Sabtu, 28 Februari 2015

Sejak Pilu

Sejak pilu semburat merona
Memeka telinga surya semata
Butiran debu demi berpadu
Menerjang batin luka terpaku

Dendam mimpi dalam jeratan waktu
Membekaskan simfoni keraguan
Duka pada kemarau senja
Membentangkan keangkuhan duri terjal

Singgah bersama rindu semu
Semerbak jingga harum madu
melepas birahi jarak dengan menepi
Berhenti di peraduan, pada alam tak terperi

Minggu, 15 Februari 2015

Memori Siluet

dalam bayangku, wajahmu masih berupa gelap
bahkan bagaimana tubuhmu, hanya tersamar redup

dalam bayangku, hanya garis tepi yang membekas
bagaimana sebuah kerudung itu, menyimpulkan sisi
membentuk keanggunan

dalam bayangku hari ini, bagaimana dirimu
masih berbentuk kabut siluet
dimana mataku, hanya memicing dengan perlahan
seakan sinar samar itu adalah kejelasan akan dirimu

dan mungkin suatu saat, kata pertama
yang mungkin akan terucap dari mulutku adalah
"bolehkah aku melihat wajahmu?"
lalu "bolehkah aku memegang tanganmu?"

Sabtu, 14 Februari 2015

goede middag , voor Jakarta

regen is net voorbij
en nu is er een glas melk in mijn kamer
een stuk van het verhaal kan worden genomen
maar niet met de werkelijkheid
die onvermijdelijk blijven

niet aanwezig zijn deze avond schemering
die infiltreert gewoonlijk door de spleet nadir
misschien vanmiddag water met bakken naar beneden
in een richting die steeds hack

en een stuk van de middag nu leven dimt
verlaten tempels downstream wind somber
en opnieuw schemering onzichtbaar
omdat de nacht komt

goede middag , voor Jakarta

Segelas Kopi

sepagi ini, gelas kopi sudah bersiap
menampung gula, air mendidih,
dan tentu saja kopi.
dengan tulus, si gelas mempersilahkan
gula untuk datang kepadanya.
dan dengan tulus pula, kopi menceburkan diri
menyusul si gula,
pada pelukan si gelas.

dan sungguh mereka tahu,
kalau segalanya akan sampai disitu;
saat-saat air menumpahkan tubuhnya
dan membawa mereka larut.
mereka mengikhlaskannya,
seolah yakin bahwa mereka tercipta
memang untuk begitu

dan buih-buih letupan pun lalu muncul
mereka seakan berteriak, beriak
mementahkan suatu nasib di kala pagi
menjadi larutan kopi, manis dan pahit
dalam suatu bejana.