Untuk P dari N
Bias wajahmu dari sudut sembunyi
perlahan mampu menggoreskan lagi
rasa rindu yang dulu coba kubuang pergi
tapi kini kau kembali lagi
membawa bayangmu bersama
harum nafas semu
ke dalam memori ini
Ingin rasanya aku menjauh
tapi aku tak sanggup lagi berjalan
maka inilah caraku, menulis
mengukir kata demi kata
untuk menggambarkan rasa itu
padamu
hanya padamu
wahai engkau si berwajah manis
tegakah engkau membuatku begini
menahan segala rindu
yang tak kutahu kemana akan berujung
dan kemana akan kepastian rindu
yang aku pendam sekian lama itu
sungguh lisan bisa saja berbohong
tapi hati, hanya akan mengatakan
kejujuran
Jumat, 31 Januari 2014
Selasa, 21 Januari 2014
Masihkah ada
Puisi dari A teruntuk R
Ia bagaikan dewi bumi
melata dalam dunia yang tidak dimengerti
Ia selalu mengulas senyum
menebar kehadiran yang dirindu
para pencari ulung
ketika jejak-jejak langkahnya berpadu
membiru bersama keanggunan mata jeli
seolah menghadirkan awan-awan yang teduh
dan ikut memayungi para pencari nirwana
yang haus akan kejernihan hati dan jiwa
seperti dirinya
sementara, ada sepasang mata yang menjaga jarak
mengumpulkan gumpal keberanian
untuk menjmput sang dewi bumi
namun ada rasa ringkih di hati
pada diri yang tak kunjung menjadi
manusia denga hati yang suci
seperti halnya dengan dirinya
akankah, akankah ada kesempatan itu?
akankah, akankah ada masa itu?
sang dewi terus saja menebar senyum
mengulasnya menjadi rentetan magnet
yang menarik para perindu nirwana
untuk datang menghampiri
baik untuk sekadar menyapa
atau menanya, tentang masa depan
dan dewi bumi, masih kah ada kesempatan untuk
dia mendekam dalam sepi,
masih adakah jalan untuk
dia menunggu dalam sunyi
sendiri dan menepi
Ia bagaikan dewi bumi
melata dalam dunia yang tidak dimengerti
Ia selalu mengulas senyum
menebar kehadiran yang dirindu
para pencari ulung
ketika jejak-jejak langkahnya berpadu
membiru bersama keanggunan mata jeli
seolah menghadirkan awan-awan yang teduh
dan ikut memayungi para pencari nirwana
yang haus akan kejernihan hati dan jiwa
seperti dirinya
sementara, ada sepasang mata yang menjaga jarak
mengumpulkan gumpal keberanian
untuk menjmput sang dewi bumi
namun ada rasa ringkih di hati
pada diri yang tak kunjung menjadi
manusia denga hati yang suci
seperti halnya dengan dirinya
akankah, akankah ada kesempatan itu?
akankah, akankah ada masa itu?
sang dewi terus saja menebar senyum
mengulasnya menjadi rentetan magnet
yang menarik para perindu nirwana
untuk datang menghampiri
baik untuk sekadar menyapa
atau menanya, tentang masa depan
dan dewi bumi, masih kah ada kesempatan untuk
dia mendekam dalam sepi,
masih adakah jalan untuk
dia menunggu dalam sunyi
sendiri dan menepi
Kelabu
kita, dalam memahami liku ini
selalu menderas dalam pekatnya air mata
kita, semenjak memata hingga melena
terpenuhi dengan kelabu yang semu
dan saat kerikil-kerikil tajam
menghentak lewat aksi-aksinya
kita hanya mampu menangis
atau tertawa karena gila
benar-benar tidak mengerti
kenapa bisa terjadi
kita, sewaktu kaki-kaki mencengkram
hanya mampu menggerutu dalam cemas
saat tangan-tangan menjamah api
dan tak berdaya dalam kehampaan
menyisakan abu kesedihan
dan waktu jurang-jurang curam membentang
kita hanya bisa terhenyak dan diam
semantara tanah-tanah mulai berlongsor
siap memangsa seonggok daging
yang mulai berputus asa
dan sampai tiba itu senja
kita masih diam mematung
melupa segala penat
melempar segala kejut
meranggas menanti aral
yang akan membawa
menuju kata pengantar
*Januari 2014, di bawah asap semesta, dan di balik misteri kehampaan
selalu menderas dalam pekatnya air mata
kita, semenjak memata hingga melena
terpenuhi dengan kelabu yang semu
dan saat kerikil-kerikil tajam
menghentak lewat aksi-aksinya
kita hanya mampu menangis
atau tertawa karena gila
benar-benar tidak mengerti
kenapa bisa terjadi
kita, sewaktu kaki-kaki mencengkram
hanya mampu menggerutu dalam cemas
saat tangan-tangan menjamah api
dan tak berdaya dalam kehampaan
menyisakan abu kesedihan
dan waktu jurang-jurang curam membentang
kita hanya bisa terhenyak dan diam
semantara tanah-tanah mulai berlongsor
siap memangsa seonggok daging
yang mulai berputus asa
dan sampai tiba itu senja
kita masih diam mematung
melupa segala penat
melempar segala kejut
meranggas menanti aral
yang akan membawa
menuju kata pengantar
*Januari 2014, di bawah asap semesta, dan di balik misteri kehampaan
Langganan:
Komentar (Atom)