di jalan setapak itu
ada seringai curiga dari keong-keong;
mereka takut kalau kami ini adalah petani
yang biasa memburu mereka untuk dijadikan umpan
padahal kami tak sejahat itu
lebih tepatnya kami lebih jahat dari itu
kami bermaksud mematok tanah
yang kami paksa beli dengan harga yang murah
lalu menjualnya dengan harga yang mahal kepada pemerintah
ya, kami ini hanya abdi
karena pemegang kuasa sesungguhnya adalah bupati
ya, kami ini hanya bedil
yang ditempatkan untuk merampas rasa adil
kami peduli dengan petani
tapi kami juga peduli dengan keluarga kami
yang sudah beberapa lama makan dengan sunyi
serta berpapaskan lauk berupa teri basi
namun kami tetap peduli
meski hati tak lagi bertempat di hati
kami tetap peduli
dengan topeng seolah kami orang suci
Tidak ada komentar:
Posting Komentar