Kemudian aku lihat;
sepasang sendal butut yang saling bercengkrama,
berdebat tentang siapa diantara mereka
yang paling berjasa bagi majikannya
Dan aku bersitatap;
pada awan-awan gempal yang merapal
seperti berdoa pada Tuhan
untuk memintakan hujan agar tak jadi datang
Hingga kuping terngiang;
pada sorak sorak pelaut yang datang
yang membawa hasil tangkapan berupa udang
dan kepalang, karena hilang asa mencari uang
dan tetiba pula merindukanmu;
tersadar senyum indah itu menyapaku
dari balik bukit ketidaksadaranku
bahwa kini engkau hanya ada dialam mimpi itu
bukan lagi nyata seperti dulu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar