saja mengalir dengan derasnya?!




Selasa, 26 Agustus 2014

jam 12 malam

jam 12 malam
dingin mulai menusuk
dan daun-daun pun beterbangan
menyisakan suara senyap;
film-film doktrin itu kini mulai diputar

mereka, wajah-wajah yang sebenarnya
tidak lagi pantas untuk dikatakan polos
(setidaknya mereka pernah berbuat kejahatan dan dosa)
berdiam dalam baris-baris yang penuh

mereka, seperti ikan yang lapar
berkumpul dengan harap makanan
mereka, seperti jamur yang bergumul;
siap dipanen, demi santap siang sang tuan

kini di manakah sang tuan itu?
aku tahu dimana dia berada
namun pertanyaan itu tak hendak buat dijawab
sungguh karena ia hanya bisa ditelusuri
dengan mata, kepala, juga sedikit gumpal daging berbumbu;
hati nurani

sebuah masa dalam kepingan waktu

sebuah masa dalam kepingan waktu
mendekam melalui abu; semu 

dalam takwil perlawan, kawan
kita tak pernah lupa pada kelam 
bahwa jejak-jejak alam yang kau tinggal 
muncul dari balik duli menduri 

lalu sepotong kenang itu
melahap jasa-jasa, seakan 
merontokkan satu demi satu 
logika-logika prematur, ciri khas
pemain muda yang sok tau 
  
bahwa di temaram surau itu 
kita pernah bersatu, menderu 
menjauhi satu demi satu 
sloki yang menjadi kegemaran 
di saat rutinitas menjebak kita 
bahwa butir-butir putih itu 
adalah masalah yang padu 

disitu
ada kenang yang aku rasa indah 
ada candu agama yang mendera
namun kau, mendadak pergi 
menjauh dari apa yang selama ini 
menjadi 'ekstasi' halal 
dan bukan seperti saat ini 
sengaja menjebak diri 
pada himpunan awan gelap
menumpuk dalam hutan agar tersesat;
melabuhkan hati pada temaram gelap
tanpa sepotong lilin pun kau genggam 
tanpa setitik panas yang kau regam 
dan..... 

Selasa, 19 Agustus 2014

Elegi lebah senja hari

senja ini, disaat debu-debu bertumpuk
bersama raungan deru gemuruh mesin
kita menyaksikan wajah-wajah yang lelah
pucat pasi dengan rona menghitam
di kulit yang kian menipis

senja ini, disaat satu persatu berhamburan
bak lebah yang keluar dari sarang
kita menyaksikan satu demi satu batang kepala itu
saling menyengat dan menyeruduk
berebut untuk merenggut ratu, nyanyian musim kawin

dan kita adalah lebah yang mulai sadar
mencoba untuk pergi dan menyebar
namun sayang, kawan, kita sudah disini
terikat dengan tadisi dan budaya
untuk saling berebut dan bersikut
merebut madu, merebut jatah kawin dengan ratu
dan kita terpaksa menjalani nasib sama
seperti lebah lainnya


Senin, 28 Juli 2014

Untuk kamu istriku (suatu saat nanti)

kau tahu, alam baru berhujan
bersama aku yang terdiam duduk
dengan gemericik air sisa tangis awan

kau tahu, surya mengelam tadi sore
bersahutan dengan angin yang berbisik
lantas bersuara "rindukah engkau?"

aku kaget, bergidik dengan bulu rona
dan angin itu tetap melaju
meraba setiap inci kulitku
terus menyeluruh, pergi ke arah atas
mencari-cari daun telingaku, dan berlirih
menggumam kalimat itu lagi dan lagi

hingga pada suatu ketika, aku tersadar
kalau lirih itu adalah pesan darimu
yang kau titipkan pada angin tadi
sebagai sebuah isyarat
tentang kesadaran hadirmu di kehidupanku
suatu saat nanti

Badut

kita adalah badut
yang dipaksa hidup dalam 'panggung'

kita adalah badut
yang diminta untuk berperan dan berperangai

kita adalah badut
yang disuruh tertawa meski hati sedang menderita

kita adalah badut
yang ceria dalam tingkah, meski perasaan sedang bagai terhujam anak panah

kita adalah badut
yang diminta untuk menghibur
agar suatu saat mendapat 'imbalan'
berupa kebahagiaan yang 'abadi'





