Benua Biru
adalah tempat aku akan berlabuh
di suatu waktu
tunggu aku!
Kamis, 16 Oktober 2014
Fragmen ketidaksadaran
Kemudian aku lihat;
sepasang sendal butut yang saling bercengkrama,
berdebat tentang siapa diantara mereka
yang paling berjasa bagi majikannya
Dan aku bersitatap;
pada awan-awan gempal yang merapal
seperti berdoa pada Tuhan
untuk memintakan hujan agar tak jadi datang
Hingga kuping terngiang;
pada sorak sorak pelaut yang datang
yang membawa hasil tangkapan berupa udang
dan kepalang, karena hilang asa mencari uang
dan tetiba pula merindukanmu;
tersadar senyum indah itu menyapaku
dari balik bukit ketidaksadaranku
bahwa kini engkau hanya ada dialam mimpi itu
bukan lagi nyata seperti dulu
Di jalan setapak
di jalan setapak itu
ada seringai curiga dari keong-keong;
mereka takut kalau kami ini adalah petani
yang biasa memburu mereka untuk dijadikan umpan
padahal kami tak sejahat itu
lebih tepatnya kami lebih jahat dari itu
kami bermaksud mematok tanah
yang kami paksa beli dengan harga yang murah
lalu menjualnya dengan harga yang mahal kepada pemerintah
ya, kami ini hanya abdi
karena pemegang kuasa sesungguhnya adalah bupati
ya, kami ini hanya bedil
yang ditempatkan untuk merampas rasa adil
kami peduli dengan petani
tapi kami juga peduli dengan keluarga kami
yang sudah beberapa lama makan dengan sunyi
serta berpapaskan lauk berupa teri basi
namun kami tetap peduli
meski hati tak lagi bertempat di hati
kami tetap peduli
dengan topeng seolah kami orang suci
ada seringai curiga dari keong-keong;
mereka takut kalau kami ini adalah petani
yang biasa memburu mereka untuk dijadikan umpan
padahal kami tak sejahat itu
lebih tepatnya kami lebih jahat dari itu
kami bermaksud mematok tanah
yang kami paksa beli dengan harga yang murah
lalu menjualnya dengan harga yang mahal kepada pemerintah
ya, kami ini hanya abdi
karena pemegang kuasa sesungguhnya adalah bupati
ya, kami ini hanya bedil
yang ditempatkan untuk merampas rasa adil
kami peduli dengan petani
tapi kami juga peduli dengan keluarga kami
yang sudah beberapa lama makan dengan sunyi
serta berpapaskan lauk berupa teri basi
namun kami tetap peduli
meski hati tak lagi bertempat di hati
kami tetap peduli
dengan topeng seolah kami orang suci
Jalan
kalau semuanya terlihat meragukan
maka lebih baik kalau semuanya dijelaskan
dengan sebuah kepergian
kalau semuanya terlihat tidak meyakinkan
maka akan lebih elok kalau ada sedu sedan
daripada menyesal di hari kemudian
kalau semua sudah begitu adanya
jenuh dimakan usia yang tak lagi sama
maka lebih baik biarkan itu sirna
dan menemukan jalannya sendiri saja
maka lebih baik kalau semuanya dijelaskan
dengan sebuah kepergian
kalau semuanya terlihat tidak meyakinkan
maka akan lebih elok kalau ada sedu sedan
daripada menyesal di hari kemudian
kalau semua sudah begitu adanya
jenuh dimakan usia yang tak lagi sama
maka lebih baik biarkan itu sirna
dan menemukan jalannya sendiri saja
Minggu, 05 Oktober 2014
Rindu yang berjarak
tak akan indah bila memandangmu terlalu dekat
karena hanya akan membawa luka;
saat detik-detik aku menelusuri garis nasib
yang tak kunjung berbaik hati
tak akan seelok itu
kalau aku tak memandangmu dari sudut situ
dari hamparan daratan asing yang bertuan
dari tanah pijakan yang diimpikan
dan tak akan seindah kenangan kita bersama
saat awan-awan putih ini mengantarkan aku;
menelusuri tangga demi tangga yang mendorongku
untuk pergi menjauh darimu untuk sementara waktu
serta tak akan serindu ini
kalau aku dan kamu tak berjarak selayak inchi demi inchi
karena bukan apa yang menjadi anganku pada dirimu
tapi apa yang menjadi harapmu padaku
oo sesegar angin pantai di Ujungkulon
oo sesemampai pohon-pohon di Sunda kelapa
oo hau hadomi o, Indonesia!
Langganan:
Komentar (Atom)