Senin, 28 Juli 2014

Untuk kamu istriku (suatu saat nanti)

kau tahu, alam baru berhujan
bersama aku yang terdiam duduk
dengan gemericik air sisa tangis awan

kau tahu, surya mengelam tadi sore
bersahutan dengan angin yang berbisik
lantas bersuara "rindukah engkau?"

aku kaget, bergidik dengan bulu rona
dan angin itu tetap melaju
meraba setiap inci kulitku
terus menyeluruh, pergi ke arah atas
mencari-cari daun telingaku, dan berlirih
menggumam kalimat itu lagi dan lagi

hingga pada suatu ketika, aku tersadar
kalau lirih itu adalah pesan darimu
yang kau titipkan pada angin tadi
sebagai sebuah isyarat
tentang kesadaran hadirmu di kehidupanku
suatu saat nanti

Tidak ada komentar:

Posting Komentar