Minggu, 20 Juli 2014

Palsu

rinci adalah inti
sewaktu dusta dibuktikan dengan kata
rinci adalah kunci
yang akan sudi kalau sudah berahi

minah, sudikah kamu kepadaku?
melayani darah yang sudah mendidih
diatas laju otak di kepalaku ini?

sruni, maukah kau mengayomi
detak demi detak sentuhan halus
yang aku susuri dari sebuah lembah yang rendah?

ariani, relakah puan untuk aku dekati
sambil membawa deras keringat
yang muncul setelah erangan yang tajam?

michele. inginkah engkau duduk disini denganku
dengan menelusuri lekuk-lekuk
air mata yang tercekat diatas rona pipimu?

rinci adalah inti
sewaktu dusta dibuktikan dengan kata
namun dalam kesejatian itu adalah palsu
berbohong demi keadaan
semakin membuatku tak lagi dalam kemerdekaan
dari angkara nafsu yang palsu

Suram

matari hitam muncul dari bawah 
ketiak-ketiak alam di suryakencana
duduk dalam kemuning rintih
dalam dekapan peluh suci 

parman menyendiiri bersama desah 
meremang seputih keabadian 
dan menerkam sugi yang kejam 
meraung dari balik prasangka 

ada sekisah pasang mata 
menunduk tak berisi 
semerbak harum bunga padi 
dikasak kusuk jerangan pohon tebu 
berisik, berbisik-bisik 
bergema-gema kecil 


Sabtu, 19 Juli 2014

kita dan tertawa

teruntuk kawanku F

mungkin kita bukanlah orang terbaik
mungkin pula bukan manusia yang baik
tapi yakinlah kawan, setidaknya kita telah mencoba
untuk tidak meneteskan airmata karena
ketidakberuntungan

mungkin kita adalah yang paling sedikit
tertawa dalam denting yang berlalu
tapi yakinlah teman, bahwa setidaknya kita telah berjalan
pada titian setapak jalan yang baik
meski duri senantiasa menusuk
pada setiap asa kala kita menyibak duka

mungkin mereka terlihat indah
namun apakah benar begitu?
kitalah yang indah itu kawan
lihatlah, saat kita ingin melepaskan kekangan ini
ratusan bahkan ribuan orang lain justru menginginkannya
mereka menginginkan kehidupan kita
masihkah engkau tertunduk malu kawan
pada takdir dan jalan nasib yang diberikan Tuhan?
masihkah engkau merasakan luka pada hidup
yang memberi kita banyak keindahan?
masihkah wahai kawan
kita tak lagi riang dalam simfoni musik nan ritmis
yang kita mainkan malam-malam dahulu?

tenang saja. meski tak ada satu orang yang mendukungmu
kita masih bisa bersama untuk melawan
tenang saja, walau rintangan seolah tak berhenti menantang
kita habisi mereka bersama, sampai kita tiba
pada suatu titik dimana kita hanya akan tertawa
pada segala upaya dan selaksa yang dulu mendera kita

Tiba-tiba melankolis

aku tahu, waktu berjalan sangat lambat
menjentik detik demi detik
sama dengan menanti sebuah bayang dalam kegelapan
tak terlihat

aku tahu, kau memang masih disitu
tidak pergi karena jarak
tidak menghilang karena jam terbentang
masih ada di tempatmu yang dulu

aku tahu, kau mungkin tak pernah ingin menantiku
atau sekedar melabuhkan pandangan padaku
atau memicingkan mata pada belas wajah yang aku tampakkan
atau pada belas harap yang aku tawarkan

namun aku juga tahu,
sedikit demi sedikit tentang kenyataan itu
tentang kau yang tak kunjung mengikutiku
tentang kau yang hanya memandangku
dari ufuk kejauhan tak bertepi
tak mengapa aku baik-baik saja

tak mengapa kau tak berjalan denganku
tak mengapa kau memilih untuk berlalu
meski sudah banyak yang terlewat
meski sudah banyak berjejak-jejak harap
tak mengapa, aku akan baik-baik saja

bukan salahmu yang tak datang kepadaku
bukan salahmu yang seolah memberi madu
bukan, ini bukan salahmu
ini adalah kenyataan
yang harus aku terima

dan biarkan segala uraian akan jadi kenangan
dan biarkan segala harap tesisa jadi debu
dan biarkan semua susunan mimpi hancur menderu
karena aku akan tetap disini
meski tak (mungkin) menanti dirimu lagi

Jumat, 20 Juni 2014

wanita jalang?

Di jalan yang sunyi
Dia mendekam dengan sepi
Dan Semilir angin gelap tunjukan
Mata-mata yang dingin
Merajai satu demi satu rinci tubuh
Yang berfantasi sampai tinggal
dalam jeruji mimpi

wanita-wanita lain berpendar
saling melempar ejek sesama
satu berteriak, memekik dengan anggun
pada gerombolan pemuda berbadan gelap
dengan celana loreng, mereka todongkan senjata
pada wanita yang memekik tadi
agar mau diajak pergi, untuk melayani

dengan kaki yang disilangkan
juga rokok putih yang baru saja menyala
ia menyibak todongan senjata itu
‘kau pikir aku disini karena apa, hah?’
Seorang pemuda gelap berdiri tegap
Kaget dan mulai marah
‘wanita jalang, kau berani menahan kehendakku’
Dan wanita hanya diam, tapi sorot mata itu
Tak sedikitpun menampakkan ketakutan
‘sini kau, akan kuberi kau pelajaran’

Lelaki tadi bermuka masam dan merah
Sang wanita tergeret menuju aspal jalan
Ditariknya lengan lelaki, gagal
Dipukulnya tubuh atletis si lelaki
Percuma, ia makin menjadi
Wanita lengah, dan ia ditampar keras
Hingga berdarah permukaan wajah
Hingga tersungkur jauh beribu peluh

Hingga sendiri dan tak sadarkan diri

dunia kini

Dunia perputar setiap hari
Malam mengganti hari dan siang bersaji
Siang lelah dan malam mulai menyangga
Dan setiap lelaki hilir kesana kemari
Wanita tak kalau sudi, pergi lagi dan lagi
Inilah dunia kini

Semua tampak sibuk, saling melempar strategi
Agar datanglah itu keberuntungan
Yang dinamakan harta dan uang
Semua tampak saling sikut
Seolah hewan-hewan yang kelaparan
Yang tak makan berlama-lama hari
Inilah dunia kini

Dan jalan-jalan penuh kendaraan
Tanah-tanah penuh bangunan
Udara penuh asap menyesakkan
Inilah dunia kini, kawan

Semua terbit dengan teratur
Sekehendak apa yang sudah dibuat
Semua berderap denga nafas yang terukur
Pagi petang dengan menyisakan penat
Inilah dunia kini, sahabat 


Dan aku sungguh tidak sudi untuk itu
Aku adalah manusia bebas
Tapi sayangnya itu tidak mungkin
Untuk aku hindari
Dan sampai suatu saat nanti aku pula
Menjadi seperti mereka ini.

Dan inilah dunia kini, duhai penghampa sepi

Aku Lapar


Aku lapar.  Sepagi ini.
Aku lapar tak ada bendi
Aku lapar tak ada uang
Aku lapar tinggal perut berdetak

Aku lapar, uang tinggal sepeser
Aku lapar tak cukup hingga pekan depan
Aku lapar hanya mampu termenung
Aku lapar sarapan pagi berupa angin

Aku lapar. Aku lapar. Aku lapar.
Aku ingin makan. Ingin makan.ingin makan.
Dan aku lapar, ingin makan

Tapi aku tak sendiri
Diujung ada lelaki meringis semaput
Kulihat wajah dekil dengan rona pucat
Ia lapar. Ah iya, dia kelaparan.

Kuberjalan pergi, kutemui anak kecil
Ia berbaju sobek sana-sini,
Sesenggukan menahan derai air mata
Yang membentuk sungai kecil di wajahnya
Ternyata ia lapar. Ah iya, dia juga kelaparan.

Kini sudah tiga yang kelaparan.
Kususuri lagi jalan, karena tak ada uang.
Tak pula kupeduli pula mereka
Karena aku juga lapar.

Kulewati sebuah restoran
Dari jauh terlihat orang makan
Sementara aku juga lapar
Hasratku meninggi ingin sekali makan
Ada rasa meminta, namun hati merasa tak suka
Tetapi aku sudah terlanjur lapar
Ah sudahlah. Aku pergi saja

Tubuhku dingin, mataku agak memburam
Angin melengkapi semuanya
Aku masih lapar, dengan kaki yang bergetar
Kususuri lembah jalan
Sambil menegang perut
Kususuri awan hitam di atas kepala
Dengan mata sembab yang ingin makan
Aku lapar, ya Tuhan.



--- sajak ini bukan tentang aku, tetapi tentang mereka yang hidup di jalan, tak punya tempat tinggal dan selalu lapar. 

