Duhai engkau yang berhati pemaaf
Seringkali aku bersedih dengan diriku
Begitu juga dengan saudara-saudaraku
Bahwa sebenarnya kami begitu merindukanmu
Duhai engkau yang tutur katamu penuh kelembutan
Betapa berharapnya kami bisa memandangmu
Menyentuh kulit tegasmu dalam suasana sendu
Memadunya dengan cerah sorot tajam matamu
Wahai sang penegur dikala khilaf
Kalau kami boleh jujur
Apakah engkau rela kami rindukan?
Atau justru karena kami khawatir dengan itu
Karena kami kadangkala hanya sebatas kata
Basah bibir bukanlah bukti kecintaan kami
Tapi mengikuti segala contohmu adalah
Nilai shahih atas yang kami lisankan
Maafkan kami hanya menjadi seperti ini
Ilmu kami tak lebih besar dari ujung kuku
Amalan kami tak lebih banyak dari setetes air
Namun kami berkata bahwa kami mencintaimu
Maafkan kami
Maafkan kami
Maafkan kami hanya menjadi seperti ini
Tapi lubuk hati kami tetap berkata tentang kerinduan
Karena kami yakin bahwa kami tetap rindu
Shahabat yang menyertaimu saja selalu merindukanmu
Apalagi kami, kami yang tak pernah melihat sendunya wajahmu
Tak pernah menyaksikan indahnya perangaimu
Tak pernah merasakan hangatnya senyum mempesonamu
Tentu kami juga amat merindukanmu
Amat rindu
Maafkan kami karena hanya menjadi seperti ini
Maafkan kami karena hanya menjadi seperti ini
Maafkan kami karena hanya menjadi seperti ini
Selasa, 26 Maret 2013
Romantisme Aku Sama Kamu
Kamu mungkin sedang duduk di pojok kamarmu
Sambil membaca buku untuk mengusir sepi
Dan disini aku sendiri, tiduran di atas kasur
Sembari mengetik naskah ini
Aku tak bisa membayangkan wajahmu
Kamu juga hanya bisa bersenandung
Nyanyian angkasa bergumam dari bibirmu yang mungil
Seolah-olah kita sudah bertemu dan sedang memadu rindu
Di waktu yang lain, aku terdiam bisu disitu
Memikirkan kamu yang mungkin lucu
Sementara kamu duduk bersimpuh sambil berdoa
Memanjatkan seuntai kata
Siang itu kamu sedang memasak
Ketika aku sedang ingin mulai bersuara
Sedikit parau, sambil menyebut dirimu
Walau ku tahu kau masih tanpa nama
Lantas sore pun aku berdoa
Sama selayaknya yang kamu lakukan
Ah.. bukankah ini begitu romantis?
Kamu mendoakan aku, dan aku mendoakan kamu
Padahal kita tidak saling tahu, apalagi saling kenal
Tapi entah kenapa hati ini jadi mulai bersatu
Pada satu simpul titian qalbumu dan qalbuku
Tunggu ya kehadiranku disaat itu
Jatinangor, mendekati akhir tahun 2012
Aku Bukan
Aku bukan pram
Aku juga bukan tasaro
Aku bukan SDD
Aku juga bukan joko pinurbo
Aku bukan dika
Aku juga bukan alit
Aku bukan darwis
Aku juga bukan dony
Aku bukan conan doyle
Aku juga bukan agatha
Aku bukan Dr. seuss
Aku juga bukan susan cain
Aku adalah Diriku
Menjalar dalam pengakuanku
Akan Pengertian diriku
Yang tak pernah mengerti siapa sebenarna Aku
Aku bukan sujiwo tejo
Aku juga bukan prie gs
Aku bukan soe hok gie
Aku juga bukan ahmad wahib
Aku bukan djenar
Aku juga bukan dee
Aku bukan Ar-rumi
Aku juga bukan Al-ghazali
Aku bukan Alkindi
Aku juga bukan Alfarabi
Aku bukan stoner
Aku juga bukan simon
Aku adalah Aku menurut Aku
Aku adalah Aku menurut Aku
tanpa kekurangan menurut Aku
tanpa kekerdilan menurut Aku
tanpa kesedihan menurut Aku
tanpa kegetiran menurut Aku
Apakah kau tahu siapa Aku?
Tolong beritahu Aku kalau kau Tahu Aku
Aku juga bukan tasaro
Aku bukan SDD
Aku juga bukan joko pinurbo
Aku bukan dika
Aku juga bukan alit
Aku bukan darwis
Aku juga bukan dony
Aku bukan conan doyle
Aku juga bukan agatha
Aku bukan Dr. seuss
Aku juga bukan susan cain
Aku adalah Diriku
Menjalar dalam pengakuanku
Akan Pengertian diriku
Yang tak pernah mengerti siapa sebenarna Aku
Aku bukan sujiwo tejo
Aku juga bukan prie gs
Aku bukan soe hok gie
Aku juga bukan ahmad wahib
Aku bukan djenar
Aku juga bukan dee
Aku bukan Ar-rumi
Aku juga bukan Al-ghazali
Aku bukan Alkindi
Aku juga bukan Alfarabi
Aku bukan stoner
Aku juga bukan simon
Aku adalah Aku menurut Aku
Aku adalah Aku menurut Aku
tanpa kekurangan menurut Aku
tanpa kekerdilan menurut Aku
tanpa kesedihan menurut Aku
tanpa kegetiran menurut Aku
Apakah kau tahu siapa Aku?
Tolong beritahu Aku kalau kau Tahu Aku
Senin, 25 Maret 2013
Kupu-kupu
Kini kita telah tiba
Di ufuk terbenamnya kisah
Yang selama ini menapaki
Jalan curam dan dalam
Telah sampai padaku
Tentang bayangmu
Di sela rintihan tangis hujan
Merambah setiap dedaunan
Layu, beku, semu
Dan kini
Serasa tiada guna
Dan kini
Terasa sia menanti
Suatu kepastian yang sudah berujung
Penantian tak sampai
Hingga jenuh, dan terjatuh
Selamat jalan kupu-kupu rindu
Di ufuk terbenamnya kisah
Yang selama ini menapaki
Jalan curam dan dalam
Telah sampai padaku
Tentang bayangmu
Di sela rintihan tangis hujan
Merambah setiap dedaunan
Layu, beku, semu
Dan kini
Serasa tiada guna
Dan kini
Terasa sia menanti
Suatu kepastian yang sudah berujung
Penantian tak sampai
Hingga jenuh, dan terjatuh
Selamat jalan kupu-kupu rindu
Jumat, 22 Maret 2013
Hujan Ini
Hujan diluar disertai angin
Air masuk ke kamar kos saya
Sampah-sampah bergelinjang
Kesana kemari
Kesana kemari
Panci warung sebelah kosan berjatuhan
Bapak ibu kos berlarian masuk ke rumah
Kawan-kawan sembunyi dalam peraduan
Seseorang memundurkan mobil
Saya disini
Saya begini mengamati
Lantas duduk termenung
Di hujan ini
Saya begini mengamati
Lantas duduk termenung
Di hujan ini
Harga Bawang Naik
Gelap..
Gelap..
Titik lampu merah diatas BTS menyembul
Ditemani berisik deru kendaraan
Listrik sempat padam
Mungkin karena harga bawang naik
Atau karena harga cabai ikut menjulang
Kaki kecil gemetar
Gelap..
Titik lampu merah diatas BTS menyembul
Ditemani berisik deru kendaraan
Listrik sempat padam
Mungkin karena harga bawang naik
Atau karena harga cabai ikut menjulang
Kaki kecil gemetar
Sedari pagi belum makan
Istana paduka jauh lebih enak
Banyak santapan, udara yang nyaman
Istana paduka jauh lebih enak
Banyak santapan, udara yang nyaman
Dagangan layu, dingin menyapu
Mencoba memeluk diri
Ingat anak istri, di gubuk sepi
Berharap berhenti gerimis sunyi
Mencoba memeluk diri
Ingat anak istri, di gubuk sepi
Berharap berhenti gerimis sunyi
Kami..
Kenyang dengan sendawa
Sembari tertawa-tawa
Maksud hati memaksa
Tidur rasanya lebih jumawa
Kenyang dengan sendawa
Sembari tertawa-tawa
Maksud hati memaksa
Tidur rasanya lebih jumawa
Kamis, 21 Maret 2013
Panggung Sandiwara
kita memang ditakdirkan berbeda, meski sesekali engkau membantah bahwa kita begitu sama. tatkala surya membenamkan dirinya di sudut ufuk, bukan semata-mata karena jenuh tapi karena memang itulah takdirnya.
aku tahu, meski perlahan apa yang kau rasa mulai merebak sempurna, akan tetapi kenyataan itu senantiasa akan menemui kita. bahwa rasa itu datang tak kenal waktu, dan mungkin saja akan pergi tanpa pernah kita mau.
duhai, andaikan bulan itu menampakkan diri di siang hari, atau mentari muncul lagi selepas maghrib, itu sudah ketentuan. kita harus pergi untuk menyadari. untuk merasakan seberapa benar rasa yang kita miliki. dan tak akan pernah tahu kalau tak pernah melakukan.
satu yang harus engkau yakini, matahari memang satu. matahari yang dulu dilihat oleh fir’aun juga raja namrudz. matahari yang dibelai oleh awan di masa nebukanedzar. tapi sang waktu lah yang membedakan. kata penyair, kalau hidup ini adalah panggung sandiwara, maka biarlah aku menemuimu dibelakang panggung itu saja.
Rabu, 20 Maret 2013
Hitam Putih
ketika aliran sungai menerpa batuan
adakalanya ia adalah kodrat
bukan berkata bahwa itu sebuah kesialan
ngeri di ujung tanduk, serasa bawah tanah merajuk
kadangkala aliran sungai tak berjalan mulus
kelokan sesaat dan tajam jadi stimulus
entah untuk bangkit atau malah menjatuhkan diri
dari 'jebakan' sang kuasa dunia ini
kita, yang hanya bisa resah, saat perlahan bebatuan mulai bergemercik
komet api hinggap dalam kaki-kaki yang beku
menahan amarah hingga gontai berjalan, menyeret-nyeret
tanpa peluh, tapi bersisa keluh dan darah yang melepuh
Wahai MU
Ampuni aku yang berdosa ini
maafkan aku wahai ibu, ayah...
sesaat ketika mau harapan, namun kini serasa hambar
pelangi tak lagi berwarna merah, kuning menyaru abu-abu
hijau tertelan hitam dusta
dan kini, inilah dunia kita
di dunia hitam putih
Langganan:
Komentar (Atom)