tidak setiap mata berakhir setia
tidak setiap masa bertengger dalam rasa yang sama
hadirnya cinta bukanlah perkara duka nestapa
tapi juga bukan mendayu siulan merah purnama
ada jarak saat kita berdiri sendiri
ada pula cemas saat tambatan tak lagi dikail
maka biarkan saja kompas yang menjadi pacu
biarkan hitam gelap awan yang kau rasa tinggal kenangan
mengecam diri tak akan pernah menyisakan kebenaran
dan setiap jiwa tak selalu bertemu masa
namun mungkin ada satu jiwa yang datang tepat waktunya
dia pernah terlambat, tapi sudah janji untuk merekat
bersama jiwa sendirimu, yang dulu sering kau keluhkan
di setiap nafas detik kehidupan yang kau tuju
Selasa, 27 Agustus 2013
Senin, 19 Agustus 2013
Kulihat Dia
Kulihat seorang menjejak duka
dalam pecutan dina kehidupan
Melamun dalam pilunya sore,
menerka keagungan malam yang akan datang
Dan akupun menatap dengan tanpa
ambisi, layaknya apa yang jamak kulakukan selama ini
Lalu aku putuskan untuk menelusuri
tiap jengkal suara parau dari surau-surau di ujung jalan ini
Ada rasa ingin mengasihani, tapi aku sadar aku tak pantas untuk melakukannya
Begitu pula rasa ingin tahu, mendadak aku bisu takut kalau ia malah ikut bisu
Lantas aku pun tak bergegas untuk memberanikan diri, menepuk bahu atau mengurai senyum baginya
Menyegerakan menutup pintu ragu dan ikut berambisi duduk bersamanya
Walau aku tahu itu hanya palsu, aku tak akan sampai disitu
Ada rasa ingin mengasihani, tapi aku sadar aku tak pantas untuk melakukannya
Begitu pula rasa ingin tahu, mendadak aku bisu takut kalau ia malah ikut bisu
Lantas aku pun tak bergegas untuk memberanikan diri, menepuk bahu atau mengurai senyum baginya
Menyegerakan menutup pintu ragu dan ikut berambisi duduk bersamanya
Walau aku tahu itu hanya palsu, aku tak akan sampai disitu
Ya, tak ada satupun dari kita yang tak berluka
Bahkan dalam luka lama sekalipun
Yang bahkan tak pernah pula bisa hilang
Dari coretan-soretan makna yang telah tersilang, seketika
bisa saja menjulang
Menguapkan sejenak impian-impian baru ataupun kenyataan yang
sedang dan sebentar berlalu
Sungguh begitu pula ambisi untuk menantang, akan lenyap saat diri mengenang
Sungguh begitu pula ambisi untuk menantang, akan lenyap saat diri mengenang
Saat simpul-simpul
mengena seuntai tali yang hampir tercekat
Ketika buah-buah
pkiran hangus digerogoti tampilan-tampilan memuakkan
Habislah sudah kita, tertinggal rasa yang menyesap masuk dalam pusaran air hangat yang tak terkepung, tak lagi terbendung
Habislah sudah kita, tertinggal rasa yang menyesap masuk dalam pusaran air hangat yang tak terkepung, tak lagi terbendung
Suatu ketika
Suatu ketika, saat simfoni kepedihan mulai berurai
Mata tak lagi mampu menatap
Hati tak lagi menancap, pun pikiran pula mulai menyusut
Ada rintihan pilu yang tak mampu dijelaskan
Ada hempasan nafas yang tak bisa diterjemahkan
Ada tetesan air yang tak mampu dibendung
Dan ketika pagi harap tak lagi
menjejak
Ketika awan putih berganti menjadi
hitam
Dan semua kenangan menjejak dalam
titian curam
Maka ia tinggal menyesap, dalam
Bulir-bulir daun yang tinggal
separuh
Menandakan tepian luka yang masih
bernanah
Kita yang memang
pernah sekali bersua
Dengan lembayung sore di kala senja
Mulai sedikit demi sedikit melupa
Mengeraskan hati, menyisakan memori
Dan kita pun telah benar-benar berdusta
Bahwa kita tak pernah bersua dengannya
Bak de javu di pagi buta Sirna semesta,
Alam raya melepas energi saka, suka atau tidak suka
Langganan:
Komentar (Atom)