Dua buah tanya

Aku membawa segenggam harap dari balik asa
Membangunkan segala titah yang pernah  tenggelam
Bersama lautan duri yang tak pernah erlihat jelas

Aku menjinjing seikat mimpi ke dalam kain suci
Menerawang menjejaki satu demi satu titian fana
Hingga merasa akan melabuhkannya
pada suatu hari yang jingga

Aku menelusupi rimbunnya kecemasan
Menelisik bait demi bait dalam konstelasi murni
awan hitam yang perlahan kini telah memudar

bisakah aku membawa ‘kita’ menuju keabadian?
Mungkinkah aku membimbingmu menuju kesucian?
Tanyaku padamu

Dan kau hanya menjawab,
“Keindahan itu hanya ada pada apa yang aku temui,

dan bukan pada apa yang aku nanti”


Sendu


Bertahun lamanya aku mendaki
Sebuah titian yang tak pernah sampai
Pada titik atas yang berupa puncak

Sekian lama aku mencari
Sebuah jawaban atas pertanyaan
Yang sesungguhnya tak perlu aku pertanyakan

Dan disaat waktu terus bergulir
Perlahan seberkas cahaya pun muncul
Cahaya itu berwarna terang
Dengan sedikit bias yang tak terlalu
Menyilaukan mata

Aku tahu engkaulah cahaya itu
Cahaya yang tiba-tiba saja hadir
Dan aku tahu kapan pertama kalinya
Engkau menyapa keberadaanku

Hingga rindu perlahan mulai terpadu
Bertemu pada satu titik silang
Yang kemudian aku namakan sendu
Yang juga sekaligus jadi namamu
Meski kuyakin engkau tak akan pernah tahu

Sendu, bisikku pada angin yang melintas
Kelak akan membawanya
ke hadapan jendela rumahmu
menanti engkau untuk mendengar
seraya mengucapkan sebuah jawaban untukku

sendu, kadang aku titipkan rindu
pada dinginnya hujan
dan membiarkannya menyesap
memasuki sungai bawah tanah
dan berharap agar ia membawanya
menuju kediamanmu
agar kau gunakan air itu
untuk membasuh wajahmu itu

sendu, sekali waktu aku titipkan
berbagai macam perasaan yang ada padaku
kepada lirih-lirih doa yang kelu
dengan penuh harap, dan rasa rindu
yang tak mungkin lagi terbendung
sampai suatu saat nanti apakah kau akan mengetahui

atau justru pergi tanpa lagi memberi sebuah arti 

Selasa, 18 Maret 2014

Kesedihan

Kesedihan adalah kotanya hati
Tempat dimana ruang-ruang
Abadi kehidupan berkecamuk
Kesedihan bagaikan gurun
Tempat muara sejuta air mata
Yang tersimpan rapat dalam
Deru debu kepalsuan

Apakah kita masih menunggu
Sampai sudi kita untuk berkelambu?
Apakah kita masih akan menunggu
Sampai susah mendera kita?

Maka, katakanlah pada semesta;
Bahwa engkau akan membiarkan hujan
yang datang menyentuh pipimu
untuk membasuh segenap air mata dan
membawanya jauh menuju dasar bumi
untuk melebur bersama sungai bawah tanah
untuk menghilang dalam danau air gurun
agar hilang kesedihan itu
agar sirna kegalauan itu
seiring dengan mengeringnya

wajah dan hatimu dari kesedihan itu.

Jumat, 14 Maret 2014

Dalam jiwa yang sejati ada sebuah pengorbanan

Di keras jiwa yang membentang
Ada kelembutan yang tak tersiar
Di kesejatian sikap
Ada  kerelaan untuk berbagi
Dan di keheningan malam yang sunyi
Ada tangis doa pada tambatan hati

Ia membuang masa indah dalam kehidupannya
Untuk orang yang kadang menyiakannya
Ia meluaskan harapnya, menghapus mimpinya
Lantas melukiskan segala halnya  
Untuk mereka yang ia cinta

Ia diam bukan karena tidak peduli
Tapi ia diam karena pedulinya
Takut kalau bersalah kata
Takut akan melukai orang yang ia cinta
Maka  ia menjaganya, merenunginya
Sebagai sebuah harapan

Ia dingin, bukan karena inginnya
Melainkan karena ingin tambatannya menjadi kuat
Tak melulu hidup dalam tempurung
Ia menjalaninya, kerasnya jalanan,
Kerasnya tikaman dan usikan
Dari orang-orang yang melukainya
Dari orang-orang yang tak tahu
Betapa sesungguhnya semua dilakukan
Hanya untuk kebaikan masa depan
Mereka yang ia anggap patut untuk ada di depan

Pengorbanan pada yang bukan inginnya

Dingin itu bertiup lembut
disertai angin yang mengoles kulit
pada seseorang yang menaruhkan hidupnya
menuju sebuah pengabdian
perahu keluarga

Seseorang yang menghabiskan waktunya
membangun kesejukan rumah yang dalam
Seseorang yang bertahan di  ribuan masalah
yang datang bukan hanya padanya;  melainkan
pada apa yang diurusnya,
pada apa yang dilihatnya,
pada apa yang disaksikannya,
pada apa yang bukan menjadi
tanggung jawabnya,
pada jalan yang tak pernah
ditempuhnya,
ia lantas menyelesaikannya
merelakan sebagian asanya
untuk dibawa oleh kupu-kupu yang muncul
dan pergi dari balik pintu rumahnya

Dan hingga kini
dingin itu masih bertiup lembut, meski;
sesekali menggores luka pada kulit halusnya,
sesekali menelan tulang merapuhnya,
sesekali meringis karena linunya,
namun selalu ada;
seberkas senyum disana
yang mengulas dari balik hatinya yang ikhlas

Senin, 10 Maret 2014

Dengan dekap waktu kita menanti

Dengan dekap waktu kita menanti;
Menghinggapi deru samudara yang mekar
Dengan harap kita berbagi;
Setitik senja dipotong pelangi

Kita menanti
Sedalam rindu air
Yang mendekam dalam gurun pasir
Kita menyaji
Sebuah simfoni nyanyian
Pada daun-daun yang meranggas

Saat-saat kita menjadi hati yang terbagi
Kilaunya kemuning emas tak akan lagi
Menjadi jejak-jejak yang terekam
Saat-saat kita tiba pada tempat tertinggi
Menanti angin adalah sebuah ironi
Terkecuali kita sudah pergi
Sambil menjinjing kepak sayap
Ke sebuah negeri

Yang jauh tak berseri 

Rabu, 05 Maret 2014

Salahkah

Salahkah? pabila aku hanya seperti ini
Melakukan yang aku bisa demi negeri ini
Hanya dengan mencoba menjadi diri yang lebih baik
Lantas berkontribusi sekehendak yang aku ingin

Salahkah? Kalau aku tidaklah seperti kalian
Berteriak lantang di depan gedung-gedung
Menyebut satu persatu kejahatan pemerintah
Meneriaki nama demi nama dalam balutan
Gemanya suara yang sinis?

Salahkah kalau aku cuma bisa memberi
Apa yang aku sanggup beri?
Bersalahkah aku kalau aku tak ikut berperang dalam salah satu lapangan
Sementara sesungguhnya banyak sekali jenis dari lapangan itu?
Salahkah aku kalau aku hanya memilih beberapa satunya,
Yang itu tentu saja berbeda dengan yang kalian mau?
Yang kalian inginkan dari diriku?

Salahkah kalau aku melakukan pembelaan
Atas cemoohan yang kalian tautkan padaku
Tentang seberapa pengecutnya diriku
Karena tak ikut barisan yang kalian gaungkan?

salahkah aku kalau aku hanya mampu berkontribusi
dengan membantu mengembangkan salah satu usaha di sebuah desa?
Salahkah aku kalau aku hanya bisa berkontibusi dengan
Memperkerjakan beberapa orang dalam sebuah kegiatan yang aku lakukan?

Salahkah aku wahai manusia-manusia suci?
Salahkah aku wahai para pejuang dengan retorika memukau?
Salahkah aku wahai aktivis yang suka ‘beraksi’ dengan menghina kami
yang tidak mau ‘beraksi’ karena kami punya hal lain yang kami bisa lakukan?
Salahkah kami kalau kami memiliki jalan yang berbeda dengan kalian?
Salahkah kami kalau engkau terlanjur terkenal sehingga kami yang kurang
dikenal ini hanyalah dianggap sebagai sampah belaka?
Salahkah kami wahai kalian para dewa pembela kebenaran?

