mendekam melalui abu; semu
dalam takwil perlawan, kawan
kita tak pernah lupa pada kelam
bahwa jejak-jejak alam yang kau tinggal
muncul dari balik duli menduri
lalu sepotong kenang itu
melahap jasa-jasa, seakan
merontokkan satu demi satu
logika-logika prematur, ciri khas
pemain muda yang sok tau
bahwa di temaram surau itu
kita pernah bersatu, menderu
menjauhi satu demi satu
sloki yang menjadi kegemaran
di saat rutinitas menjebak kita
bahwa butir-butir putih itu
adalah masalah yang padu
disitu
ada kenang yang aku rasa indah
ada candu agama yang mendera
namun kau, mendadak pergi
menjauh dari apa yang selama ini
menjadi 'ekstasi' halal
dan bukan seperti saat ini
sengaja menjebak diri
pada himpunan awan gelap
menumpuk dalam hutan agar tersesat;
melabuhkan hati pada temaram gelap
tanpa sepotong lilin pun kau genggam
tanpa setitik panas yang kau regam
dan.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar