Selasa, 19 Juli 2016

Ini sudah Juli


ini sudah juli

dan hujan masih merintik

diantara simfoni luka 

ia mengaduh 


ini sudah juli

padahal cuma sampai juni 

begitu kata sapardi 

tak ada yang lebih tabah 

kata siapa?

kata penyair tua itu?


tak ada yang lebih tabah 

dari hujan bulan juni 

tapi ini juli

kukatakan sekali lagi, ini sudah juli


dirahasiakannya rintik rindunya itu 

namun kini sudah juli,

apakah kau sedang bergurau?

ayolah, mungkin kamu butuh kopi.


tidak, 

tidak ada yang lebih arif

dari hujan bulan juni

aku sudah bosan, kukatakan lagi

ini sudah juli


tapi aku terlanjur menyukai sapardi

kau bisa menggantinya

dengan siapa?

dengan penyair kopi,

siapa? 

dia yang berkata, ada gadis yang memelihara rembulan di matanya.

hahaha, ia adalah murid dari penyair bulan juni..

oh begitu


Hujan dalam kemayu kota metropolutan







Dikoyak Sepi

Begini, ini bukan tentang dirimu

tidak jua tentang pertemuan

namun ini tentang diriku

tentang diriku yang aku persalahkan

tentang segala kebodohan yang selalu

menghampiriku setiap waktu



Kau mungkin sudah begitu sabar

dengan elastisitasnya yang tanpa batas

Kau mungkin sudah merenung,

berdiam diri diantara malam

menyejajarkan kepala dan ujung kaki

membawa malam puitis

pada doa-doa yang terpanjat ritmis


ini tentang diriku

tentang kebodohanku

tentang ketakutanku

tentang kebengisanku

pada sebuah rasa bernama harapan



Ya, ini tentang diriku,

kelemahanku yang aku coba timpakan

pada dirimu

padahal kau senantiasa berujung disitu


ini tentangku

yang ingin ku cabik-cabik sendiri kulitku

yang aku lemparkan ke padang penuh debu

yang aku campakkan di hamparan laut yang beku


ini tentangku,
seperti mendengar dengus kemarahan Chairil pada dirinya sendiri,
Mampus kau dikoyak-koyak sepi!! 

*sajak untuk seorang siluet yang selalu hadir dalam tiap angan ku



Kamis, 31 Maret 2016

Sajak di hari yang berhujan



Kadang romantis itu tak perlu kau cari dalam puisi,

kadang romantis itu bisa kau temukan di tempat yang biasa kau lalui;

Jalan raya



Saat kau melihat dua orang yang sedang berdiri di pinggir jalan,

disewaktu tiba hari jelang berhujan,

sepasang suami istri yang sudah memasuki usia senja,

yang kau mengetahui hal itu dari gurat wajah mereka yang menua,

dari senyuman yang tersaji indah, penuh makna

kau melihat tatapan mereka, penuh cinta

saat sang suami mengeluarkan sesuatu dari tasnya

bukan, bukan intan dan permata

hanya selembar jas hujan dari plastik

untuk melindungi sang istri dari hujan rintik



alangkah romantisnya mereka,

lalu bagaimana dengan dirimu?

masihkah kau menanti diujung jalan itu?


Haturnuhun, arigato, thank you,

terima kasih saya ucapkan kepada kawan-kawan yang sudah bersedia membaca tulisan dalam blog ini. terima kasih pula buat kawan-kawan yang telah sudi berkomentar pada beberapa pos blog ini meski kenyataannya tulisan di dalamnya masih jauh dari kata baik. terima kasih atas segala dukungannya, termasuk kepada google dan blogspot yang telah mengijinkan saya menuliskan beberapa patah kata disini. terima kasih semuanya. salam.