Karena setiap orang
punya cara sendiri
dalam memahami negeri ini
Karena setiap orang punya
Pemahaman sendiri tentang
Apa arti dari perjuangan
Karena setiap orang
Punya masing-masing cara
Untuk berbuat yang terbaik bagi negerinya

Entah akan engkau sebut apa tulisan ini
Apakah ini aporisma, pembelaan, bahkan
Omong kosong sekalipun engkau menyebutnya
Yang jelas, aku dan beberapa yang lain
Punya cara sendiri untuk mencintai negeri ini

Untuk membangun negeri ini

Selasa, 25 Februari 2014

Terbangnya Harapan

dari Y teruntuk W

jam di dinding sudah memudar
bersamaan dengan pendarnya waktu
yang aku tunggu pada berkas-berkas
dari biasnya mata air kesedihan

layaknya materi yang fana
semerbak rasa ini mungkin pula kan sirna
dimakan paruh burung
yang terbang membawa harapan
namun meninggalkan bulu-bulu kenangan
yang akan habis diterpa badai malam ini

Pesan Bisikan

dari P untuk Y

biru adalah langit yang tumbuh subur
dalam rimbunnya bisikan cinta
dan kelabu adalah derap langkah
yang menyibak luka
dari ketidakpastian

pada angin aku titipkan
seberkas rasa yang dalam
pada massa yang tak terdimensi
aku lingkarkan penuh
pengharapan

Jumat, 21 Februari 2014

Boneka

untuk N dari U

kita
tidak selamanya
hidup
dengan boneka,
yang lucu
dan
menggemaskan

Jumat, 31 Januari 2014

Kau Datang Lagi Ke Hati Ini

Untuk P dari N

Bias wajahmu dari sudut sembunyi
perlahan mampu menggoreskan lagi
rasa rindu yang dulu coba kubuang pergi
tapi kini kau kembali lagi
membawa bayangmu bersama
harum nafas semu
ke dalam memori ini

Ingin rasanya aku menjauh
tapi aku tak sanggup lagi berjalan
maka inilah caraku, menulis
mengukir kata demi kata
untuk menggambarkan rasa itu
padamu
hanya padamu

wahai engkau si berwajah manis
tegakah engkau membuatku begini
menahan segala rindu
yang tak kutahu kemana akan berujung
dan kemana akan kepastian rindu
yang aku pendam sekian lama itu
sungguh lisan bisa saja berbohong
tapi hati, hanya akan mengatakan
kejujuran

Selasa, 21 Januari 2014

Masihkah ada

Puisi dari A teruntuk R


Ia bagaikan dewi bumi
melata dalam dunia yang tidak dimengerti
Ia selalu mengulas senyum
menebar kehadiran yang dirindu
para pencari ulung

ketika jejak-jejak langkahnya berpadu
membiru bersama keanggunan mata jeli
seolah menghadirkan awan-awan yang teduh
dan ikut memayungi para pencari nirwana
yang haus akan kejernihan hati dan jiwa
seperti dirinya

sementara, ada sepasang mata yang menjaga jarak
mengumpulkan gumpal keberanian
untuk menjmput sang dewi bumi
namun ada rasa ringkih di hati
pada diri yang tak kunjung menjadi
manusia denga hati yang suci
seperti halnya dengan dirinya

akankah, akankah ada kesempatan itu?
akankah, akankah ada masa itu?
sang dewi terus saja menebar senyum
mengulasnya menjadi rentetan magnet
yang menarik para perindu nirwana
untuk datang menghampiri
baik untuk sekadar menyapa
atau menanya, tentang masa depan

dan dewi bumi, masih kah ada kesempatan untuk
dia mendekam dalam sepi,
masih adakah jalan untuk
dia menunggu dalam sunyi
sendiri dan menepi

Kelabu

kita, dalam memahami liku ini
selalu menderas dalam pekatnya air mata
kita, semenjak memata hingga melena
terpenuhi dengan kelabu yang semu

dan saat kerikil-kerikil tajam
menghentak lewat aksi-aksinya
kita hanya mampu menangis
atau tertawa karena gila
benar-benar tidak mengerti
kenapa bisa terjadi

kita, sewaktu kaki-kaki mencengkram
hanya mampu menggerutu dalam cemas
saat tangan-tangan menjamah api
dan tak berdaya dalam kehampaan
menyisakan abu kesedihan

dan waktu jurang-jurang curam membentang
kita hanya bisa terhenyak dan diam
semantara tanah-tanah mulai berlongsor
siap memangsa seonggok daging
yang mulai berputus asa

dan sampai tiba itu senja
kita masih diam mematung
melupa segala penat
melempar segala kejut
meranggas menanti aral
yang akan membawa
menuju kata pengantar

*Januari 2014, di bawah asap semesta, dan di balik misteri kehampaan