Kamis, 19 Desember 2013

Ode PNS (Pegawai Negeri Sipil)

Ribuan orang tiap tahun mengantri
mengambil formulir melempar berkas
peluangnya kecil,yang ingin banyak
akhirnya sana sini ambil bagian
ada yang menyodok, ada yang menyuap
dan adapula yang minta tolong kerabat
semuanya sama, sama-sama ingin jadi PNS

Gaji kecil, modal masuknya besar
memang ada uang lauk pauk, tapi di rumah justru jarang makan lauk pauk 
kalau ada itupun tidak mewah, paling hanya tempe dan tahu
tapi itu juga harus di syukuri, Alhamdulillah
namanya juga jadi PNS

Sudah mulai menua, anak tanggungan masih tiga
satu masih SMP, satu masih SD dan satu lagi 
masih di gendong ibunya
pusing tujuh keliling karena uang
lalu coba keliling keliling cari tambahan
sama, malah makin pusing
ah, memang harus begitu, saya kan PNS katanya

Akhirnya pensiun tiba juga
anak pertama cuma sampai SMA
akhirnya ia memilih kerja 
daripada hidup menjadi beban orang tuanya
maafkan bapak nak, katanya. bapak hanya seorang PNS

Anaknya yang kedua, gelisah sana gelisah sini 
takut kalau tidak bisa lanjut sekolah
memang sih sekolah tidak bayar, tapi memang buku dan seragam tidak pakai uang
lanjutkan sekolah nak, nanti bapak tambahi lagi uang sekolah mu gumamnya
dari uang pensiunan PNS

Adiknya yang kecil sudah mau masuk TK
tapi kata ibunya lebih baik kalau tidak 
nanti langsung masuk SD  saja katanya
yang penting kini bisa tulis dan membaca
kalau sudah besar, bapak ingin kamu jadi dokter saja rintihnya 
sedikit menyesal jadi PNS

Ya,inilah potret PNS di negeri ini
Hidup dalam kesempitan 
Gaji yang tak seberapa, namun penuh pengabdian
Ya, inilah ode seorang PNS memang
Tidak banyak yang bisa dilakukan
Tapi bagi mereka inilah jalan kejujuran 
tidak seperti mereka yang di atas (mereka, penguasa yang berkehendak seenaknya)
yang memiskinkan bangsanya sendiri karena korupsi 
yang memunculkan kesengsaraan karena ambisi pribadi 
yang menindas bangsa sendiri, coklat lawan coklat
cih, betapa kejinya mahluk-makhluk seperti mereka ini

*Ayahku seorang PNS. dan aku bangga kepadanya. 


Maaf

Maaf. hanya itu kata yang bisa aku ungkap
Maaf. untuk sebuah cerita yang mungkin tidak sampai
Maaf. bagi segala harap yang dulu pernah ada

tidak mengapa, bahkan engkau boleh pergi sekarang
aku tahu, engkau berhak untuk bahagia
karena bisa saja denganku, engkau malah bersedih
karena bisa saja denganku engkau jadi menderita

Tidak mengapa, kalau engkau mau membawa hatimu itu menjauh
aku baik-baik saja disini
jika hanya dengan itu kau bisa lebih baik
jika dengan segala yang ada, kau tidak bisa menjadi lebih indah

dan suatu saat apabila kau terpaksa merindukanku
katakanlah rindumu itu dengan lirih
pada angin yang melintas dihadapanmu
hingga mudah-mudahan ia mampu membawanya
sampai terdengar ke genderang telingaku

dan apabila nanti kau terpaksa ingin melihatku
kau buka saja memori samar yang ada dalam pikiranmu itu
atau temui saja aku dalam mimpi-mimpimu
mudah-mudahan dengan begitu menjadi lebih mudah

atau jika saja kamu ingin menangis
maka tumpahkan saja air mata itu pada tanah sekitarmu
biarkan ia meresap ke tanah, menyesap
mungkin suatu saat nanti ia akan ikut menguap bersama awan
dan pergi membasahi tubuhku yang terkena hujan
biar aku bisa merasakan tangismu
biar aku bisa merasakan rindumu

Maka biarkanlah aku begini
biarkan aku yang menanggung semua hal
yang sudah jadi jalan
seperti halnya jalur aspal yang tertakdir untuk dinjak-injak
maka itulah perumpamaan aku
tidak mengapa, memang sudah jalannya
aku tak akan mengeluh lagi.
aku tak akan mengeluh lagi,
sama seperti yang dilakukan oleh jalur aspal tadi
yang pantang untuk mengatakan hal itu.

Sabtu, 07 Desember 2013

Perjumpaanku

dalam setiap perjumpaanku dengannya
aku mendapati diriku bertatap
saling memandang dengan kekakuan yang dingin,
memandang raut wajahnya yang juga sunyi

ketika perjumpaan yang tak sengaja terjadi
aku menelusuri garis-garis warna wajahnya
mencoba menebak-nebak tebal tubuhnya
apakah mungkin ia memiliki lekuk tubuh yang bagus?
lurus ataukah bengkok? ingin rasanya segera aku menyentuhnya

saat detik demi detik berjalan, menyongsong waktu perjumpaan
aku mendapati sebuah rasa yang indah
sebuah perasaan yang tak bisa diungkapkan begitu saja
bahkan adakalanya rasa itu sulit untuk coba diterjemahkan
aku rasa tidak ada bahasa apapun yang mampu membuatnya
menjadi lebih mudah untuk dimengerti

dan sampai suatu ketika aku sudah benar-benar berada di dekatnya
hati ini menjadi lebih berdebar. degup jantung tiba-tiba menjadi cepat
aku rasakan ada jejak-jejak gugup yang mendera. mungkinkah?

akhirnya aku dekatkan lenganku pada wajahnya
ah, terasa halus sekali
kemudian aku coba sentuh dengan perlahan
punggung belakang sisi tubuhnya
ternyata sama, kulitnya begitu halus

lantas akupun berkata "sesungguhnya engkaulah yang aku cari selama ini"
tapi ternyata ia diam saja. tak membalas dengan satu katapun
mungkinkah ia bisu? mungkinkah?

dari jauh aku mendengar sebuah suara
seperti raungan yang terdengar saling bersahutan
sesekali aku dengar suara itu semakin jelas
ya, aku bisa merasakannya. itu adalah suara yang memanggil namaku
mungkinkah? mungkinkah mereka yang memanggilku?

"hai, aku ingin sekali berkenalan denganmu,
maukah kau berjabat tangan denganku" ia bertanya

aku pun hanya terdiam. terasa mulutku terbuka,
sampai tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku
mungkinkah kalian? mungkinkah kalian,
wahai buku-buku  di perpustakaan rumahku?

*Sambil duduk-duduk di samping rak buku





Kamis, 05 Desember 2013

Bulan Merah Diatas Jatinangor II

Bulan merah diatas jatinangor
menetap kaku diatas gunung geulis
disini aku, menjejak hitam dalam rindu semesta
menerawang percik-percik kehidupan dalam sendu

ketika cawan-cawan mata air bercucuran
jatuh melembab hingga tepian
aku tetap merekam sampai sawan
sesekali mendengus risau sampai kemilau
sesak-sesak nafas yang tiada terdengar
lagi merasuk ke sentuhan malam

Bulan merah diatas jatinangor
aku merajai diri sendiri
atas perilaku absurd yang seirngkali
aku dapati melepaskan tanggung jawab
atas perbuatannya sendiri
yang amat gemar memaku amarah
pada pihak-pihak yang tidak bersalah

kini aku susuli ia yang melarikan diri
masuk ke dalam konstelasi terdalam
hati yang pada beberapa waktu
tidak bisa dimasuki sembarang diri
menindak identititas palsu
yang memaksa tuk masuk dan
mengacak-acak pecahan air mata
pada tetes-tetes daun di malam hari

Bulan merah diatas jatinangor
aku menunggumu dalam diam
membasahi kening dengan keringat juang
hingga aku akan mendekatimu
mendekapmu
dalam ruang imajinasi
yang penuh kekejaman