Aku menjejak jentik air di kala malam
Menyelinap masuk sambil membuka titian
Aku melahap duri padam di kala senja
Berpesta pora dengan si bunga dunia
Saat kau terkapar mesra dengannya
Aku tak hendak mencoba mengurai
Sebuah tanya yang tak terjawab
Sebuah ungkap yang dihias kurap
Merintih bersama daun-daun pembaringan
Kau lalu bertanya, “inikah salahku?”
Aku tercenung menunggu
Lantas kau berbalik, memukul rindu itu
kemudian tertinggal lah sosok bayangmu,
menyisakan wangi yang tak pernah tersakiti
kini ruang itupun sudah menjadi gelap,
cahaya pun malu untuk mulai menyeruak
Maka sudahi saja kegentingan ini
Dan kembali merapal setiap jentik air
di kala malam