kita, dalam memahami liku ini
selalu menderas dalam pekatnya air mata
kita, semenjak memata hingga melena
terpenuhi dengan kelabu yang semu
dan saat kerikil-kerikil tajam
menghentak lewat aksi-aksinya
kita hanya mampu menangis
atau tertawa karena gila
benar-benar tidak mengerti
kenapa bisa terjadi
kita, sewaktu kaki-kaki mencengkram
hanya mampu menggerutu dalam cemas
saat tangan-tangan menjamah api
dan tak berdaya dalam kehampaan
menyisakan abu kesedihan
dan waktu jurang-jurang curam membentang
kita hanya bisa terhenyak dan diam
semantara tanah-tanah mulai berlongsor
siap memangsa seonggok daging
yang mulai berputus asa
dan sampai tiba itu senja
kita masih diam mematung
melupa segala penat
melempar segala kejut
meranggas menanti aral
yang akan membawa
menuju kata pengantar
*Januari 2014, di bawah asap semesta, dan di balik misteri kehampaan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar