orang-orang pendukung menolak lupa
kini sudah berkuasa
namun aku ragu dengan mereka
kalau mereka akan konsisten tetap meneriakkan
"menolak lupa"
kini mereka mulai amnesia
bahwa ada bagian mereka
yang menjadi pelanggar
hak asasi manusia
apa kabarnya pembunuhan munir, kakanda?
di zaman siapakah kematian munir itu ada, kakanda?
apakah ada pendukung anda
yang kita tahu
terlibat persitiwa itu, kakanda?
Kamis, 18 September 2014
Ode seorang anak jalanan
Yadi, itulah namanya
ia hanya anak kecil biasa
yang dilahirkan dari rahim ibu, yang adalah seorang PSK
ayahnya banyak, karena sang ibu bingung menentukan
yang mana yang menanam benih dirahimnya
makanya hingga kini
yadi hanya merasa punya ibu tanpa bapak
Yadi, masih 7 tahun usianya
tapi gaya bicaranya luar biasa
dari binatang buas sampai binatang jinak
fasih sudah ia menyebutnya
jangan heran, jangan heran kawan
Yadi, kata pemerintah ia anak jalanan
makanya ia dipelihara oleh negara
sesuai undang-undang empat lima katanya
makanya ia dipelihara oleh negara
untuk tetap hidup dalam dunia derita
karena memang itu perintah negara
Yadi, pagi-pagi sudah mengamen
sesekali ia juga meminta-minta
memelas dengan penuh iba
kata pemerintah sih ini
namanya bisnis afeksi, katanya
tapi Yadi tidak peduli
baginya hidup hari ini
harus juga dengan perjuangan saat ini
bagi Yadi, makanan hari ini
adalah perjuangan yang ia habiskan
dengan segala usia dan tenaga
cuih, omong kosong dengan belajar
kalau untuk makan saja ia terpaksa kurang ajar
seperti menyisipkan lima jari di saku
seorang pelajar, yang kalau ketahuan
ia dihajar dan juga ditampar habis-habisan
ohh inikah hidup, Tuhan
ia hanya anak kecil biasa
yang dilahirkan dari rahim ibu, yang adalah seorang PSK
ayahnya banyak, karena sang ibu bingung menentukan
yang mana yang menanam benih dirahimnya
makanya hingga kini
yadi hanya merasa punya ibu tanpa bapak
Yadi, masih 7 tahun usianya
tapi gaya bicaranya luar biasa
dari binatang buas sampai binatang jinak
fasih sudah ia menyebutnya
jangan heran, jangan heran kawan
Yadi, kata pemerintah ia anak jalanan
makanya ia dipelihara oleh negara
sesuai undang-undang empat lima katanya
makanya ia dipelihara oleh negara
untuk tetap hidup dalam dunia derita
karena memang itu perintah negara
Yadi, pagi-pagi sudah mengamen
sesekali ia juga meminta-minta
memelas dengan penuh iba
kata pemerintah sih ini
namanya bisnis afeksi, katanya
tapi Yadi tidak peduli
baginya hidup hari ini
harus juga dengan perjuangan saat ini
bagi Yadi, makanan hari ini
adalah perjuangan yang ia habiskan
dengan segala usia dan tenaga
cuih, omong kosong dengan belajar
kalau untuk makan saja ia terpaksa kurang ajar
seperti menyisipkan lima jari di saku
seorang pelajar, yang kalau ketahuan
ia dihajar dan juga ditampar habis-habisan
ohh inikah hidup, Tuhan
Senja lusuh di tengah kota
kulihat kakek tua itu; tersenyum
ia mengulasnya dari balik bilik angkot hijau
sambil memamerkan poster bergambar
wanita cantik, pemudi model masa kini
dari balik senyumnya pula aku lihat
segenggam memori tentang masa lalu
dengan mengecap duri kenangan akan seorang kekasih
yang manis dan menyenangkan
persis seperti pemudi model masa kini tadi
di depannya duduk seorang ibu
penuh peluh membawa barang dagangan
barangkali ia baru pulang dari pasar
seutas senyum tipis mengambang di bibirnya
yang penuh gincu murahan
namun tulus
lain lagi sang sopir, ia memancarkan wajah panik
mungkin setoran masih hari ini belum terkejar
atau mungkin anak sedang butuh banyak biaya
atau mungkin istri merajuk minta dibelikan berlian
makanya ia getir, kepalanya miring sebelah
makanya ia sempat pula melontarkan marah
pada anak sekolah yang tak jadi naik angkotnya
dan pengamen di bus Damri itu
berlagak menyeramkan dengan membawa
gitar tua yang sudah mulai sompral
ia lalu bernyanyi dengan tidak merdu
memandang kesana kesini dari balik kacamata hitam
tanda ia sedang bergaya, juga mungkin merasa minder
karena tak ingin identitasnya diketahui publik
maklum selama ini ia kan playboy, masa mengamen
lalu dimana aku? aku ada disitu
disebuah tempat yang tak perlu kau tahu
aku duduk sambil memandang mereka
aku yang baru saja mengutuki nasib
karena belum diterima bekerja
aku yang sempat berkicau bahwa hidup ini keras
sungguh tak ada apa-apanya saat aku bandingkan
dengan kehidupan mereka yang aku lihat
pulang sore, mungkin pergi saat adzan subuh belum berkumandang
membawa barang berat ke berbagai tempat
meneteskan keringat mengantar penumpang pulang pergi
menggesekkan pick gitar dengan suaranya yang parau
sampai hari lelah, dengan hidup yang belum juga berbaik hati
oh Tuhan... maafkan.. sungguh maafkan aku
yang tak pernah bersungguh-sungguh
mensyukuri segala nikmatmu., sungguh maafkan aku Tuhan..
