Selasa, 27 Agustus 2013

Tidak Setiap Jiwa

tidak setiap mata berakhir setia
tidak setiap masa bertengger dalam rasa yang sama
hadirnya cinta bukanlah perkara duka nestapa
tapi juga bukan mendayu siulan merah purnama

ada jarak saat kita berdiri sendiri
ada pula cemas saat tambatan tak lagi dikail
maka biarkan saja kompas yang menjadi pacu
biarkan hitam gelap awan yang kau rasa tinggal kenangan
mengecam diri tak akan pernah menyisakan kebenaran

dan setiap jiwa tak selalu bertemu masa
namun mungkin ada satu jiwa yang datang tepat waktunya
dia pernah terlambat, tapi sudah janji untuk merekat
bersama jiwa sendirimu, yang dulu sering kau keluhkan
di setiap nafas detik kehidupan yang kau tuju


Senin, 19 Agustus 2013

Kulihat Dia

Kulihat seorang menjejak duka dalam pecutan dina kehidupan
Melamun dalam pilunya sore, menerka keagungan malam yang akan datang
Dan akupun menatap dengan tanpa ambisi, layaknya apa yang jamak kulakukan selama ini
Lalu aku putuskan untuk menelusuri tiap jengkal suara parau dari surau-surau di ujung jalan ini

Ada rasa ingin mengasihani, tapi aku sadar aku tak pantas untuk melakukannya
Begitu pula rasa ingin tahu, mendadak aku bisu takut kalau ia malah ikut bisu
Lantas aku pun tak bergegas untuk memberanikan diri, menepuk bahu atau mengurai senyum baginya
Menyegerakan menutup pintu ragu dan ikut berambisi duduk bersamanya 
Walau aku tahu itu hanya palsu, aku tak akan sampai disitu

Ya, tak ada satupun dari kita yang tak berluka
Bahkan dalam luka lama sekalipun
Yang bahkan tak pernah pula bisa hilang
Dari coretan-soretan makna yang telah tersilang, seketika bisa saja menjulang
Menguapkan sejenak impian-impian baru ataupun kenyataan yang sedang dan sebentar berlalu

Sungguh begitu pula ambisi untuk menantang, akan lenyap saat diri mengenang
Saat simpul-simpul mengena seuntai tali yang hampir tercekat
Ketika buah-buah pkiran hangus digerogoti tampilan-tampilan memuakkan
Habislah sudah kita, tertinggal rasa yang menyesap masuk dalam pusaran air hangat yang tak terkepung, tak lagi terbendung

Suatu ketika

Suatu ketika, saat simfoni kepedihan mulai berurai
Mata tak lagi mampu menatap
Hati tak lagi menancap, pun pikiran pula mulai menyusut
Ada rintihan pilu yang tak mampu dijelaskan
Ada hempasan nafas yang tak bisa diterjemahkan
Ada tetesan air yang tak mampu dibendung
Dan ketika pagi harap tak lagi menjejak
Ketika awan putih berganti menjadi hitam
Dan semua kenangan menjejak dalam titian curam
Maka ia tinggal menyesap, dalam
Bulir-bulir daun yang tinggal separuh
Menandakan tepian luka yang masih bernanah
Kita yang memang pernah sekali bersua
Dengan lembayung sore di kala senja
Mulai sedikit demi sedikit melupa
Mengeraskan hati, menyisakan memori
         Dan kita pun telah benar-benar berdusta
         Bahwa kita tak pernah bersua dengannya
         Bak de javu di pagi buta Sirna semesta,
         Alam raya melepas energi saka, suka atau tidak suka