ada, tukang pisang yang sudah berumur
menjaja dagang sampai malam larut
ada manusia-manusia menjamur
dalam pesta pora sampai malam larut
ada tukang sol sepatu, ada tukang sendal kulit
duduk di emper masjid, selepas magrib
satu persatu mencoba menawarkan barang
namun hanya satu dua yang menjawab ajakannya
sisanya habis, sedihlah tertinggal dalam hati
mau apalagi, inilah yang terjadi
ada anak jalanan malam-malam
duduk-duduk di pos polisi yang ditinggal
kini mereka tak lagi dapat uang
karena banyak yang mengira
bahwa mereka lebih kaya
padahal tidak, koruptor itulah
yang lebih kaya, bahkan raya
karena mereka begini
juga karena mereka
bukan mau mereka (anak-anak itu)
mereka ditinggal ayahnya
sosok lelaki yang seharusnya melindungi
sosok yang semestinya jadi panutan hati
tambatan hati untuk hidup ini
tapi ternyata pergi, jauh entah kemana
mereka ditinggal ibunya
yang jadi penjaja malam
yang jadi pemilik jajanan malam
pula yang menjual kopi untuk pembeli jajanan malam
kasihan mereka. tapi ternyata ada yang lebih kasihan. siapa dia?
ternyata itu adalah aku. yang ada disini
duduk menuliskan tentang mereka seolah mereka tidak bahagia dengan hidupnya
padahal aku hanya melihat,tapi aku tidak merasa
oh apalah aku ini. banyak sok tahu tentang apa yang terjadi. kasihan si aku
Jumat, 29 November 2013
Andai
andai rembulan bisa datang kesini
duduk menemaniku dalam sunyi
andai awan bisa mendekat kemari
memelukku sambil merasai sesuatu yang terbagi
dan andai sang waktu mau berbaik hati
memberikan toleransi untuk bersama memperbaiki
dan jam pasir itu pun terus bergerak
sedikit demi sedikit melepas menjarak
dengan awan, dengan masa
bersama waktu, bersama sukma
sampai pada dimensi jarak yang tak terukur
hingga manusia hanya terpekur
dalam jantung waktu yang sudah tak terulur
duduk menemaniku dalam sunyi
andai awan bisa mendekat kemari
memelukku sambil merasai sesuatu yang terbagi
dan andai sang waktu mau berbaik hati
memberikan toleransi untuk bersama memperbaiki
dan jam pasir itu pun terus bergerak
sedikit demi sedikit melepas menjarak
dengan awan, dengan masa
bersama waktu, bersama sukma
sampai pada dimensi jarak yang tak terukur
hingga manusia hanya terpekur
dalam jantung waktu yang sudah tak terulur
Rabu, 13 November 2013
Tidakkah kalian iri pada kami
"dulu aku takut, jikalau menyentuh sedikit saja tanganmu
maka ia akan jadi tumpukan dosa bagiku
dulu aku takut, kalau menggodamu sedikit saja
maka itu akan jadi ajang tambah dosa bagiku
dulu aku ragu, sewaktu akan mendatangi rumah orang tuamu
khawatir akan ditolak mentah-mentah karena awamnya ilmu dan amalku
dulu akau begitu grogi, ketika mengutarakan untuk menjemputmu putri
sungguh saja gemetar hati ini, saat menyaksikan ayahmu duduk di depanku
tapi kini aku tak lagi begitu,
kalau dulu menyentuh tanganmu membuatku berdosa
kini menggenggam jemarimu saja membuat aku mendapatkan pahala
kalau dulu menggodamu sedikit saja membuat aku nanti nestapa
maka kini membohongimu dengan mengatakan dirimu jelek saja
dengan maksud menggoda dan senda gurau
malah membuat aku berpahala
sungguh tiada tara nikmat seperti ini
dan untuk para penunggu, ayo segerakan
apa lagi yang kamu tunggu
tidakkah kalian sedikitpun iri kepada kami?"
begitu kata seorang lelaki yang lebih tua dariku
"tentu saja kami iri pada kalian wahai kakak, mas, mbak, akang, teteh, abang, mpok" jawabku :)
maka ia akan jadi tumpukan dosa bagiku
dulu aku takut, kalau menggodamu sedikit saja
maka itu akan jadi ajang tambah dosa bagiku
dulu aku ragu, sewaktu akan mendatangi rumah orang tuamu
khawatir akan ditolak mentah-mentah karena awamnya ilmu dan amalku
dulu akau begitu grogi, ketika mengutarakan untuk menjemputmu putri
sungguh saja gemetar hati ini, saat menyaksikan ayahmu duduk di depanku
tapi kini aku tak lagi begitu,
kalau dulu menyentuh tanganmu membuatku berdosa
kini menggenggam jemarimu saja membuat aku mendapatkan pahala
kalau dulu menggodamu sedikit saja membuat aku nanti nestapa
maka kini membohongimu dengan mengatakan dirimu jelek saja
dengan maksud menggoda dan senda gurau
malah membuat aku berpahala
sungguh tiada tara nikmat seperti ini
dan untuk para penunggu, ayo segerakan
apa lagi yang kamu tunggu
tidakkah kalian sedikitpun iri kepada kami?"
begitu kata seorang lelaki yang lebih tua dariku
"tentu saja kami iri pada kalian wahai kakak, mas, mbak, akang, teteh, abang, mpok" jawabku :)
Doaku padamu
dari kedua bola mata itu
aku melihat sebuah pemandangan
sebuah masa dimana segala upaya
akan menjadi nyata, senyata apa yang pernah
diimpikan dalam relung terdahulu
dari kedua bongkah pasang itu
aku berhasil mendapati
sebuah optimisme masa depan
merenda sebuah kebijaksaan kuno
yang dikenal dengan nama keluarga
dari kedua sisi sayu mata itu
aku menelusuri sebuah tempat
yang tidak akan pernah sekalipun ada
di tempat-tempat di dunia
aku hidup di dalamnya, bersama
dengan pemilik kedua pasang mata itu
juga bersama prajurit-prajurit kecil
yang begitu membanggakan hatiku dan hatinya
dan dari ujung yang berjauhan
kini aku hanya mampu mendoakan
sebagai sebuah bentuk penjagaan
karena keterbatasan yang aku dan dia miliki
yaitu tempat, waktu, bahkan mungkin dimensi
dari ujung sini aku mengungkapkan salam
semoga kau mendengarnya dengan takzim
mungkin jua menjawabnya dengan seuntai doa
Ya Rabb. Petautkanlah hati hati kami karena-Mu
jika kalau karena fisik, maka ia akan luruh
jika kalau karena hati, ia akan berubah
tapi jika karena-Mu, ya Rabb
Engkau yang akan menjaganya
maka hamba mohon ya Rabb
untuk berkenan menjaganya
Jagalah ia ya Rabb
kuatkan jiwanya, hatinya, juga raganya
moga ikhlas menunggu, atau menanti
dengan keanggunan iman dalam diri
aku melihat sebuah pemandangan
sebuah masa dimana segala upaya
akan menjadi nyata, senyata apa yang pernah
diimpikan dalam relung terdahulu
dari kedua bongkah pasang itu
aku berhasil mendapati
sebuah optimisme masa depan
merenda sebuah kebijaksaan kuno
yang dikenal dengan nama keluarga
dari kedua sisi sayu mata itu
aku menelusuri sebuah tempat
yang tidak akan pernah sekalipun ada
di tempat-tempat di dunia
aku hidup di dalamnya, bersama
dengan pemilik kedua pasang mata itu
juga bersama prajurit-prajurit kecil
yang begitu membanggakan hatiku dan hatinya
dan dari ujung yang berjauhan
kini aku hanya mampu mendoakan
sebagai sebuah bentuk penjagaan
karena keterbatasan yang aku dan dia miliki
yaitu tempat, waktu, bahkan mungkin dimensi
dari ujung sini aku mengungkapkan salam
semoga kau mendengarnya dengan takzim
mungkin jua menjawabnya dengan seuntai doa
Ya Rabb. Petautkanlah hati hati kami karena-Mu
jika kalau karena fisik, maka ia akan luruh
jika kalau karena hati, ia akan berubah
tapi jika karena-Mu, ya Rabb
Engkau yang akan menjaganya
maka hamba mohon ya Rabb
untuk berkenan menjaganya
Jagalah ia ya Rabb
kuatkan jiwanya, hatinya, juga raganya
moga ikhlas menunggu, atau menanti
dengan keanggunan iman dalam diri
Menerjang Cinta Muda
sudah kuduga sejak mula
bahwa mungkin ini yang dinamakan cinta
setiap jengkal demi jengkal waktu yang aku coba
buang
tak surut untuk merontokkan rasa ini
bahkan sampai tubuh ringkih, letih, dan tanpa muara
ia masih saja bercokol dalam kemelut jiwa
aku tersiksa, pada rindu batin yang melayang
menjejak dalam gulita yang terpendam
aku menderita, pada kecewa yang dulu singgah
yang menikam jaring-jaring ulu hati
cinta. Mengapa engkau tega kepadaku?
Membiarkan dirimu menerjang, dan
Memukul jatuh segala harap yang aku titipkan
Pada sela-sela keelokan warna tubuhmu
Yang aku sampaikan dengan bisik halus
Di pembuluh-pembuluh jantungmu itu
Dan kini, sempurna sudah
Segala ingin yang meratap dalam kehampaan
Dan kini, mendekam pula
Segala asa yang tak terbendung dalam waktu
Menelusuri setiap kolom-kolom nadiku sendiri
Meniup udara resah pada ungkapan, tak terbalaskan
Begitu terus dan terus begitu
Sampai nanti, sampai aku sudah tak lagi bersandiwara
Bersandiwara untuk melupakanmu
Selasa, 12 November 2013
Sajian Malam
bulan
yang tersenyum tipis
dan
gemintang yang berkelip genit
adalah
sajian semesta terindah yang pernah ada
desau
angin yang menyentuh kuduk
serta
daun yang takzim mengangguk
adalah
kelezatan lain dalam surau malam
suara
katak dalam air keruh
dan
gumpal awan yang saling berkejaran
adalah
keceriaan masa yang tak terbeli
batu-batu
yang berbaris di tanah
serta
rona jingga lampu jalan
adalah bentuk
kesetiaan pada mata
suara
mesin motor yang meraung
dan
gemericik hujan gerimis
adalah
santapan hangat di saat sela
tapi
manusia sering kali lupa
tapi
manusia suka sekali durjana
hingga
manusia acapkali merasa nestapa
pada
dunia yang begini sedapnya
ah,
nikmat mana lagi yang kamu dustakan?
Maka benarlah
kitab suci, itu
Bahwa yang
buta bukanlah mata, tapi hati yang ada
di dalam dada
Langganan:
Komentar (Atom)