di pojok sana, duduklah pelacur tua
duduk sambil sedikit mengangkang
tanda sedang pemanasan
bibir merah, ditaburi gincu murah
bekas beli di pasar tadi sore
dibelikan oleh sang suami,
"ini ma, aku belikan gincu
baru. biar kau semangat kerja."
si suami berkata.
"lelaki brengsek, cumak nganggur
saja kerja kau. darimana kau dapat uang buat beli gincu ini?"
seraya menunjuk batang hidung si suami
sang suami hanya terdiam. dengan lirih
ia berkata, "aku habis maling ayam, ma."
"dasar lelaki goblok. tidak berpendidikan. tolol. kalau
mau kaya raya, masa kau cumak curi ayam? harusnya
kau curi cincin emas dan gelangan, biar kita pada banyak uang"
sang suami terdiam lagi. ia tertunduk. lantas mundur
pada hitungan detik dan pergi keluar rumah.
lalu ia pasang wajah gagah, meski baru saja ia kena istri marah
dan kembali larut, dalam kebiasaan sehari-hari, berjudi.
--------------------------------------------------------------------------------
maka sebentar lagi, hari akan dini
sang pelacur tua mulai resah, mau putus asa
ada rasa hendak pulang, tapi kepala pusing bukan kepalang
apa lagi kalau bukan karena uang.
"(nah, ada tiga lelaki muda disana.. hmm. aku akan
menawarkan jasaku kepada mereka)."
"Dek, ayo dek. Sini main sama tante. ayo dek. mumpung
masih sempat. tante sedang diskon besar-besaran dek.
sini.. sini.. sayang, tante kasih peluk dan cium di bibir gratis
buat pemanasan." dengan semangat sang pelacur tua menggoda
"Dek, ayo dek. tante sudah gak tahan. ayo, 50 ribu
bertiga juga ga apa-apa." sang pelacur semakin menjadi
Maka ketiga lelaki muda tadi pun berbincang singkat, lantas
mengumpulkan kepingan uang logam mereka
berharap totalnya sampai 50 ribu, buat berbagi rejeki bersama
sang pelacur tua.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar