Senin, 28 Juli 2014

Untuk kamu istriku (suatu saat nanti)

kau tahu, alam baru berhujan
bersama aku yang terdiam duduk
dengan gemericik air sisa tangis awan

kau tahu, surya mengelam tadi sore
bersahutan dengan angin yang berbisik
lantas bersuara "rindukah engkau?"

aku kaget, bergidik dengan bulu rona
dan angin itu tetap melaju
meraba setiap inci kulitku
terus menyeluruh, pergi ke arah atas
mencari-cari daun telingaku, dan berlirih
menggumam kalimat itu lagi dan lagi

hingga pada suatu ketika, aku tersadar
kalau lirih itu adalah pesan darimu
yang kau titipkan pada angin tadi
sebagai sebuah isyarat
tentang kesadaran hadirmu di kehidupanku
suatu saat nanti

Badut

kita adalah badut
yang dipaksa hidup dalam 'panggung'

kita adalah badut
yang diminta untuk berperan dan berperangai

kita adalah badut
yang disuruh tertawa meski hati sedang menderita

kita adalah badut
yang ceria dalam tingkah, meski perasaan sedang bagai terhujam anak panah

kita adalah badut
yang diminta untuk menghibur
agar suatu saat mendapat 'imbalan'
berupa kebahagiaan yang 'abadi'





Minggu, 20 Juli 2014

Palsu

rinci adalah inti
sewaktu dusta dibuktikan dengan kata
rinci adalah kunci
yang akan sudi kalau sudah berahi

minah, sudikah kamu kepadaku?
melayani darah yang sudah mendidih
diatas laju otak di kepalaku ini?

sruni, maukah kau mengayomi
detak demi detak sentuhan halus
yang aku susuri dari sebuah lembah yang rendah?

ariani, relakah puan untuk aku dekati
sambil membawa deras keringat
yang muncul setelah erangan yang tajam?

michele. inginkah engkau duduk disini denganku
dengan menelusuri lekuk-lekuk
air mata yang tercekat diatas rona pipimu?

rinci adalah inti
sewaktu dusta dibuktikan dengan kata
namun dalam kesejatian itu adalah palsu
berbohong demi keadaan
semakin membuatku tak lagi dalam kemerdekaan
dari angkara nafsu yang palsu

Suram

matari hitam muncul dari bawah 
ketiak-ketiak alam di suryakencana
duduk dalam kemuning rintih
dalam dekapan peluh suci 

parman menyendiiri bersama desah 
meremang seputih keabadian 
dan menerkam sugi yang kejam 
meraung dari balik prasangka 

ada sekisah pasang mata 
menunduk tak berisi 
semerbak harum bunga padi 
dikasak kusuk jerangan pohon tebu 
berisik, berbisik-bisik 
bergema-gema kecil 


Sabtu, 19 Juli 2014

kita dan tertawa

teruntuk kawanku F

mungkin kita bukanlah orang terbaik
mungkin pula bukan manusia yang baik
tapi yakinlah kawan, setidaknya kita telah mencoba
untuk tidak meneteskan airmata karena
ketidakberuntungan

mungkin kita adalah yang paling sedikit
tertawa dalam denting yang berlalu
tapi yakinlah teman, bahwa setidaknya kita telah berjalan
pada titian setapak jalan yang baik
meski duri senantiasa menusuk
pada setiap asa kala kita menyibak duka

mungkin mereka terlihat indah
namun apakah benar begitu?
kitalah yang indah itu kawan
lihatlah, saat kita ingin melepaskan kekangan ini
ratusan bahkan ribuan orang lain justru menginginkannya
mereka menginginkan kehidupan kita
masihkah engkau tertunduk malu kawan
pada takdir dan jalan nasib yang diberikan Tuhan?
masihkah engkau merasakan luka pada hidup
yang memberi kita banyak keindahan?
masihkah wahai kawan
kita tak lagi riang dalam simfoni musik nan ritmis
yang kita mainkan malam-malam dahulu?

tenang saja. meski tak ada satu orang yang mendukungmu
kita masih bisa bersama untuk melawan
tenang saja, walau rintangan seolah tak berhenti menantang
kita habisi mereka bersama, sampai kita tiba
pada suatu titik dimana kita hanya akan tertawa
pada segala upaya dan selaksa yang dulu mendera kita

Tiba-tiba melankolis

aku tahu, waktu berjalan sangat lambat
menjentik detik demi detik
sama dengan menanti sebuah bayang dalam kegelapan
tak terlihat

aku tahu, kau memang masih disitu
tidak pergi karena jarak
tidak menghilang karena jam terbentang
masih ada di tempatmu yang dulu

aku tahu, kau mungkin tak pernah ingin menantiku
atau sekedar melabuhkan pandangan padaku
atau memicingkan mata pada belas wajah yang aku tampakkan
atau pada belas harap yang aku tawarkan

namun aku juga tahu,
sedikit demi sedikit tentang kenyataan itu
tentang kau yang tak kunjung mengikutiku
tentang kau yang hanya memandangku
dari ufuk kejauhan tak bertepi
tak mengapa aku baik-baik saja

tak mengapa kau tak berjalan denganku
tak mengapa kau memilih untuk berlalu
meski sudah banyak yang terlewat
meski sudah banyak berjejak-jejak harap
tak mengapa, aku akan baik-baik saja

bukan salahmu yang tak datang kepadaku
bukan salahmu yang seolah memberi madu
bukan, ini bukan salahmu
ini adalah kenyataan
yang harus aku terima

dan biarkan segala uraian akan jadi kenangan
dan biarkan segala harap tesisa jadi debu
dan biarkan semua susunan mimpi hancur menderu
karena aku akan tetap disini
meski tak (mungkin) menanti dirimu lagi