Rabu, 30 Oktober 2013

Tak Mengerti

aku tak pernah mengerti
mengapa ada itu perasaan
segumpal rasa yang tak pernah tahu
bagaimana ia bermula
bagaimana ia datang
hingga diam-diam
merangsek masuk ke dalam
sanubari setiap jiwa yang merasa

aku tak pernah paham
kenapa ada seuntai perasaan
yang tak jarang malah merusak
sendi-sendi tubuh dan jiwa
atau memangsa tiap-tiap pandang
di siluet senja tanpa berkedip

aku tak habis pikir
kenapa ada yang namanya perasaan
padahal ia seringkali jadi benalu
merongrong tubuh inangnya
yang tak kuasa menahan beban

aku tak selesai berkelana
dalam dunia pikirku
ketika hendak mencari
apa maksud dari segala
pertanyaan tentang perasaan
apakah itu perasaan?
tanyakan pada daun yang gugur
yang tak mungkin menjawab pertanyaanmu

Manusia Merugi

gumpalan debu-debu menanjak sehingga muram
menderas dalam alur kebiadaban hati tak yang bertemali
meluruh sampai jauh menerkam setiap kata umpat
setiap jumpa harap menghilang dari sepasang bola mata

kukira ini akan jadi akhir dari perjalana semu
tapi nyatanya justru kita berbalik arah dalam gurat waktu
yang tak bisa dihindari untuk bersama menyambut pagi
kukira nanti akan jadi masa yang cerah untuk kita
tapi nyatanya akan menjadi isap jempol belaka
merintih, meronta, atau mencaci dalam hati
sudah menjadi ritual saban pagi, kelak ketika terbangun
dan tidur seolah menjadi obat bagi kesedihan

entahlah, ada kata yang memang belum teruntai
ada banyak makna yang belum terpahami
tapi sekiranya kemarin sudah seperti bukti
bahwa selama ini pagutan asa itu hanyalah semu
bermimpi di siang hari, merindu bulan untuk bersinar
mustahil

sungguh, tak ada celak dalam batin sebelum purna
hingga dawai itu tak lagi bergetar, masih ada harap
tapi kurasa hati manusia terbuat dari bahan yang cengeng
acap lemah tak berdaya, dimakan perhitungan hati
yang tak melulu benar, tak jarang hanya ilusi belaka

oh, kasihan si anak manusia
sudah jauh pangkal hatinya berharap
sudah letih jiwanya menggegap
hasilnya hanya sia-sia
hanya berdekam sampai jauh
menyisakan sesak di dada
sampai luruh
sampai jauh
sampai jenuh


Kamis, 24 Oktober 2013

Sesudah senja di ibu kota

jalan lengang dan jalan jalang
wanita ber- rok mini mulai bertebaran
jalan hitam, aspal hitam
sajian malam dengan pekat suram
menerkam, mencekam

pegawai pulang, pegawai pergi
mengadu nasib di dunia perantauan
gadis cantik, gadis malam
duduk bersaji dalam tudung uang

gitar pengamen suaranya saru, bernyanyi
dengan senar kumal yang hampir putus
oh dinda, inilah dunia
yang tak cuma datang
tapi juga pergi tanpa selimut

kulihat ada siluet rasa sedih
pada tukang sepatu yang duduk menepi
ada sumringah jemu pada tukang soto
yang bersatu dengan amarah
pada anak yang sudah tak lagi bersekolah
oh dinda, berselimutlah engkau di dalam rumah
lalu biarkan aku saja yang mendekam
dalam udara pekat malam hari ini
tak usah risau, apalagi menggalau
karena aku tak akan main pisau
lantas biarkan aku saja yang  mendekam
dalam udara pekat malam,
pekat sekali disini memang
tapi tidak di hati ini sayang


*di bawah sebuah fly over di kota Jakarta, Oktober 2013 sekitar pukul 23.00 wib
*aku memposisikan diri sebagai lelaki yang menghembuskan rokok di depanku. yang diposisinya itu ia hanya diam membisu, seolah-olah dari raganya sudah tak terlihat lagi sendu meski dari tatap matanya masih kudapati alur kesendirian. dengan raut wajah yang khawatir,  ia mengepulkan asap ke udara yang nyatanya memang sudah begitu pekat adanya. 

Untuk Kenangan

menerkalah, saat aku berkelit dari kenyataan 
menerkalah, ketika aku menelusup masuk di rimbunan awan
yakni pada suatu waktu dimana kau tak lagi beradu
bersama celoteh saling sapa layaknya dahulu

menerkalah menggantikan aku yang tak lagi
bergumam dengan gemericik hujan
menerkalah, dengan kepulan asap-asap hitam 
tanda ikatan sudah tak lagi berpagutan 

lalu ijinkan aku mengenggam api kesombongan 
yang pabila aku biarkan bakal hangus
seperti cerobong butut
bekas kapalan antara api 
dengan jejak-jejak hitam 
awan sisa pembakaran 

maka menerkalah,
saat wana pelangi meninggalkan hitam
bersenandung dalam sedihnya bayang
sisa peraduan tadi malam
maka menerkalah, 
membikin kenyataan bagai jarum karatan 
yang pedih membuat luka 
yang sial membebat kesabaran
dan yang sukar melupa ingatan
maka menerkalah, 
beralihkan sungai air mata
yang hanyut membawa duka 
yang menyimpan bara kenangan 
dan yang menaruh api nestapa
hingga pada debu tempat beradu
bak sisa awan di hamparan gunung semeru

Sabtu, 19 Oktober 2013

Hanya Menulis

hanya menulis yang aku tahu
pernah membuatku ringan kesedihan
hanya menulis yang aku tahu
menderas harapan kesempurnaan
hanya menulis yang aku tahu
bermain kata, menepis luka
hanya menulis yang aku tahu
membiarkan labuh dalam sekejap
patuh pada rajutan atap

hanya menulis pada suatu ketika
memaksa duka menjadi lebih suka
menarik pekat awan menjadi jingga
hanya menulis yang bisa
membuat batu-batu gemulai
dikenal banyak manusia tanpa sapa
hanya menulis yang pernah
menyadarkan aku dari kehampaan
hanya menulis yang suka
membuat aku suka dan suka

Dari bumi aku mendaki bukit belukar

dari bumi aku mendaki bukit belukar
di semenajung awan aku berkelindan
di temaram sepi aku merasuk hati
meski tanpa arah, menyeruak hingga pekat malam
dan tersisih di sisa waktu perjalanan

kulihat daun hijau mulai menguning
sativa berhambur menjalar, menancap dalam
bentuk puing-puing mimpi yang berserak

dari mata aku pernah memandang
keelokan semesta hingga palung fajar
dari kaki aku berjalan, mengiring duka
dan bersama tubuh aku terdiam
menyingsing harapan

hingga jelas sudah makna rindu
pada bumi air langit yang tabu
merekah bersama bunga mendekam
keindahan rupa yang tak terjamah
melewati rintih demi rintih
sukma bulu roma yang tak lagi berdiri

ooh, adakah patut untuk aku menerobos gelap,
meski ada suatu sikap aku bak hangat-hangat tahi ayam?
percumakah melintas dalam titian kalbu durja,
yang hatinya dina melawan angkara murka?

oh ibu, aku hanya ingin mendayu
oh ayah, aku hanya ingin merekah


*sepertinya Bandung akan hujan malam ini, tapi aku masa bodoh dengan semuanya. karena aku tidak suka malam minggu. maka biarkan saja hujan ini melata dalam sunyi, membawa kesedihan yang aku titipkan padanya, hingga jauh, jauh mendasari perut bumi. biar hilang kesedihanku, biar muncul harapan baruku.

Selasa, 15 Oktober 2013

Untuk Dirimu

Kulihat kerlip bintang gemintang malam ini
Bersinar menyendiri di ufuk semburat
Aku mengandaikan jika ia adalah dirimu
Yang mungkin saja memang sedang sendiri
Di malam ini bersama sang waktu
Kulihat jalan di depanku perlahan mengerucut
Berbatas dinding-dinding makhluk yang berkeluh kesah
Kukira engkau sedang duduk menelungkup
Atau membaca buku sambil menggumamkan sesuatu
Atau bisa saja engkau sedang bercengkrama
sambil memeluk seseorang
Bolehkah aku cemburu pada yang kau peluk itu?
Tidak, Justru aku harus bergembira
Karena yang kau peluk itu adalah sepupu kecilmu
Atau seorang keponakanmu yang lucu
Anak dari kakak-kakakmu
Yang kelak nanti mereka adalah bagian dariku
Sementara aku, aku sendiri masih seperti ini disini
Masih begini bergeming dengan kekakuanku
Atau bolehkah aku jujur padamu bahwa sekarang
Sedang memikirkan keberadaanmu?
Boleh ya, boleh kan?
Ah teryata kau tidak menjawabnya
Kau malu ya padaku
Tak perlu malu, karena aku sendiri yakin
Kalau kamu itu tidak sedang kupandangi
Jangan malu ya
Ah ya, atau mungkin kutanya saja kabar keluargamu
Kabar ayahmu, kabar ibumu, dan kabar saudara-saudaramu
Yang kelak semuanya kata mu akan kuganti dengan ku
Karena antara kamu dan aku sudah tak ada jemu
Sudah menentu dalam takdir tertentu
Bukan lagi tamu, apalagi perampok hatimu

Karena kita kian padu, lembut melepas saru