Jumat, 20 Juni 2014

Sendu


Bertahun lamanya aku mendaki
Sebuah titian yang tak pernah sampai
Pada titik atas yang berupa puncak

Sekian lama aku mencari
Sebuah jawaban atas pertanyaan
Yang sesungguhnya tak perlu aku pertanyakan

Dan disaat waktu terus bergulir
Perlahan seberkas cahaya pun muncul
Cahaya itu berwarna terang
Dengan sedikit bias yang tak terlalu
Menyilaukan mata

Aku tahu engkaulah cahaya itu
Cahaya yang tiba-tiba saja hadir
Dan aku tahu kapan pertama kalinya
Engkau menyapa keberadaanku

Hingga rindu perlahan mulai terpadu
Bertemu pada satu titik silang
Yang kemudian aku namakan sendu
Yang juga sekaligus jadi namamu
Meski kuyakin engkau tak akan pernah tahu

Sendu, bisikku pada angin yang melintas
Kelak akan membawanya
ke hadapan jendela rumahmu
menanti engkau untuk mendengar
seraya mengucapkan sebuah jawaban untukku

sendu, kadang aku titipkan rindu
pada dinginnya hujan
dan membiarkannya menyesap
memasuki sungai bawah tanah
dan berharap agar ia membawanya
menuju kediamanmu
agar kau gunakan air itu
untuk membasuh wajahmu itu

sendu, sekali waktu aku titipkan
berbagai macam perasaan yang ada padaku
kepada lirih-lirih doa yang kelu
dengan penuh harap, dan rasa rindu
yang tak mungkin lagi terbendung
sampai suatu saat nanti apakah kau akan mengetahui

atau justru pergi tanpa lagi memberi sebuah arti 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar