untuk kesekian kalinya, istriku..
aku merindukanmu
untuk kesekian kalinya, istriku..
aku menantimu
meski tak tahu siapa dirimu
sedang bagaimana dan dimana
dirimu kini berada
hanya satu ungkapan dariku,
bahwa aku mencintaimu,
sungguh aku mencintaimu
bahkan sudah sejak kita tak saling tahu
Jumat, 29 Agustus 2014
Kau = Mitokondria
kau dan mitokondria
sama-sama gemar bersemayam dalam hati
kau dan mitokondria
sama-sama gemar memberiku energi
sama-sama gemar bersemayam dalam hati
kau dan mitokondria
sama-sama gemar memberiku energi
( ............. & .............. )
Aku jatuh cinta kepadamu
Dan Kau juga (harus) jatuh cinta kepadaku
Maka itulah yang dinamakan cinta sejati
Dan Kau juga (harus) jatuh cinta kepadaku
Maka itulah yang dinamakan cinta sejati
Kusut
hanya ada satu desau saat itu
sewaktu angin melintas cergas
dan jutaan kata sudah terangkai
demi mengindahkan segala konstelasi
perasaan yang sudah menumpuk sekian lama
ada rangkai yang mendayu, juga sendu
meniti rimba-rimba gelora cinta
ada rangkai yang sumbang, tak sambung
merintangi batuan dekat tepi jurang
dan jarak sudah semakin dekat
ada makna yang coba diungkap
dan desir semakin cepat
bersama darah yang makin tidak cerah
seulas senyum menipis
dari balik bibir kisut yang gelap
sepintal harap menjejak
dari balik pikir yang tak lagi kikir
tapi kisut karena menyusut
dan jarak sudah semakin dekat
ada makna yang coba diungkap
dan ada cekat yang keluar cepat
dalam balutan semangat yang singkat
seulas senyum kembali terurai
disambut senyum kecut khas pengecut
sebuah kata ajaib pun muncul darinya
"Hai"
sayang tak ada jawaban
dari balik bibir kisut yang gelap itu
mendadak takut, juga
keburu kisut karena menyusut
alamak...segalanya pun jadi kusut
sewaktu angin melintas cergas
dan jutaan kata sudah terangkai
demi mengindahkan segala konstelasi
perasaan yang sudah menumpuk sekian lama
ada rangkai yang mendayu, juga sendu
meniti rimba-rimba gelora cinta
ada rangkai yang sumbang, tak sambung
merintangi batuan dekat tepi jurang
dan jarak sudah semakin dekat
ada makna yang coba diungkap
dan desir semakin cepat
bersama darah yang makin tidak cerah
seulas senyum menipis
dari balik bibir kisut yang gelap
sepintal harap menjejak
dari balik pikir yang tak lagi kikir
tapi kisut karena menyusut
dan jarak sudah semakin dekat
ada makna yang coba diungkap
dan ada cekat yang keluar cepat
dalam balutan semangat yang singkat
seulas senyum kembali terurai
disambut senyum kecut khas pengecut
sebuah kata ajaib pun muncul darinya
"Hai"
sayang tak ada jawaban
dari balik bibir kisut yang gelap itu
mendadak takut, juga
keburu kisut karena menyusut
alamak...segalanya pun jadi kusut
Dan bagaimana
dan bagaimanakah aku akan masuk
kalau nyatanya hatimu masih kau kunci
sementara kuncinya telah kau buang jauh
entah ada kemana?!
dan bagaimanakah aku akan menari di dalam ruang hatimu,
sementara ruang itu saja masih gelap
karena tak kau nyalakan lampunya?!
dan bagaimanakah aku akan mengurai getah-getah kesedihanmu
kalau untuk menyesapnya aku tak berdaya?!
dan bagaimanakah aku akan mengeringkan sungai kepedihan itu
kalau ternyata mata air kesedihan itu masih saja mengalir dengan derasnya?!
kalau nyatanya hatimu masih kau kunci
sementara kuncinya telah kau buang jauh
entah ada kemana?!
dan bagaimanakah aku akan menari di dalam ruang hatimu,
sementara ruang itu saja masih gelap
karena tak kau nyalakan lampunya?!
dan bagaimanakah aku akan mengurai getah-getah kesedihanmu
kalau untuk menyesapnya aku tak berdaya?!
dan bagaimanakah aku akan mengeringkan sungai kepedihan itu
kalau ternyata mata air kesedihan itu masih saja mengalir dengan derasnya?!
Selasa, 26 Agustus 2014
jam 12 malam
jam 12 malam
dingin mulai menusuk
dan daun-daun pun beterbangan
menyisakan suara senyap;
film-film doktrin itu kini mulai diputar
mereka, wajah-wajah yang sebenarnya
tidak lagi pantas untuk dikatakan polos
(setidaknya mereka pernah berbuat kejahatan dan dosa)
berdiam dalam baris-baris yang penuh
mereka, seperti ikan yang lapar
berkumpul dengan harap makanan
mereka, seperti jamur yang bergumul;
siap dipanen, demi santap siang sang tuan
kini di manakah sang tuan itu?
aku tahu dimana dia berada
namun pertanyaan itu tak hendak buat dijawab
sungguh karena ia hanya bisa ditelusuri
dengan mata, kepala, juga sedikit gumpal daging berbumbu;
hati nurani
dingin mulai menusuk
dan daun-daun pun beterbangan
menyisakan suara senyap;
film-film doktrin itu kini mulai diputar
mereka, wajah-wajah yang sebenarnya
tidak lagi pantas untuk dikatakan polos
(setidaknya mereka pernah berbuat kejahatan dan dosa)
berdiam dalam baris-baris yang penuh
mereka, seperti ikan yang lapar
berkumpul dengan harap makanan
mereka, seperti jamur yang bergumul;
siap dipanen, demi santap siang sang tuan
kini di manakah sang tuan itu?
aku tahu dimana dia berada
namun pertanyaan itu tak hendak buat dijawab
sungguh karena ia hanya bisa ditelusuri
dengan mata, kepala, juga sedikit gumpal daging berbumbu;
hati nurani
sebuah masa dalam kepingan waktu
sebuah masa dalam kepingan waktu
mendekam melalui abu; semu
dalam takwil perlawan, kawan
kita tak pernah lupa pada kelam
bahwa jejak-jejak alam yang kau tinggal
muncul dari balik duli menduri
lalu sepotong kenang itu
melahap jasa-jasa, seakan
merontokkan satu demi satu
logika-logika prematur, ciri khas
pemain muda yang sok tau
bahwa di temaram surau itu
kita pernah bersatu, menderu
menjauhi satu demi satu
sloki yang menjadi kegemaran
di saat rutinitas menjebak kita
bahwa butir-butir putih itu
adalah masalah yang padu
disitu
ada kenang yang aku rasa indah
ada candu agama yang mendera
namun kau, mendadak pergi
menjauh dari apa yang selama ini
menjadi 'ekstasi' halal
dan bukan seperti saat ini
sengaja menjebak diri
pada himpunan awan gelap
menumpuk dalam hutan agar tersesat;
melabuhkan hati pada temaram gelap
tanpa sepotong lilin pun kau genggam
tanpa setitik panas yang kau regam
dan.....
Selasa, 19 Agustus 2014
Elegi lebah senja hari
senja ini, disaat debu-debu bertumpuk
bersama raungan deru gemuruh mesin
kita menyaksikan wajah-wajah yang lelah
pucat pasi dengan rona menghitam
di kulit yang kian menipis
senja ini, disaat satu persatu berhamburan
bak lebah yang keluar dari sarang
kita menyaksikan satu demi satu batang kepala itu
saling menyengat dan menyeruduk
berebut untuk merenggut ratu, nyanyian musim kawin
dan kita adalah lebah yang mulai sadar
mencoba untuk pergi dan menyebar
namun sayang, kawan, kita sudah disini
terikat dengan tadisi dan budaya
untuk saling berebut dan bersikut
merebut madu, merebut jatah kawin dengan ratu
dan kita terpaksa menjalani nasib sama
seperti lebah lainnya
bersama raungan deru gemuruh mesin
kita menyaksikan wajah-wajah yang lelah
pucat pasi dengan rona menghitam
di kulit yang kian menipis
senja ini, disaat satu persatu berhamburan
bak lebah yang keluar dari sarang
kita menyaksikan satu demi satu batang kepala itu
saling menyengat dan menyeruduk
berebut untuk merenggut ratu, nyanyian musim kawin
dan kita adalah lebah yang mulai sadar
mencoba untuk pergi dan menyebar
namun sayang, kawan, kita sudah disini
terikat dengan tadisi dan budaya
untuk saling berebut dan bersikut
merebut madu, merebut jatah kawin dengan ratu
dan kita terpaksa menjalani nasib sama
seperti lebah lainnya
Langganan:
Komentar (Atom)
