Kamis, 19 Desember 2013

Ode PNS (Pegawai Negeri Sipil)

Ribuan orang tiap tahun mengantri
mengambil formulir melempar berkas
peluangnya kecil,yang ingin banyak
akhirnya sana sini ambil bagian
ada yang menyodok, ada yang menyuap
dan adapula yang minta tolong kerabat
semuanya sama, sama-sama ingin jadi PNS

Gaji kecil, modal masuknya besar
memang ada uang lauk pauk, tapi di rumah justru jarang makan lauk pauk 
kalau ada itupun tidak mewah, paling hanya tempe dan tahu
tapi itu juga harus di syukuri, Alhamdulillah
namanya juga jadi PNS

Sudah mulai menua, anak tanggungan masih tiga
satu masih SMP, satu masih SD dan satu lagi 
masih di gendong ibunya
pusing tujuh keliling karena uang
lalu coba keliling keliling cari tambahan
sama, malah makin pusing
ah, memang harus begitu, saya kan PNS katanya

Akhirnya pensiun tiba juga
anak pertama cuma sampai SMA
akhirnya ia memilih kerja 
daripada hidup menjadi beban orang tuanya
maafkan bapak nak, katanya. bapak hanya seorang PNS

Anaknya yang kedua, gelisah sana gelisah sini 
takut kalau tidak bisa lanjut sekolah
memang sih sekolah tidak bayar, tapi memang buku dan seragam tidak pakai uang
lanjutkan sekolah nak, nanti bapak tambahi lagi uang sekolah mu gumamnya
dari uang pensiunan PNS

Adiknya yang kecil sudah mau masuk TK
tapi kata ibunya lebih baik kalau tidak 
nanti langsung masuk SD  saja katanya
yang penting kini bisa tulis dan membaca
kalau sudah besar, bapak ingin kamu jadi dokter saja rintihnya 
sedikit menyesal jadi PNS

Ya,inilah potret PNS di negeri ini
Hidup dalam kesempitan 
Gaji yang tak seberapa, namun penuh pengabdian
Ya, inilah ode seorang PNS memang
Tidak banyak yang bisa dilakukan
Tapi bagi mereka inilah jalan kejujuran 
tidak seperti mereka yang di atas (mereka, penguasa yang berkehendak seenaknya)
yang memiskinkan bangsanya sendiri karena korupsi 
yang memunculkan kesengsaraan karena ambisi pribadi 
yang menindas bangsa sendiri, coklat lawan coklat
cih, betapa kejinya mahluk-makhluk seperti mereka ini

*Ayahku seorang PNS. dan aku bangga kepadanya. 


Maaf

Maaf. hanya itu kata yang bisa aku ungkap
Maaf. untuk sebuah cerita yang mungkin tidak sampai
Maaf. bagi segala harap yang dulu pernah ada

tidak mengapa, bahkan engkau boleh pergi sekarang
aku tahu, engkau berhak untuk bahagia
karena bisa saja denganku, engkau malah bersedih
karena bisa saja denganku engkau jadi menderita

Tidak mengapa, kalau engkau mau membawa hatimu itu menjauh
aku baik-baik saja disini
jika hanya dengan itu kau bisa lebih baik
jika dengan segala yang ada, kau tidak bisa menjadi lebih indah

dan suatu saat apabila kau terpaksa merindukanku
katakanlah rindumu itu dengan lirih
pada angin yang melintas dihadapanmu
hingga mudah-mudahan ia mampu membawanya
sampai terdengar ke genderang telingaku

dan apabila nanti kau terpaksa ingin melihatku
kau buka saja memori samar yang ada dalam pikiranmu itu
atau temui saja aku dalam mimpi-mimpimu
mudah-mudahan dengan begitu menjadi lebih mudah

atau jika saja kamu ingin menangis
maka tumpahkan saja air mata itu pada tanah sekitarmu
biarkan ia meresap ke tanah, menyesap
mungkin suatu saat nanti ia akan ikut menguap bersama awan
dan pergi membasahi tubuhku yang terkena hujan
biar aku bisa merasakan tangismu
biar aku bisa merasakan rindumu

Maka biarkanlah aku begini
biarkan aku yang menanggung semua hal
yang sudah jadi jalan
seperti halnya jalur aspal yang tertakdir untuk dinjak-injak
maka itulah perumpamaan aku
tidak mengapa, memang sudah jalannya
aku tak akan mengeluh lagi.
aku tak akan mengeluh lagi,
sama seperti yang dilakukan oleh jalur aspal tadi
yang pantang untuk mengatakan hal itu.

Sabtu, 07 Desember 2013

Perjumpaanku

dalam setiap perjumpaanku dengannya
aku mendapati diriku bertatap
saling memandang dengan kekakuan yang dingin,
memandang raut wajahnya yang juga sunyi

ketika perjumpaan yang tak sengaja terjadi
aku menelusuri garis-garis warna wajahnya
mencoba menebak-nebak tebal tubuhnya
apakah mungkin ia memiliki lekuk tubuh yang bagus?
lurus ataukah bengkok? ingin rasanya segera aku menyentuhnya

saat detik demi detik berjalan, menyongsong waktu perjumpaan
aku mendapati sebuah rasa yang indah
sebuah perasaan yang tak bisa diungkapkan begitu saja
bahkan adakalanya rasa itu sulit untuk coba diterjemahkan
aku rasa tidak ada bahasa apapun yang mampu membuatnya
menjadi lebih mudah untuk dimengerti

dan sampai suatu ketika aku sudah benar-benar berada di dekatnya
hati ini menjadi lebih berdebar. degup jantung tiba-tiba menjadi cepat
aku rasakan ada jejak-jejak gugup yang mendera. mungkinkah?

akhirnya aku dekatkan lenganku pada wajahnya
ah, terasa halus sekali
kemudian aku coba sentuh dengan perlahan
punggung belakang sisi tubuhnya
ternyata sama, kulitnya begitu halus

lantas akupun berkata "sesungguhnya engkaulah yang aku cari selama ini"
tapi ternyata ia diam saja. tak membalas dengan satu katapun
mungkinkah ia bisu? mungkinkah?

dari jauh aku mendengar sebuah suara
seperti raungan yang terdengar saling bersahutan
sesekali aku dengar suara itu semakin jelas
ya, aku bisa merasakannya. itu adalah suara yang memanggil namaku
mungkinkah? mungkinkah mereka yang memanggilku?

"hai, aku ingin sekali berkenalan denganmu,
maukah kau berjabat tangan denganku" ia bertanya

aku pun hanya terdiam. terasa mulutku terbuka,
sampai tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku
mungkinkah kalian? mungkinkah kalian,
wahai buku-buku  di perpustakaan rumahku?

*Sambil duduk-duduk di samping rak buku





Kamis, 05 Desember 2013

Bulan Merah Diatas Jatinangor II

Bulan merah diatas jatinangor
menetap kaku diatas gunung geulis
disini aku, menjejak hitam dalam rindu semesta
menerawang percik-percik kehidupan dalam sendu

ketika cawan-cawan mata air bercucuran
jatuh melembab hingga tepian
aku tetap merekam sampai sawan
sesekali mendengus risau sampai kemilau
sesak-sesak nafas yang tiada terdengar
lagi merasuk ke sentuhan malam

Bulan merah diatas jatinangor
aku merajai diri sendiri
atas perilaku absurd yang seirngkali
aku dapati melepaskan tanggung jawab
atas perbuatannya sendiri
yang amat gemar memaku amarah
pada pihak-pihak yang tidak bersalah

kini aku susuli ia yang melarikan diri
masuk ke dalam konstelasi terdalam
hati yang pada beberapa waktu
tidak bisa dimasuki sembarang diri
menindak identititas palsu
yang memaksa tuk masuk dan
mengacak-acak pecahan air mata
pada tetes-tetes daun di malam hari

Bulan merah diatas jatinangor
aku menunggumu dalam diam
membasahi kening dengan keringat juang
hingga aku akan mendekatimu
mendekapmu
dalam ruang imajinasi
yang penuh kekejaman

Jumat, 29 November 2013

Semerbak Realita

ada, tukang pisang yang sudah berumur
menjaja dagang sampai malam larut
ada manusia-manusia menjamur
dalam pesta pora sampai malam larut

ada tukang sol sepatu, ada tukang sendal kulit
duduk di emper masjid, selepas magrib
satu persatu mencoba menawarkan barang
namun hanya satu dua yang menjawab ajakannya
sisanya habis, sedihlah tertinggal dalam hati
mau apalagi, inilah yang terjadi

ada anak jalanan malam-malam
duduk-duduk di pos polisi yang ditinggal
kini mereka tak lagi dapat uang
karena banyak yang mengira
bahwa mereka lebih kaya
padahal tidak, koruptor itulah
yang lebih kaya, bahkan raya
karena mereka begini
juga karena mereka
bukan mau mereka (anak-anak itu)

mereka ditinggal ayahnya
sosok lelaki yang seharusnya melindungi
sosok yang semestinya jadi panutan hati
tambatan hati untuk hidup ini
tapi ternyata pergi, jauh entah kemana

mereka ditinggal ibunya
yang jadi penjaja malam
yang jadi pemilik jajanan malam
pula yang menjual kopi untuk pembeli jajanan malam

kasihan mereka. tapi ternyata ada yang lebih kasihan. siapa dia?
ternyata itu adalah aku. yang ada disini
duduk menuliskan tentang mereka seolah mereka tidak bahagia dengan hidupnya
padahal aku hanya melihat,tapi aku tidak merasa
oh apalah aku ini. banyak sok tahu tentang apa yang terjadi. kasihan si aku

Andai

andai rembulan bisa datang kesini
duduk menemaniku dalam sunyi
andai awan bisa mendekat kemari
memelukku sambil merasai sesuatu yang terbagi
dan andai sang waktu mau berbaik hati
memberikan toleransi untuk bersama memperbaiki

dan jam pasir itu pun terus bergerak
sedikit demi sedikit melepas menjarak
dengan awan, dengan masa
bersama waktu, bersama sukma
sampai pada dimensi jarak yang tak terukur
hingga manusia hanya terpekur
dalam jantung waktu yang sudah tak terulur

Rabu, 13 November 2013

Tidakkah kalian iri pada kami

"dulu aku takut, jikalau menyentuh sedikit saja tanganmu
maka ia akan jadi tumpukan dosa bagiku
dulu aku takut, kalau menggodamu sedikit saja
maka itu akan jadi ajang tambah dosa bagiku
dulu aku ragu, sewaktu akan mendatangi rumah orang tuamu
khawatir akan ditolak mentah-mentah karena awamnya ilmu dan amalku
dulu akau begitu grogi, ketika mengutarakan untuk menjemputmu putri
sungguh saja gemetar hati ini, saat menyaksikan ayahmu duduk di depanku

tapi kini aku tak lagi begitu,
kalau dulu menyentuh tanganmu membuatku berdosa
kini menggenggam jemarimu saja membuat aku mendapatkan pahala
kalau dulu menggodamu sedikit saja membuat aku nanti nestapa
maka kini membohongimu dengan mengatakan dirimu jelek saja
dengan maksud menggoda dan senda gurau
malah membuat aku berpahala
sungguh tiada tara nikmat seperti ini

dan untuk para penunggu, ayo segerakan
apa lagi yang kamu tunggu
tidakkah kalian sedikitpun iri kepada kami?"
begitu kata seorang lelaki yang lebih tua dariku

"tentu saja kami iri pada kalian wahai kakak, mas, mbak, akang, teteh, abang, mpok" jawabku :)



Doaku padamu

dari kedua bola mata itu
aku melihat sebuah pemandangan
sebuah masa dimana segala upaya
akan menjadi nyata, senyata apa yang pernah
diimpikan dalam relung terdahulu

dari kedua bongkah pasang itu
aku berhasil mendapati
sebuah optimisme masa depan
merenda sebuah kebijaksaan kuno
yang dikenal dengan nama keluarga

dari kedua sisi sayu mata itu
aku menelusuri sebuah tempat
yang tidak akan pernah sekalipun ada
di tempat-tempat di dunia
aku hidup di dalamnya, bersama
dengan pemilik kedua pasang mata itu
juga bersama prajurit-prajurit kecil
yang begitu membanggakan hatiku dan hatinya

dan dari ujung yang berjauhan
kini aku hanya mampu mendoakan
sebagai sebuah bentuk penjagaan
karena keterbatasan yang aku dan dia miliki
yaitu tempat, waktu, bahkan mungkin dimensi
dari ujung sini aku mengungkapkan salam
semoga kau mendengarnya dengan takzim
mungkin jua menjawabnya dengan seuntai doa
Ya Rabb. Petautkanlah hati hati kami karena-Mu
jika kalau karena fisik, maka ia akan luruh
jika kalau karena hati, ia akan berubah
tapi jika karena-Mu, ya Rabb
Engkau yang akan menjaganya
maka hamba mohon ya Rabb
untuk berkenan menjaganya
Jagalah ia ya Rabb
kuatkan jiwanya, hatinya, juga raganya
moga ikhlas menunggu, atau menanti
dengan keanggunan iman dalam diri

Menerjang Cinta Muda

sudah kuduga sejak mula
bahwa mungkin ini yang dinamakan cinta
setiap jengkal demi jengkal waktu yang aku coba buang
tak surut untuk merontokkan rasa ini
bahkan sampai tubuh ringkih, letih, dan tanpa muara
ia masih saja bercokol dalam kemelut jiwa

aku tersiksa, pada rindu batin yang melayang
menjejak dalam gulita yang terpendam
aku menderita, pada kecewa yang dulu singgah
yang menikam jaring-jaring ulu hati

cinta. Mengapa engkau tega kepadaku?
Membiarkan dirimu menerjang, dan
Memukul jatuh segala harap yang aku titipkan
Pada sela-sela keelokan warna tubuhmu
Yang aku sampaikan dengan bisik halus
Di pembuluh-pembuluh jantungmu itu

Dan kini, sempurna sudah
Segala ingin yang meratap dalam kehampaan
Dan kini, mendekam pula
Segala asa yang tak terbendung dalam waktu
Menelusuri setiap kolom-kolom nadiku sendiri
Meniup udara resah pada ungkapan, tak terbalaskan
Begitu terus dan terus begitu
Sampai nanti, sampai aku sudah tak lagi bersandiwara
Bersandiwara untuk melupakanmu

Selasa, 12 November 2013

Sajian Malam

bulan yang tersenyum tipis
dan gemintang yang berkelip genit
adalah sajian semesta terindah yang pernah ada

desau angin yang menyentuh kuduk
serta daun yang takzim mengangguk
adalah kelezatan lain dalam surau malam

suara katak dalam air keruh
dan gumpal awan yang saling berkejaran
adalah keceriaan masa yang tak terbeli

batu-batu yang berbaris di tanah
serta rona jingga lampu jalan
adalah bentuk kesetiaan pada mata

suara mesin motor yang meraung
dan gemericik hujan gerimis
adalah santapan hangat di saat sela

tapi manusia sering kali lupa
tapi manusia suka sekali durjana
hingga manusia acapkali merasa nestapa
pada dunia yang begini sedapnya
ah, nikmat mana lagi yang kamu dustakan?
Maka benarlah kitab suci, itu

Bahwa yang buta bukanlah  mata, tapi hati yang ada di dalam dada

Rabu, 30 Oktober 2013

Tak Mengerti

aku tak pernah mengerti
mengapa ada itu perasaan
segumpal rasa yang tak pernah tahu
bagaimana ia bermula
bagaimana ia datang
hingga diam-diam
merangsek masuk ke dalam
sanubari setiap jiwa yang merasa

aku tak pernah paham
kenapa ada seuntai perasaan
yang tak jarang malah merusak
sendi-sendi tubuh dan jiwa
atau memangsa tiap-tiap pandang
di siluet senja tanpa berkedip

aku tak habis pikir
kenapa ada yang namanya perasaan
padahal ia seringkali jadi benalu
merongrong tubuh inangnya
yang tak kuasa menahan beban

aku tak selesai berkelana
dalam dunia pikirku
ketika hendak mencari
apa maksud dari segala
pertanyaan tentang perasaan
apakah itu perasaan?
tanyakan pada daun yang gugur
yang tak mungkin menjawab pertanyaanmu

Manusia Merugi

gumpalan debu-debu menanjak sehingga muram
menderas dalam alur kebiadaban hati tak yang bertemali
meluruh sampai jauh menerkam setiap kata umpat
setiap jumpa harap menghilang dari sepasang bola mata

kukira ini akan jadi akhir dari perjalana semu
tapi nyatanya justru kita berbalik arah dalam gurat waktu
yang tak bisa dihindari untuk bersama menyambut pagi
kukira nanti akan jadi masa yang cerah untuk kita
tapi nyatanya akan menjadi isap jempol belaka
merintih, meronta, atau mencaci dalam hati
sudah menjadi ritual saban pagi, kelak ketika terbangun
dan tidur seolah menjadi obat bagi kesedihan

entahlah, ada kata yang memang belum teruntai
ada banyak makna yang belum terpahami
tapi sekiranya kemarin sudah seperti bukti
bahwa selama ini pagutan asa itu hanyalah semu
bermimpi di siang hari, merindu bulan untuk bersinar
mustahil

sungguh, tak ada celak dalam batin sebelum purna
hingga dawai itu tak lagi bergetar, masih ada harap
tapi kurasa hati manusia terbuat dari bahan yang cengeng
acap lemah tak berdaya, dimakan perhitungan hati
yang tak melulu benar, tak jarang hanya ilusi belaka

oh, kasihan si anak manusia
sudah jauh pangkal hatinya berharap
sudah letih jiwanya menggegap
hasilnya hanya sia-sia
hanya berdekam sampai jauh
menyisakan sesak di dada
sampai luruh
sampai jauh
sampai jenuh


Kamis, 24 Oktober 2013

Sesudah senja di ibu kota

jalan lengang dan jalan jalang
wanita ber- rok mini mulai bertebaran
jalan hitam, aspal hitam
sajian malam dengan pekat suram
menerkam, mencekam

pegawai pulang, pegawai pergi
mengadu nasib di dunia perantauan
gadis cantik, gadis malam
duduk bersaji dalam tudung uang

gitar pengamen suaranya saru, bernyanyi
dengan senar kumal yang hampir putus
oh dinda, inilah dunia
yang tak cuma datang
tapi juga pergi tanpa selimut

kulihat ada siluet rasa sedih
pada tukang sepatu yang duduk menepi
ada sumringah jemu pada tukang soto
yang bersatu dengan amarah
pada anak yang sudah tak lagi bersekolah
oh dinda, berselimutlah engkau di dalam rumah
lalu biarkan aku saja yang mendekam
dalam udara pekat malam hari ini
tak usah risau, apalagi menggalau
karena aku tak akan main pisau
lantas biarkan aku saja yang  mendekam
dalam udara pekat malam,
pekat sekali disini memang
tapi tidak di hati ini sayang


*di bawah sebuah fly over di kota Jakarta, Oktober 2013 sekitar pukul 23.00 wib
*aku memposisikan diri sebagai lelaki yang menghembuskan rokok di depanku. yang diposisinya itu ia hanya diam membisu, seolah-olah dari raganya sudah tak terlihat lagi sendu meski dari tatap matanya masih kudapati alur kesendirian. dengan raut wajah yang khawatir,  ia mengepulkan asap ke udara yang nyatanya memang sudah begitu pekat adanya. 

Untuk Kenangan

menerkalah, saat aku berkelit dari kenyataan 
menerkalah, ketika aku menelusup masuk di rimbunan awan
yakni pada suatu waktu dimana kau tak lagi beradu
bersama celoteh saling sapa layaknya dahulu

menerkalah menggantikan aku yang tak lagi
bergumam dengan gemericik hujan
menerkalah, dengan kepulan asap-asap hitam 
tanda ikatan sudah tak lagi berpagutan 

lalu ijinkan aku mengenggam api kesombongan 
yang pabila aku biarkan bakal hangus
seperti cerobong butut
bekas kapalan antara api 
dengan jejak-jejak hitam 
awan sisa pembakaran 

maka menerkalah,
saat wana pelangi meninggalkan hitam
bersenandung dalam sedihnya bayang
sisa peraduan tadi malam
maka menerkalah, 
membikin kenyataan bagai jarum karatan 
yang pedih membuat luka 
yang sial membebat kesabaran
dan yang sukar melupa ingatan
maka menerkalah, 
beralihkan sungai air mata
yang hanyut membawa duka 
yang menyimpan bara kenangan 
dan yang menaruh api nestapa
hingga pada debu tempat beradu
bak sisa awan di hamparan gunung semeru

Sabtu, 19 Oktober 2013

Hanya Menulis

hanya menulis yang aku tahu
pernah membuatku ringan kesedihan
hanya menulis yang aku tahu
menderas harapan kesempurnaan
hanya menulis yang aku tahu
bermain kata, menepis luka
hanya menulis yang aku tahu
membiarkan labuh dalam sekejap
patuh pada rajutan atap

hanya menulis pada suatu ketika
memaksa duka menjadi lebih suka
menarik pekat awan menjadi jingga
hanya menulis yang bisa
membuat batu-batu gemulai
dikenal banyak manusia tanpa sapa
hanya menulis yang pernah
menyadarkan aku dari kehampaan
hanya menulis yang suka
membuat aku suka dan suka

Dari bumi aku mendaki bukit belukar

dari bumi aku mendaki bukit belukar
di semenajung awan aku berkelindan
di temaram sepi aku merasuk hati
meski tanpa arah, menyeruak hingga pekat malam
dan tersisih di sisa waktu perjalanan

kulihat daun hijau mulai menguning
sativa berhambur menjalar, menancap dalam
bentuk puing-puing mimpi yang berserak

dari mata aku pernah memandang
keelokan semesta hingga palung fajar
dari kaki aku berjalan, mengiring duka
dan bersama tubuh aku terdiam
menyingsing harapan

hingga jelas sudah makna rindu
pada bumi air langit yang tabu
merekah bersama bunga mendekam
keindahan rupa yang tak terjamah
melewati rintih demi rintih
sukma bulu roma yang tak lagi berdiri

ooh, adakah patut untuk aku menerobos gelap,
meski ada suatu sikap aku bak hangat-hangat tahi ayam?
percumakah melintas dalam titian kalbu durja,
yang hatinya dina melawan angkara murka?

oh ibu, aku hanya ingin mendayu
oh ayah, aku hanya ingin merekah


*sepertinya Bandung akan hujan malam ini, tapi aku masa bodoh dengan semuanya. karena aku tidak suka malam minggu. maka biarkan saja hujan ini melata dalam sunyi, membawa kesedihan yang aku titipkan padanya, hingga jauh, jauh mendasari perut bumi. biar hilang kesedihanku, biar muncul harapan baruku.

Selasa, 15 Oktober 2013

Untuk Dirimu

Kulihat kerlip bintang gemintang malam ini
Bersinar menyendiri di ufuk semburat
Aku mengandaikan jika ia adalah dirimu
Yang mungkin saja memang sedang sendiri
Di malam ini bersama sang waktu
Kulihat jalan di depanku perlahan mengerucut
Berbatas dinding-dinding makhluk yang berkeluh kesah
Kukira engkau sedang duduk menelungkup
Atau membaca buku sambil menggumamkan sesuatu
Atau bisa saja engkau sedang bercengkrama
sambil memeluk seseorang
Bolehkah aku cemburu pada yang kau peluk itu?
Tidak, Justru aku harus bergembira
Karena yang kau peluk itu adalah sepupu kecilmu
Atau seorang keponakanmu yang lucu
Anak dari kakak-kakakmu
Yang kelak nanti mereka adalah bagian dariku
Sementara aku, aku sendiri masih seperti ini disini
Masih begini bergeming dengan kekakuanku
Atau bolehkah aku jujur padamu bahwa sekarang
Sedang memikirkan keberadaanmu?
Boleh ya, boleh kan?
Ah teryata kau tidak menjawabnya
Kau malu ya padaku
Tak perlu malu, karena aku sendiri yakin
Kalau kamu itu tidak sedang kupandangi
Jangan malu ya
Ah ya, atau mungkin kutanya saja kabar keluargamu
Kabar ayahmu, kabar ibumu, dan kabar saudara-saudaramu
Yang kelak semuanya kata mu akan kuganti dengan ku
Karena antara kamu dan aku sudah tak ada jemu
Sudah menentu dalam takdir tertentu
Bukan lagi tamu, apalagi perampok hatimu

Karena kita kian padu, lembut melepas saru

Selasa, 27 Agustus 2013

Tidak Setiap Jiwa

tidak setiap mata berakhir setia
tidak setiap masa bertengger dalam rasa yang sama
hadirnya cinta bukanlah perkara duka nestapa
tapi juga bukan mendayu siulan merah purnama

ada jarak saat kita berdiri sendiri
ada pula cemas saat tambatan tak lagi dikail
maka biarkan saja kompas yang menjadi pacu
biarkan hitam gelap awan yang kau rasa tinggal kenangan
mengecam diri tak akan pernah menyisakan kebenaran

dan setiap jiwa tak selalu bertemu masa
namun mungkin ada satu jiwa yang datang tepat waktunya
dia pernah terlambat, tapi sudah janji untuk merekat
bersama jiwa sendirimu, yang dulu sering kau keluhkan
di setiap nafas detik kehidupan yang kau tuju


Senin, 19 Agustus 2013

Kulihat Dia

Kulihat seorang menjejak duka dalam pecutan dina kehidupan
Melamun dalam pilunya sore, menerka keagungan malam yang akan datang
Dan akupun menatap dengan tanpa ambisi, layaknya apa yang jamak kulakukan selama ini
Lalu aku putuskan untuk menelusuri tiap jengkal suara parau dari surau-surau di ujung jalan ini

Ada rasa ingin mengasihani, tapi aku sadar aku tak pantas untuk melakukannya
Begitu pula rasa ingin tahu, mendadak aku bisu takut kalau ia malah ikut bisu
Lantas aku pun tak bergegas untuk memberanikan diri, menepuk bahu atau mengurai senyum baginya
Menyegerakan menutup pintu ragu dan ikut berambisi duduk bersamanya 
Walau aku tahu itu hanya palsu, aku tak akan sampai disitu

Ya, tak ada satupun dari kita yang tak berluka
Bahkan dalam luka lama sekalipun
Yang bahkan tak pernah pula bisa hilang
Dari coretan-soretan makna yang telah tersilang, seketika bisa saja menjulang
Menguapkan sejenak impian-impian baru ataupun kenyataan yang sedang dan sebentar berlalu

Sungguh begitu pula ambisi untuk menantang, akan lenyap saat diri mengenang
Saat simpul-simpul mengena seuntai tali yang hampir tercekat
Ketika buah-buah pkiran hangus digerogoti tampilan-tampilan memuakkan
Habislah sudah kita, tertinggal rasa yang menyesap masuk dalam pusaran air hangat yang tak terkepung, tak lagi terbendung

Suatu ketika

Suatu ketika, saat simfoni kepedihan mulai berurai
Mata tak lagi mampu menatap
Hati tak lagi menancap, pun pikiran pula mulai menyusut
Ada rintihan pilu yang tak mampu dijelaskan
Ada hempasan nafas yang tak bisa diterjemahkan
Ada tetesan air yang tak mampu dibendung
Dan ketika pagi harap tak lagi menjejak
Ketika awan putih berganti menjadi hitam
Dan semua kenangan menjejak dalam titian curam
Maka ia tinggal menyesap, dalam
Bulir-bulir daun yang tinggal separuh
Menandakan tepian luka yang masih bernanah
Kita yang memang pernah sekali bersua
Dengan lembayung sore di kala senja
Mulai sedikit demi sedikit melupa
Mengeraskan hati, menyisakan memori
         Dan kita pun telah benar-benar berdusta
         Bahwa kita tak pernah bersua dengannya
         Bak de javu di pagi buta Sirna semesta,
         Alam raya melepas energi saka, suka atau tidak suka

Sabtu, 20 Juli 2013

Sudahi Saja Kegentingan Ini

Aku menjejak jentik air di kala malam
Menyelinap masuk sambil membuka titian
Aku melahap duri padam di kala senja
Berpesta pora dengan si bunga dunia

Saat kau terkapar mesra dengannya
Aku tak hendak mencoba mengurai
Sebuah tanya yang tak terjawab
Sebuah ungkap yang dihias kurap
Merintih bersama daun-daun pembaringan 

Kau lalu bertanya, “inikah salahku?”
Aku tercenung menunggu
Lantas kau berbalik, memukul rindu itu
kemudian tertinggal lah sosok bayangmu,
menyisakan wangi yang tak pernah tersakiti

kini ruang itupun sudah menjadi gelap,
cahaya pun malu untuk mulai menyeruak
Maka sudahi saja kegentingan ini
Dan kembali merapal setiap jentik air

di kala malam

Selasa, 26 Maret 2013

Rindu

Duhai engkau yang berhati pemaaf
Seringkali aku bersedih dengan diriku
Begitu juga dengan saudara-saudaraku
Bahwa sebenarnya kami begitu merindukanmu

Duhai engkau yang tutur katamu penuh kelembutan
Betapa berharapnya kami bisa memandangmu
Menyentuh kulit tegasmu dalam suasana sendu
Memadunya dengan cerah sorot tajam matamu

Wahai sang penegur dikala khilaf
Kalau kami boleh jujur
Apakah engkau rela kami rindukan?
Atau justru karena kami khawatir dengan itu
Karena kami kadangkala  hanya sebatas kata
Basah bibir bukanlah bukti kecintaan kami
Tapi mengikuti segala contohmu adalah
Nilai shahih atas yang kami lisankan

Maafkan kami hanya menjadi seperti ini
Ilmu kami tak lebih besar dari ujung kuku
Amalan kami tak lebih banyak dari setetes air
Namun kami berkata bahwa kami mencintaimu

Maafkan kami
Maafkan kami

Maafkan kami hanya menjadi seperti ini
Tapi lubuk hati kami tetap berkata tentang kerinduan
Karena kami yakin bahwa kami tetap rindu
Shahabat yang menyertaimu saja selalu merindukanmu
Apalagi kami, kami yang tak pernah melihat sendunya wajahmu
Tak pernah menyaksikan indahnya perangaimu
Tak pernah merasakan hangatnya senyum mempesonamu
Tentu kami juga amat merindukanmu
Amat rindu

Maafkan kami karena hanya menjadi seperti ini
Maafkan kami karena hanya menjadi seperti ini
Maafkan kami karena hanya menjadi seperti ini

Romantisme Aku Sama Kamu


Kamu mungkin sedang duduk di pojok kamarmu
Sambil membaca buku untuk mengusir sepi
Dan disini aku sendiri, tiduran di atas kasur 
Sembari mengetik naskah ini 

Aku tak bisa membayangkan wajahmu
Kamu juga hanya bisa bersenandung
Nyanyian angkasa bergumam dari bibirmu yang mungil
Seolah-olah kita sudah bertemu dan sedang memadu rindu

Di waktu yang lain, aku terdiam bisu disitu
Memikirkan kamu yang mungkin lucu
Sementara kamu duduk bersimpuh sambil berdoa
Memanjatkan seuntai kata 

Siang itu kamu sedang memasak 
Ketika aku sedang ingin mulai bersuara
Sedikit parau, sambil menyebut dirimu 
Walau ku tahu kau masih tanpa nama

Lantas sore pun aku berdoa
Sama selayaknya yang kamu lakukan
Ah.. bukankah ini begitu romantis? 
Kamu mendoakan aku, dan aku mendoakan kamu
Padahal kita tidak saling tahu, apalagi saling kenal
Tapi entah kenapa hati ini jadi mulai bersatu
Pada satu simpul titian qalbumu dan qalbuku
Tunggu ya kehadiranku disaat itu

Jatinangor, mendekati akhir tahun 2012

Aku Bukan

Aku bukan pram
Aku juga bukan tasaro
Aku bukan SDD
Aku juga bukan joko pinurbo

Aku bukan dika
Aku juga bukan alit
Aku bukan darwis
Aku juga bukan dony

Aku bukan conan doyle
Aku juga bukan agatha
Aku bukan Dr. seuss
Aku juga bukan susan cain

Aku adalah Diriku
Menjalar dalam pengakuanku
Akan Pengertian diriku
Yang tak pernah mengerti siapa sebenarna Aku

Aku bukan sujiwo tejo
Aku juga bukan prie gs
Aku bukan soe hok gie
Aku juga bukan ahmad wahib

Aku bukan djenar
Aku juga bukan dee
Aku bukan Ar-rumi
Aku juga bukan Al-ghazali

Aku bukan Alkindi
Aku juga bukan Alfarabi
Aku bukan stoner
Aku juga bukan simon

Aku adalah Aku menurut Aku
Aku adalah Aku menurut Aku
tanpa kekurangan menurut Aku
tanpa kekerdilan menurut Aku
tanpa kesedihan menurut Aku
tanpa kegetiran menurut Aku

Apakah kau tahu siapa Aku?
Tolong beritahu Aku kalau kau Tahu Aku

Senin, 25 Maret 2013

Kupu-kupu

Kini kita telah tiba
Di ufuk terbenamnya kisah
Yang selama ini menapaki
Jalan curam dan dalam

Telah sampai padaku
Tentang bayangmu
Di sela rintihan tangis hujan
Merambah setiap dedaunan
Layu, beku, semu

Dan kini
Serasa tiada guna
Dan kini
Terasa sia menanti
Suatu kepastian yang sudah berujung
Penantian tak sampai
Hingga jenuh, dan terjatuh
Selamat jalan kupu-kupu rindu

Jumat, 22 Maret 2013

Hujan Ini


Hujan diluar disertai angin
Air masuk ke kamar kos saya
Sampah-sampah bergelinjang

Kesana kemari

Panci warung sebelah kosan berjatuhan
Bapak ibu kos berlarian masuk ke rumah
Kawan-kawan sembunyi dalam peraduan
Seseorang memundurkan mobil

Saya disini

Saya begini mengamati

Lantas duduk termenung

Di hujan ini

Harga Bawang Naik

Gelap..
Gelap..
Titik lampu merah diatas BTS menyembul
Ditemani berisik deru kendaraan
Listrik sempat padam
Mungkin karena harga bawang naik
Atau karena harga cabai ikut menjulang

Kaki kecil gemetar
Sedari pagi belum makan
Istana paduka jauh lebih enak
Banyak santapan, udara yang nyaman
Dagangan layu, dingin menyapu
Mencoba memeluk diri
Ingat anak istri, di gubuk sepi
Berharap berhenti gerimis sunyi
Kami..
Kenyang dengan sendawa
Sembari tertawa-tawa
Maksud hati memaksa
Tidur rasanya lebih jumawa

Kamis, 21 Maret 2013

Panggung Sandiwara


kita memang ditakdirkan berbeda, meski sesekali engkau membantah bahwa kita begitu sama. tatkala surya membenamkan dirinya di sudut ufuk, bukan semata-mata karena jenuh tapi karena memang itulah takdirnya. 
aku tahu, meski perlahan apa yang kau rasa mulai merebak sempurna, akan tetapi kenyataan itu senantiasa akan menemui kita. bahwa rasa itu datang tak kenal waktu, dan mungkin saja akan pergi tanpa pernah kita mau. 
duhai, andaikan bulan itu menampakkan diri di siang hari, atau mentari muncul lagi selepas maghrib, itu sudah ketentuan. kita harus pergi untuk menyadari. untuk merasakan seberapa benar rasa yang kita miliki. dan tak akan pernah tahu kalau tak pernah melakukan. 
satu yang harus engkau yakini,  matahari memang satu. matahari yang dulu dilihat oleh fir’aun juga raja namrudz. matahari yang dibelai oleh awan di masa nebukanedzar. tapi sang waktu lah yang membedakan. kata penyair, kalau hidup ini adalah panggung sandiwara, maka biarlah aku menemuimu dibelakang panggung itu saja. 

Rabu, 20 Maret 2013

Hitam Putih


ketika aliran sungai menerpa batuan
adakalanya ia adalah kodrat
bukan berkata bahwa itu sebuah kesialan
ngeri di ujung tanduk, serasa bawah tanah merajuk

kadangkala aliran sungai tak berjalan mulus
kelokan sesaat dan tajam jadi stimulus
entah untuk bangkit atau malah menjatuhkan diri
dari 'jebakan' sang kuasa dunia ini

kita, yang hanya bisa resah, saat perlahan bebatuan mulai bergemercik
komet api hinggap dalam kaki-kaki yang beku
menahan amarah hingga gontai berjalan, menyeret-nyeret
tanpa peluh, tapi bersisa keluh dan darah yang melepuh

Wahai MU
Ampuni aku yang berdosa ini
maafkan aku wahai ibu, ayah...
sesaat ketika mau harapan, namun kini serasa hambar
pelangi tak lagi berwarna merah, kuning menyaru abu-abu
hijau tertelan hitam dusta
dan kini, inilah dunia kita
di dunia hitam putih