Masih dalam kejapan mata
juga singgah bersama murka
adagium-adagium adalah palsu
dan mata memandang cuma derita
saatnya, saatnya kita memasung
bersama kelamnya sesajian di kuil
berpergian sambil menertawakan
dari keberingasan pasang telinga
yang bersembunyi di balik
hitamnya sudut pra sangka
dan gemerlaplah, bergemerincinglah
daun-daun coklat yang merekah
sampai meraung dan terjatuh
melepuh, dengan luka
dengan seberkas titik tinta putih
dan rasa simpati pada kekasih
juga singgah bersama murka
adagium-adagium adalah palsu
dan mata memandang cuma derita
saatnya, saatnya kita memasung
bersama kelamnya sesajian di kuil
berpergian sambil menertawakan
dari keberingasan pasang telinga
yang bersembunyi di balik
hitamnya sudut pra sangka
dan gemerlaplah, bergemerincinglah
daun-daun coklat yang merekah
sampai meraung dan terjatuh
melepuh, dengan luka
dengan seberkas titik tinta putih
dan rasa simpati pada kekasih
Tidak ada komentar:
Posting Komentar