Senin, 10 November 2014

Tanda Tanya

seorang perempuan termangu
memandang deret bukit
dari bingkai jendela alam

ia mamatung, menajamkan mata
namun melapangkan hati
kepada himpitan masalah
yang senantiasa meradang

dan tetiba ia tersedak
kaget melihat seorang lelaki
di saat malam sedang
menampilkan jejak-jejak penuh emosi;
ia mabuk sambil membanting handphonenya
"dasar wanita jalang"
kata si lelaki penuh amarah dan duka

dan sang perempuanpun hanya tertunduk
teringat masa kelam yang baru saja dilaluinya
"lebih baik kita cerai mas"
pinta sang perempuan, waktu itu

lalu mereka berdua duduk saling berdekatan
tak saling pandang, meski ada rasa ingin
"aku menyesal membuat keadaan menjadi begini"
sesal sang lelaki dalam lirih
"aku sedih telah kehilangan suami"
seru sang perempuan dalam hati

maka setelah masa yang agak panjang dan hening
mereka memaksa untuk saling melihat
meski pada saat itu suasana taman sedang remang.
sampai kini keduanya bersitatap;
"parmin??" tanya sang perempuan
"minah??" tanya pula sang lelaki, heran

dan mereka berdua kembali terdiam, lalu mempertanyakan
untuk apa mereka melempar sesal dan tanda tanya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar