aku benci jadi penyair, berkata ini untuk maksud yang itu
hipokrit
aku kesal jadi penyair, bermaksud tajam malah jadi tumpul
sesal
aku marah jadi penyair, kucinta kau, namun kubilang sirna
sedih
aku muak jadi penyair, bilang manusia menjadi kera
tersedu
ssssstttt.....
tapi.. (berkata pelan)
jangan bilang siapa-siapa ya...
ada satu hal yang kusuka dari penyair,
'ia tidak pernah berbohong tentang perasaannya'
jangan beritahu yang lainnya ya
ini rahasia diantara kita saja
kau bisa jaga rahasia kan para pembaca?
Senin, 24 November 2014
Selasa, 18 November 2014
Sajak Pelacur Tua
di pojok sana, duduklah pelacur tua
duduk sambil sedikit mengangkang
tanda sedang pemanasan
bibir merah, ditaburi gincu murah
bekas beli di pasar tadi sore
dibelikan oleh sang suami,
"ini ma, aku belikan gincu
baru. biar kau semangat kerja."
si suami berkata.
"lelaki brengsek, cumak nganggur
saja kerja kau. darimana kau dapat uang buat beli gincu ini?"
seraya menunjuk batang hidung si suami
sang suami hanya terdiam. dengan lirih
ia berkata, "aku habis maling ayam, ma."
"dasar lelaki goblok. tidak berpendidikan. tolol. kalau
mau kaya raya, masa kau cumak curi ayam? harusnya
kau curi cincin emas dan gelangan, biar kita pada banyak uang"
sang suami terdiam lagi. ia tertunduk. lantas mundur
pada hitungan detik dan pergi keluar rumah.
lalu ia pasang wajah gagah, meski baru saja ia kena istri marah
dan kembali larut, dalam kebiasaan sehari-hari, berjudi.
--------------------------------------------------------------------------------
maka sebentar lagi, hari akan dini
sang pelacur tua mulai resah, mau putus asa
ada rasa hendak pulang, tapi kepala pusing bukan kepalang
apa lagi kalau bukan karena uang.
"(nah, ada tiga lelaki muda disana.. hmm. aku akan
menawarkan jasaku kepada mereka)."
"Dek, ayo dek. Sini main sama tante. ayo dek. mumpung
masih sempat. tante sedang diskon besar-besaran dek.
sini.. sini.. sayang, tante kasih peluk dan cium di bibir gratis
buat pemanasan." dengan semangat sang pelacur tua menggoda
"Dek, ayo dek. tante sudah gak tahan. ayo, 50 ribu
bertiga juga ga apa-apa." sang pelacur semakin menjadi
Maka ketiga lelaki muda tadi pun berbincang singkat, lantas
mengumpulkan kepingan uang logam mereka
berharap totalnya sampai 50 ribu, buat berbagi rejeki bersama
sang pelacur tua.
duduk sambil sedikit mengangkang
tanda sedang pemanasan
bibir merah, ditaburi gincu murah
bekas beli di pasar tadi sore
dibelikan oleh sang suami,
"ini ma, aku belikan gincu
baru. biar kau semangat kerja."
si suami berkata.
"lelaki brengsek, cumak nganggur
saja kerja kau. darimana kau dapat uang buat beli gincu ini?"
seraya menunjuk batang hidung si suami
sang suami hanya terdiam. dengan lirih
ia berkata, "aku habis maling ayam, ma."
"dasar lelaki goblok. tidak berpendidikan. tolol. kalau
mau kaya raya, masa kau cumak curi ayam? harusnya
kau curi cincin emas dan gelangan, biar kita pada banyak uang"
sang suami terdiam lagi. ia tertunduk. lantas mundur
pada hitungan detik dan pergi keluar rumah.
lalu ia pasang wajah gagah, meski baru saja ia kena istri marah
dan kembali larut, dalam kebiasaan sehari-hari, berjudi.
--------------------------------------------------------------------------------
maka sebentar lagi, hari akan dini
sang pelacur tua mulai resah, mau putus asa
ada rasa hendak pulang, tapi kepala pusing bukan kepalang
apa lagi kalau bukan karena uang.
"(nah, ada tiga lelaki muda disana.. hmm. aku akan
menawarkan jasaku kepada mereka)."
"Dek, ayo dek. Sini main sama tante. ayo dek. mumpung
masih sempat. tante sedang diskon besar-besaran dek.
sini.. sini.. sayang, tante kasih peluk dan cium di bibir gratis
buat pemanasan." dengan semangat sang pelacur tua menggoda
"Dek, ayo dek. tante sudah gak tahan. ayo, 50 ribu
bertiga juga ga apa-apa." sang pelacur semakin menjadi
Maka ketiga lelaki muda tadi pun berbincang singkat, lantas
mengumpulkan kepingan uang logam mereka
berharap totalnya sampai 50 ribu, buat berbagi rejeki bersama
sang pelacur tua.
Makan-makan
ada ikan sedang makan kucing
juga bebek lagi goreng paha manusia
di penyet padi, dibakar daun kemangi
kodok-kodok duduk rapi
pada menunggu sarapan jadi
ular bumbu balado
yang dpadu dalam mangkuk ukuran jumbo
juga ada geng ayam
ayam kampung, ayam negeri, ayam kate
sedang menanti gulai ayam kampus
masih segar, baru potong, diambil
dari kos-kosan pelacur sebelah
kamu mau bergabung?
cukup bawakan kami sambal kentang
hati manusia yang penuh luka
juga bebek lagi goreng paha manusia
di penyet padi, dibakar daun kemangi
kodok-kodok duduk rapi
pada menunggu sarapan jadi
ular bumbu balado
yang dpadu dalam mangkuk ukuran jumbo
juga ada geng ayam
ayam kampung, ayam negeri, ayam kate
sedang menanti gulai ayam kampus
masih segar, baru potong, diambil
dari kos-kosan pelacur sebelah
kamu mau bergabung?
cukup bawakan kami sambal kentang
hati manusia yang penuh luka
Selasa, 11 November 2014
Pada suatu malam
Pada suatu malam yang dingin
pemuda itu duduk di tepi
sebuah jalan
terombang-ambing dalam sengketa
pencarian nasib
saat itu ia sedang letih
kakinya gemetar sedih
karena jalan yang ditempuhnya
penuh kerikil nan memberikan luka
di dalam hatinya ia mengusap
air mata kesedihan
yang tertampak seperti luapan kantuk
ia menyekanya perlahan
menyisikan bulir-bulir
yang mengalir menuju hilir wajahnya
pemuda ini punya mimpi yang sederhana;
ia tak ingin letih lalu duduk di tepi jalan
karena sedih mencari titik nasib
yang terasa semakin dingin
Senin, 10 November 2014
Tanda Tanya
seorang perempuan termangu
memandang deret bukit
dari bingkai jendela alam
ia mamatung, menajamkan mata
namun melapangkan hati
kepada himpitan masalah
yang senantiasa meradang
dan tetiba ia tersedak
kaget melihat seorang lelaki
di saat malam sedang
menampilkan jejak-jejak penuh emosi;
ia mabuk sambil membanting handphonenya
"dasar wanita jalang"
kata si lelaki penuh amarah dan duka
dan sang perempuanpun hanya tertunduk
teringat masa kelam yang baru saja dilaluinya
"lebih baik kita cerai mas"
pinta sang perempuan, waktu itu
lalu mereka berdua duduk saling berdekatan
tak saling pandang, meski ada rasa ingin
"aku menyesal membuat keadaan menjadi begini"
sesal sang lelaki dalam lirih
"aku sedih telah kehilangan suami"
seru sang perempuan dalam hati
maka setelah masa yang agak panjang dan hening
mereka memaksa untuk saling melihat
meski pada saat itu suasana taman sedang remang.
sampai kini keduanya bersitatap;
"parmin??" tanya sang perempuan
"minah??" tanya pula sang lelaki, heran
dan mereka berdua kembali terdiam, lalu mempertanyakan
untuk apa mereka melempar sesal dan tanda tanya
memandang deret bukit
dari bingkai jendela alam
ia mamatung, menajamkan mata
namun melapangkan hati
kepada himpitan masalah
yang senantiasa meradang
dan tetiba ia tersedak
kaget melihat seorang lelaki
di saat malam sedang
menampilkan jejak-jejak penuh emosi;
ia mabuk sambil membanting handphonenya
"dasar wanita jalang"
kata si lelaki penuh amarah dan duka
dan sang perempuanpun hanya tertunduk
teringat masa kelam yang baru saja dilaluinya
"lebih baik kita cerai mas"
pinta sang perempuan, waktu itu
lalu mereka berdua duduk saling berdekatan
tak saling pandang, meski ada rasa ingin
"aku menyesal membuat keadaan menjadi begini"
sesal sang lelaki dalam lirih
"aku sedih telah kehilangan suami"
seru sang perempuan dalam hati
maka setelah masa yang agak panjang dan hening
mereka memaksa untuk saling melihat
meski pada saat itu suasana taman sedang remang.
sampai kini keduanya bersitatap;
"parmin??" tanya sang perempuan
"minah??" tanya pula sang lelaki, heran
dan mereka berdua kembali terdiam, lalu mempertanyakan
untuk apa mereka melempar sesal dan tanda tanya
Hujan Rintik
hujan di pagi ini merintik letih
berbentuk bulir-bulir lelah yang jatuh meluruh
dan awan putih tak lagi riang
karena kelabu mulai datang menjelang
sunyi
sepagi ini adalah hari yang sepi
pada sebuah makna perjalanan
di sepilihan waktu
senyap
tak ada bunyi selain rintik
yang letih pada bulir-bulir yang meluruh
jatuh dan lelah
Jatinangor, November 2014
berbentuk bulir-bulir lelah yang jatuh meluruh
dan awan putih tak lagi riang
karena kelabu mulai datang menjelang
sunyi
sepagi ini adalah hari yang sepi
pada sebuah makna perjalanan
di sepilihan waktu
senyap
tak ada bunyi selain rintik
yang letih pada bulir-bulir yang meluruh
jatuh dan lelah
Jatinangor, November 2014
Aku kabarkan
aku kabarkan rindu itu pada awan, tapi ia menolak dan memilih menyepi di ujung bukit seraya menangis melalui bentuk hujannya yang rintik
lalu aku sampaikan pada burung, namun ia menampik seraya pergi meluas cakrwala, mencoba menahan dengan membawanya sendiri ke dalam alam sunyi
dan sebelum sempat aku berkata lagi, kini debu pun bersabda;
''jadi ikhlas, selayaknya aspal yang tak pernah menuntut apa meski tubuhnya senantiasa dirajam roda''
dan kini aku pun tersipu, menahan malu pada rindu itu.
lalu aku sampaikan pada burung, namun ia menampik seraya pergi meluas cakrwala, mencoba menahan dengan membawanya sendiri ke dalam alam sunyi
dan sebelum sempat aku berkata lagi, kini debu pun bersabda;
''jadi ikhlas, selayaknya aspal yang tak pernah menuntut apa meski tubuhnya senantiasa dirajam roda''
dan kini aku pun tersipu, menahan malu pada rindu itu.
Langganan:
Komentar (Atom)
