Jumat, 20 Juni 2014

Aku Lapar


Aku lapar.  Sepagi ini.
Aku lapar tak ada bendi
Aku lapar tak ada uang
Aku lapar tinggal perut berdetak

Aku lapar, uang tinggal sepeser
Aku lapar tak cukup hingga pekan depan
Aku lapar hanya mampu termenung
Aku lapar sarapan pagi berupa angin

Aku lapar. Aku lapar. Aku lapar.
Aku ingin makan. Ingin makan.ingin makan.
Dan aku lapar, ingin makan

Tapi aku tak sendiri
Diujung ada lelaki meringis semaput
Kulihat wajah dekil dengan rona pucat
Ia lapar. Ah iya, dia kelaparan.

Kuberjalan pergi, kutemui anak kecil
Ia berbaju sobek sana-sini,
Sesenggukan menahan derai air mata
Yang membentuk sungai kecil di wajahnya
Ternyata ia lapar. Ah iya, dia juga kelaparan.

Kini sudah tiga yang kelaparan.
Kususuri lagi jalan, karena tak ada uang.
Tak pula kupeduli pula mereka
Karena aku juga lapar.

Kulewati sebuah restoran
Dari jauh terlihat orang makan
Sementara aku juga lapar
Hasratku meninggi ingin sekali makan
Ada rasa meminta, namun hati merasa tak suka
Tetapi aku sudah terlanjur lapar
Ah sudahlah. Aku pergi saja

Tubuhku dingin, mataku agak memburam
Angin melengkapi semuanya
Aku masih lapar, dengan kaki yang bergetar
Kususuri lembah jalan
Sambil menegang perut
Kususuri awan hitam di atas kepala
Dengan mata sembab yang ingin makan
Aku lapar, ya Tuhan.



--- sajak ini bukan tentang aku, tetapi tentang mereka yang hidup di jalan, tak punya tempat tinggal dan selalu lapar. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar