Kamis, 18 September 2014

Senja lusuh di tengah kota

kulihat kakek tua itu; tersenyum
ia mengulasnya dari balik bilik angkot hijau
sambil memamerkan poster bergambar
wanita cantik, pemudi model masa kini

dari balik senyumnya pula aku lihat
segenggam memori tentang masa lalu
dengan mengecap duri kenangan akan seorang kekasih
yang manis dan menyenangkan
persis seperti pemudi model masa kini tadi

di depannya duduk seorang ibu
penuh peluh membawa barang dagangan
barangkali ia baru pulang dari pasar
seutas senyum tipis mengambang di bibirnya
yang penuh gincu murahan
namun tulus

lain lagi sang sopir, ia memancarkan wajah panik
mungkin setoran masih hari ini belum terkejar
atau mungkin anak sedang butuh banyak biaya
atau mungkin istri merajuk minta dibelikan berlian
makanya ia getir, kepalanya miring sebelah
makanya ia sempat pula melontarkan marah
pada anak sekolah yang tak jadi naik angkotnya

dan pengamen di bus Damri itu
berlagak menyeramkan dengan membawa
gitar tua yang sudah mulai sompral
ia lalu bernyanyi dengan tidak merdu
memandang kesana kesini dari balik kacamata hitam
tanda ia sedang bergaya, juga mungkin merasa minder
karena tak ingin identitasnya diketahui publik
maklum selama ini ia kan playboy, masa mengamen

lalu dimana aku? aku ada disitu
disebuah tempat yang tak perlu kau tahu
aku duduk sambil memandang mereka
aku yang baru saja mengutuki nasib
karena belum diterima bekerja
aku yang sempat berkicau bahwa hidup ini keras
sungguh tak ada apa-apanya saat aku bandingkan
dengan kehidupan mereka yang aku lihat
pulang sore, mungkin pergi saat adzan subuh belum berkumandang
membawa barang berat ke berbagai tempat
meneteskan keringat mengantar penumpang pulang pergi
menggesekkan pick gitar dengan suaranya yang parau
sampai hari lelah, dengan hidup yang belum juga berbaik hati
oh Tuhan... maafkan.. sungguh maafkan aku
yang tak pernah bersungguh-sungguh
mensyukuri segala nikmatmu., sungguh maafkan aku Tuhan..
tiada apapun disini kecuali karena karuniamu
terima kasih Tuhan

2 komentar:

  1. Semangat dan bersabarlah Abang Ibnu, tentang pekerjaan dunia itu !! :D
    Doa ku bersama mu, hingga satu waktu kau dan dia bersatu.
    hhe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ahoy, salam puisi. terima kasih adikda taufik setiadi al bandungy :v.. doakan kakandamu ini segera mendapatkan yang diinginkan ya. aamiiin

      Hapus