Rabu, 03 Desember 2014

di depan kampus rawamangun



di depan kampus rawamangun
siang tak lagi soal terik,
juga awan, yang mulai membisik
menyuruh alam untuk mendukung
mendung
dan deru serta debu kuda-kuda
menjengkelkan
setelah itu alam menyisakan
lelaki tua yang duduk di tepi
terpojok sunyi pada sebuah
gerobak hijau yang lusuh.

ia menunduk, menatap
kotoran-kotoran yang menempel
di kaki, juga koreng dan boroknya
yang berdarah nanah

entah apa yang dipikirkannya,
ia terus saja merunduk
seolah dunia tak lagi
menarik baginya. seolah
hidup hanya formalitas
belaka. "percuma" itu mungkin katanya.
"aku lapar, tak ada yang peduli. aku
tidur tak ada yang mengatur. aku
menggelandang, tak ada yang
menggalang bantuan. hidup hanya formalitas
dan rutinitas belaka." katanya. tentu dalam
bahasa dirinya yang apa adanya.

dan jalan ini ramai, kataku.
tapi entahlah di hati kakek tua itu.
aku kasihan. ia terlihat semakin merunduk.
aku tertegun, wajahnya mulai pucat
dalam bingkai kulit keriput hitam cokelat.
aku terperanjat.
----------------------------------------------------------------------
"hai kau pengamat, apa hendak kau perbuat?"
kata seorang penanya.
"apa yang aku perbuat?" jawabku. "apa
yang aku perbuat, hanyalah menulis.
menuliskan tentang kakek itu".
"celaka. kau hanya diam saja, hah?"
"hmm.. tidak juga" jawabku.
"lantas apa yang kau lakukan untuk kakek itu?"
ia bertanya lagi, agak keras, menatap seolah aku bodoh dan acuh
"baiklah aku jawab," kataku.
"apapun yang aku lakukan untuk kakek itu,
bukanlah urusanmu!"
--------------------------------------------------------------------------
aku pun berlalu dari tempat itu
menggiring tubuh menuju asal aku bermula
pada susunan waktu yang semakit sempit
dan pergi dengan perlahan

saat aku menoleh ke belakang
kulihat gerobak itu telah lenyap



Tidak ada komentar:

Posting Komentar