Selasa, 18 Maret 2014

Kesedihan

Kesedihan adalah kotanya hati
Tempat dimana ruang-ruang
Abadi kehidupan berkecamuk
Kesedihan bagaikan gurun
Tempat muara sejuta air mata
Yang tersimpan rapat dalam
Deru debu kepalsuan

Apakah kita masih menunggu
Sampai sudi kita untuk berkelambu?
Apakah kita masih akan menunggu
Sampai susah mendera kita?

Maka, katakanlah pada semesta;
Bahwa engkau akan membiarkan hujan
yang datang menyentuh pipimu
untuk membasuh segenap air mata dan
membawanya jauh menuju dasar bumi
untuk melebur bersama sungai bawah tanah
untuk menghilang dalam danau air gurun
agar hilang kesedihan itu
agar sirna kegalauan itu
seiring dengan mengeringnya

wajah dan hatimu dari kesedihan itu.

Jumat, 14 Maret 2014

Dalam jiwa yang sejati ada sebuah pengorbanan

Di keras jiwa yang membentang
Ada kelembutan yang tak tersiar
Di kesejatian sikap
Ada  kerelaan untuk berbagi
Dan di keheningan malam yang sunyi
Ada tangis doa pada tambatan hati

Ia membuang masa indah dalam kehidupannya
Untuk orang yang kadang menyiakannya
Ia meluaskan harapnya, menghapus mimpinya
Lantas melukiskan segala halnya  
Untuk mereka yang ia cinta

Ia diam bukan karena tidak peduli
Tapi ia diam karena pedulinya
Takut kalau bersalah kata
Takut akan melukai orang yang ia cinta
Maka  ia menjaganya, merenunginya
Sebagai sebuah harapan

Ia dingin, bukan karena inginnya
Melainkan karena ingin tambatannya menjadi kuat
Tak melulu hidup dalam tempurung
Ia menjalaninya, kerasnya jalanan,
Kerasnya tikaman dan usikan
Dari orang-orang yang melukainya
Dari orang-orang yang tak tahu
Betapa sesungguhnya semua dilakukan
Hanya untuk kebaikan masa depan
Mereka yang ia anggap patut untuk ada di depan

Pengorbanan pada yang bukan inginnya

Dingin itu bertiup lembut
disertai angin yang mengoles kulit
pada seseorang yang menaruhkan hidupnya
menuju sebuah pengabdian
perahu keluarga

Seseorang yang menghabiskan waktunya
membangun kesejukan rumah yang dalam
Seseorang yang bertahan di  ribuan masalah
yang datang bukan hanya padanya;  melainkan
pada apa yang diurusnya,
pada apa yang dilihatnya,
pada apa yang disaksikannya,
pada apa yang bukan menjadi
tanggung jawabnya,
pada jalan yang tak pernah
ditempuhnya,
ia lantas menyelesaikannya
merelakan sebagian asanya
untuk dibawa oleh kupu-kupu yang muncul
dan pergi dari balik pintu rumahnya

Dan hingga kini
dingin itu masih bertiup lembut, meski;
sesekali menggores luka pada kulit halusnya,
sesekali menelan tulang merapuhnya,
sesekali meringis karena linunya,
namun selalu ada;
seberkas senyum disana
yang mengulas dari balik hatinya yang ikhlas

Senin, 10 Maret 2014

Dengan dekap waktu kita menanti

Dengan dekap waktu kita menanti;
Menghinggapi deru samudara yang mekar
Dengan harap kita berbagi;
Setitik senja dipotong pelangi

Kita menanti
Sedalam rindu air
Yang mendekam dalam gurun pasir
Kita menyaji
Sebuah simfoni nyanyian
Pada daun-daun yang meranggas

Saat-saat kita menjadi hati yang terbagi
Kilaunya kemuning emas tak akan lagi
Menjadi jejak-jejak yang terekam
Saat-saat kita tiba pada tempat tertinggi
Menanti angin adalah sebuah ironi
Terkecuali kita sudah pergi
Sambil menjinjing kepak sayap
Ke sebuah negeri

Yang jauh tak berseri 

Rabu, 05 Maret 2014

Salahkah

Salahkah? pabila aku hanya seperti ini
Melakukan yang aku bisa demi negeri ini
Hanya dengan mencoba menjadi diri yang lebih baik
Lantas berkontribusi sekehendak yang aku ingin

Salahkah? Kalau aku tidaklah seperti kalian
Berteriak lantang di depan gedung-gedung
Menyebut satu persatu kejahatan pemerintah
Meneriaki nama demi nama dalam balutan
Gemanya suara yang sinis?

Salahkah kalau aku cuma bisa memberi
Apa yang aku sanggup beri?
Bersalahkah aku kalau aku tak ikut berperang dalam salah satu lapangan
Sementara sesungguhnya banyak sekali jenis dari lapangan itu?
Salahkah aku kalau aku hanya memilih beberapa satunya,
Yang itu tentu saja berbeda dengan yang kalian mau?
Yang kalian inginkan dari diriku?

Salahkah kalau aku melakukan pembelaan
Atas cemoohan yang kalian tautkan padaku
Tentang seberapa pengecutnya diriku
Karena tak ikut barisan yang kalian gaungkan?

salahkah aku kalau aku hanya mampu berkontribusi
dengan membantu mengembangkan salah satu usaha di sebuah desa?
Salahkah aku kalau aku hanya bisa berkontibusi dengan
Memperkerjakan beberapa orang dalam sebuah kegiatan yang aku lakukan?

Salahkah aku wahai manusia-manusia suci?
Salahkah aku wahai para pejuang dengan retorika memukau?
Salahkah aku wahai aktivis yang suka ‘beraksi’ dengan menghina kami
yang tidak mau ‘beraksi’ karena kami punya hal lain yang kami bisa lakukan?
Salahkah kami kalau kami memiliki jalan yang berbeda dengan kalian?
Salahkah kami kalau engkau terlanjur terkenal sehingga kami yang kurang
dikenal ini hanyalah dianggap sebagai sampah belaka?
Salahkah kami wahai kalian para dewa pembela kebenaran?

Karena setiap orang
punya cara sendiri
dalam memahami negeri ini
Karena setiap orang punya
Pemahaman sendiri tentang
Apa arti dari perjuangan
Karena setiap orang
Punya masing-masing cara
Untuk berbuat yang terbaik bagi negerinya

Entah akan engkau sebut apa tulisan ini
Apakah ini aporisma, pembelaan, bahkan
Omong kosong sekalipun engkau menyebutnya
Yang jelas, aku dan beberapa yang lain
Punya cara sendiri untuk mencintai negeri ini

Untuk membangun negeri ini