tiada apapun disini kecuali karena karuniamu
terima kasih Tuhan
ia mengulasnya dari balik bilik angkot hijau
sambil memamerkan poster bergambar
wanita cantik, pemudi model masa kini
dari balik senyumnya pula aku lihat
segenggam memori tentang masa lalu
dengan mengecap duri kenangan akan seorang kekasih
yang manis dan menyenangkan
persis seperti pemudi model masa kini tadi
di depannya duduk seorang ibu
penuh peluh membawa barang dagangan
barangkali ia baru pulang dari pasar
seutas senyum tipis mengambang di bibirnya
yang penuh gincu murahan
namun tulus
lain lagi sang sopir, ia memancarkan wajah panik
mungkin setoran masih hari ini belum terkejar
atau mungkin anak sedang butuh banyak biaya
atau mungkin istri merajuk minta dibelikan berlian
makanya ia getir, kepalanya miring sebelah
makanya ia sempat pula melontarkan marah
pada anak sekolah yang tak jadi naik angkotnya
dan pengamen di bus Damri itu
berlagak menyeramkan dengan membawa
gitar tua yang sudah mulai sompral
ia lalu bernyanyi dengan tidak merdu
memandang kesana kesini dari balik kacamata hitam
tanda ia sedang bergaya, juga mungkin merasa minder
karena tak ingin identitasnya diketahui publik
maklum selama ini ia kan playboy, masa mengamen
lalu dimana aku? aku ada disitu
disebuah tempat yang tak perlu kau tahu
aku duduk sambil memandang mereka
aku yang baru saja mengutuki nasib
karena belum diterima bekerja
aku yang sempat berkicau bahwa hidup ini keras
sungguh tak ada apa-apanya saat aku bandingkan
dengan kehidupan mereka yang aku lihat
pulang sore, mungkin pergi saat adzan subuh belum berkumandang
membawa barang berat ke berbagai tempat
meneteskan keringat mengantar penumpang pulang pergi
menggesekkan pick gitar dengan suaranya yang parau
sampai hari lelah, dengan hidup yang belum juga berbaik hati
oh Tuhan... maafkan.. sungguh maafkan aku
yang tak pernah bersungguh-sungguh
mensyukuri segala nikmatmu., sungguh maafkan aku Tuhan..
tiada apapun disini kecuali karena karuniamu
terima kasih Tuhan
Senin, 01 September 2014
Titik tinta putih
Masih dalam kejapan mata
juga singgah bersama murka
adagium-adagium adalah palsu
dan mata memandang cuma derita
saatnya, saatnya kita memasung
bersama kelamnya sesajian di kuil
berpergian sambil menertawakan
dari keberingasan pasang telinga
yang bersembunyi di balik
hitamnya sudut pra sangka
dan gemerlaplah, bergemerincinglah
daun-daun coklat yang merekah
sampai meraung dan terjatuh
melepuh, dengan luka
dengan seberkas titik tinta putih
dan rasa simpati pada kekasih
juga singgah bersama murka
adagium-adagium adalah palsu
dan mata memandang cuma derita
saatnya, saatnya kita memasung
bersama kelamnya sesajian di kuil
berpergian sambil menertawakan
dari keberingasan pasang telinga
yang bersembunyi di balik
hitamnya sudut pra sangka
dan gemerlaplah, bergemerincinglah
daun-daun coklat yang merekah
sampai meraung dan terjatuh
melepuh, dengan luka
dengan seberkas titik tinta putih
dan rasa simpati pada kekasih
Langganan:
Komentar (Atom)