Jumat, 20 Juni 2014

wanita jalang?

Di jalan yang sunyi
Dia mendekam dengan sepi
Dan Semilir angin gelap tunjukan
Mata-mata yang dingin
Merajai satu demi satu rinci tubuh
Yang berfantasi sampai tinggal
dalam jeruji mimpi

wanita-wanita lain berpendar
saling melempar ejek sesama
satu berteriak, memekik dengan anggun
pada gerombolan pemuda berbadan gelap
dengan celana loreng, mereka todongkan senjata
pada wanita yang memekik tadi
agar mau diajak pergi, untuk melayani

dengan kaki yang disilangkan
juga rokok putih yang baru saja menyala
ia menyibak todongan senjata itu
‘kau pikir aku disini karena apa, hah?’
Seorang pemuda gelap berdiri tegap
Kaget dan mulai marah
‘wanita jalang, kau berani menahan kehendakku’
Dan wanita hanya diam, tapi sorot mata itu
Tak sedikitpun menampakkan ketakutan
‘sini kau, akan kuberi kau pelajaran’

Lelaki tadi bermuka masam dan merah
Sang wanita tergeret menuju aspal jalan
Ditariknya lengan lelaki, gagal
Dipukulnya tubuh atletis si lelaki
Percuma, ia makin menjadi
Wanita lengah, dan ia ditampar keras
Hingga berdarah permukaan wajah
Hingga tersungkur jauh beribu peluh

Hingga sendiri dan tak sadarkan diri

dunia kini

Dunia perputar setiap hari
Malam mengganti hari dan siang bersaji
Siang lelah dan malam mulai menyangga
Dan setiap lelaki hilir kesana kemari
Wanita tak kalau sudi, pergi lagi dan lagi
Inilah dunia kini

Semua tampak sibuk, saling melempar strategi
Agar datanglah itu keberuntungan
Yang dinamakan harta dan uang
Semua tampak saling sikut
Seolah hewan-hewan yang kelaparan
Yang tak makan berlama-lama hari
Inilah dunia kini

Dan jalan-jalan penuh kendaraan
Tanah-tanah penuh bangunan
Udara penuh asap menyesakkan
Inilah dunia kini, kawan

Semua terbit dengan teratur
Sekehendak apa yang sudah dibuat
Semua berderap denga nafas yang terukur
Pagi petang dengan menyisakan penat
Inilah dunia kini, sahabat 


Dan aku sungguh tidak sudi untuk itu
Aku adalah manusia bebas
Tapi sayangnya itu tidak mungkin
Untuk aku hindari
Dan sampai suatu saat nanti aku pula
Menjadi seperti mereka ini.

Dan inilah dunia kini, duhai penghampa sepi

Aku Lapar


Aku lapar.  Sepagi ini.
Aku lapar tak ada bendi
Aku lapar tak ada uang
Aku lapar tinggal perut berdetak

Aku lapar, uang tinggal sepeser
Aku lapar tak cukup hingga pekan depan
Aku lapar hanya mampu termenung
Aku lapar sarapan pagi berupa angin

Aku lapar. Aku lapar. Aku lapar.
Aku ingin makan. Ingin makan.ingin makan.
Dan aku lapar, ingin makan

Tapi aku tak sendiri
Diujung ada lelaki meringis semaput
Kulihat wajah dekil dengan rona pucat
Ia lapar. Ah iya, dia kelaparan.

Kuberjalan pergi, kutemui anak kecil
Ia berbaju sobek sana-sini,
Sesenggukan menahan derai air mata
Yang membentuk sungai kecil di wajahnya
Ternyata ia lapar. Ah iya, dia juga kelaparan.

Kini sudah tiga yang kelaparan.
Kususuri lagi jalan, karena tak ada uang.
Tak pula kupeduli pula mereka
Karena aku juga lapar.

Kulewati sebuah restoran
Dari jauh terlihat orang makan
Sementara aku juga lapar
Hasratku meninggi ingin sekali makan
Ada rasa meminta, namun hati merasa tak suka
Tetapi aku sudah terlanjur lapar
Ah sudahlah. Aku pergi saja

Tubuhku dingin, mataku agak memburam
Angin melengkapi semuanya
Aku masih lapar, dengan kaki yang bergetar
Kususuri lembah jalan
Sambil menegang perut
Kususuri awan hitam di atas kepala
Dengan mata sembab yang ingin makan
Aku lapar, ya Tuhan.



--- sajak ini bukan tentang aku, tetapi tentang mereka yang hidup di jalan, tak punya tempat tinggal dan selalu lapar. 

Dua buah tanya

Aku membawa segenggam harap dari balik asa
Membangunkan segala titah yang pernah  tenggelam
Bersama lautan duri yang tak pernah erlihat jelas

Aku menjinjing seikat mimpi ke dalam kain suci
Menerawang menjejaki satu demi satu titian fana
Hingga merasa akan melabuhkannya
pada suatu hari yang jingga

Aku menelusupi rimbunnya kecemasan
Menelisik bait demi bait dalam konstelasi murni
awan hitam yang perlahan kini telah memudar

bisakah aku membawa ‘kita’ menuju keabadian?
Mungkinkah aku membimbingmu menuju kesucian?
Tanyaku padamu

Dan kau hanya menjawab,
“Keindahan itu hanya ada pada apa yang aku temui,

dan bukan pada apa yang aku nanti”


Sendu


Bertahun lamanya aku mendaki
Sebuah titian yang tak pernah sampai
Pada titik atas yang berupa puncak

Sekian lama aku mencari
Sebuah jawaban atas pertanyaan
Yang sesungguhnya tak perlu aku pertanyakan

Dan disaat waktu terus bergulir
Perlahan seberkas cahaya pun muncul
Cahaya itu berwarna terang
Dengan sedikit bias yang tak terlalu
Menyilaukan mata

Aku tahu engkaulah cahaya itu
Cahaya yang tiba-tiba saja hadir
Dan aku tahu kapan pertama kalinya
Engkau menyapa keberadaanku

Hingga rindu perlahan mulai terpadu
Bertemu pada satu titik silang
Yang kemudian aku namakan sendu
Yang juga sekaligus jadi namamu
Meski kuyakin engkau tak akan pernah tahu

Sendu, bisikku pada angin yang melintas
Kelak akan membawanya
ke hadapan jendela rumahmu
menanti engkau untuk mendengar
seraya mengucapkan sebuah jawaban untukku

sendu, kadang aku titipkan rindu
pada dinginnya hujan
dan membiarkannya menyesap
memasuki sungai bawah tanah
dan berharap agar ia membawanya
menuju kediamanmu
agar kau gunakan air itu
untuk membasuh wajahmu itu

sendu, sekali waktu aku titipkan
berbagai macam perasaan yang ada padaku
kepada lirih-lirih doa yang kelu
dengan penuh harap, dan rasa rindu
yang tak mungkin lagi terbendung
sampai suatu saat nanti apakah kau akan mengetahui

atau justru pergi tanpa lagi memberi sebuah arti