Aku
lapar. Sepagi ini.
Aku lapar
tak ada bendi
Aku lapar
tak ada uang
Aku lapar
tinggal perut berdetak
Aku lapar,
uang tinggal sepeser
Aku lapar
tak cukup hingga pekan depan
Aku lapar
hanya mampu termenung
Aku lapar
sarapan pagi berupa angin
Aku lapar.
Aku lapar. Aku lapar.
Aku ingin
makan. Ingin makan.ingin makan.
Dan aku
lapar, ingin makan
Tapi aku
tak sendiri
Diujung ada
lelaki meringis semaput
Kulihat
wajah dekil dengan rona pucat
Ia lapar.
Ah iya, dia kelaparan.
Kuberjalan
pergi, kutemui anak kecil
Ia berbaju
sobek sana-sini,
Sesenggukan
menahan derai air mata
Yang
membentuk sungai kecil di wajahnya
Ternyata ia
lapar. Ah iya, dia juga kelaparan.
Kini sudah
tiga yang kelaparan.
Kususuri
lagi jalan, karena tak ada uang.
Tak pula
kupeduli pula mereka
Karena aku
juga lapar.
Kulewati
sebuah restoran
Dari jauh
terlihat orang makan
Sementara
aku juga lapar
Hasratku
meninggi ingin sekali makan
Ada rasa
meminta, namun hati merasa tak suka
Tetapi aku
sudah terlanjur lapar
Ah sudahlah.
Aku pergi saja
Tubuhku
dingin, mataku agak memburam
Angin
melengkapi semuanya
Aku masih
lapar, dengan kaki yang bergetar
Kususuri
lembah jalan
Sambil
menegang perut
Kususuri
awan hitam di atas kepala
Dengan mata
sembab yang ingin makan
Aku lapar,
ya Tuhan.
--- sajak
ini bukan tentang aku, tetapi tentang mereka yang hidup di jalan, tak punya
tempat tinggal dan selalu lapar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar