Rabu, 14 Oktober 2015

semilir angin

dari pekatnya malam,
kita menyaksikan keindahan semesta.
pendar Venus mengudara di pesisir langit.
menghisap mata telaga para pengagum senja.

dan semilir angin berhembus,
memilin jingga peraduan anak manusia
dan awan kelabu meneteskan tangis yang terisak;
membuat tanah merindu akan dekapan mesranya

daun-daun mulai berguguran, menuju pembaringan
melingkupi dunia duri; dari pelingkar sepi
ia bertahta duka,
beralunkan makna,
sebuah simfoni yang tak terperi

maka itulah.. 
dua perindu yang saling menunggu.
maka itulah..
dua pasang mata yang saling menatap

dalam untaian doa di malam yang pekat.  

Minggu, 28 Juni 2015

Hanya Disini

hanya disini, di negeri ini
orang-orang gila yang membangun rumah sakit jiwa

ya, hanya disini, di negeri ini
orang-orang yang mati nurani membangun negeri

Minggu, 07 Juni 2015

(Bukan) Gitar Tua (Rhoma Irama)

Pada sebuah pagi yang tidak dingin, duduklah sebuah gitar tua
nampak ia sedang kelelahan, senarnya masih menyisakan bekas getar yang sembilu
ia duduk saja seperti itu, mematung menghadap datangnya matahari
disandarkannya tubuh renta pada dinding yang kumuh itu
ia sedang melamun memikirkan nasib masa depannya

"aku sudah tua, tubuhku sudah banyak rusaknya. majikanku sudah bosan memainkanku"
si gitar tua itu nampak semakin murung.
"lihat, senarku nampak berkarat. kulitku terkelupas sana sini. suaraku sember,
tak lagi enak didengar."
gitar tua itu semakin membatin. terkenang olehnya 10 tahun yang lalu, saat ia baru saja tiba
di sebuah toko musik.
"ma,, aku mau gitar ini ma.."
pinta seorang anak kecil berusia 7 tahun sambil menunjuk-nunjuk dirinya.
"iya sayang.. kamu mau gitar ini ya.. yasudah.. mama belikan buat kamu ya.. "
si anak senang bukan kepalang. sepanjang hari ditampakkannnya senyum itu
sambil membopong tubuh gitar balita yang baru saja lahir dari pabrik pengrajinnya.

akan tetapi nasib baik belum berpihak pada gitar itu, ternyata si anak memperlakukannya
dengan semena-mena. digenjrengkannya senar gitar tua itu dengan kasar.
sementara itu ayah dan ibu si anak hanya tertawa menyaksikan tingkah si anak.
si anak pun semakin menjadi, dia terus mengenjreng gitar itu dengan kasar.
sang gitar tetap sabar, meski terasa ngilu akibat sayatan tajam kuku.
lagi pula bukan hanya itu, ia merasa sedih karena hanya jadi bahan tertawaan
keluarga itu. dirinya tidak berguna. merasa gagal menjadi gitar.

waktu terus berjalan. melalui garis-garis hari dan minggu di kalender.
gitar tua itu pun pindah dan tinggal di gudang keluraga si anak tadi.
ia kini teronggok sedih bersama benda-benda lain yang gagal
jadi primadona di hati keluarga itu.
sambil menangisi nasib, ia bercengkrama
dengan barang-barang lain di gudang itu.
ia sempat mendengarkan cerita pilu topo dapur. tentang kegelisahannya
yang selalu dimaki, namun saat dibutuhkan selalu saja dicari. ia bau dan berguna.
juga tentang dispenser rusak yang kini berdiri tegak di pojok gudang.
mesin pemanasnya rusak dimakan usia, juga kran air panasnya yang ikutan patah.
bagi mereka menjadi barang penghuni gudang adalah sebuah kesedihan,
karena tak ada lahan lagi untuk berbuat bagi bagi manusia. hilang sebuah kebanggan.

suatu hari, ibunda si anak menghentikan sebuah gerobak tua.
gerobak itu berisi barang-barang bekas yang biasanya akan dikumpulkan
dan dijadikan barang lainnya. manusia menyebutnya daur ulang.
tapi ada juga sih yang dipoles dan akhirnya dijual kembali.
dengan sedikit tak sabar, ibunda si anak tadi menjewer telinga sang gitar
ia menaruhnya di gerobak tua itu.
"nih bang, udah ga kepake. tukar piring ya.." kata ibunda si anak.
"baik bu, saya terima ya.. ini piringnya" kata si pendorong gerobak
"yaaahhh.. kok cuma satu piringnya bang.. masa gitar bagus begini cuma satu doang
tambahin doong" rengek si ibu. oh bukan, protes si ibu.
"iya bu, gitar kaya gini saya sering dapat. harganya jadi murah."
"ye, si abang..  gamau,, pokoknya harus ditambahin lagi piringnya.
"yasudah, ini saya tambahin bu"
"iya, terima kasih yaa.."

(bersambung)



Rabu, 06 Mei 2015

Mengapa

Kulihat, segala pagi itu penuh dengan warna
ada awan yang berbaris, ada langit yang membentang
ada pula cakrawala yang tengadah tiada habisnya

Kutatap, segala peri kehidupan sepagi itu
daun-daun berenda-renda di kemuning surya
tanah bergulat bersama cacing-cacing yang banyak jumlahnya
juga jalanan, yang tiada henti bernafas dengan segala pikuknya

Kudengar, semua suara di kejauhan mata
anak-anak kecil yang tertawa, juga ibu-ibu tua
yang membopong renta itu bakul-bakul penuhnya
dan bapak-bapak senja, yang saling menatap, memancarkan khawatir
berharap sirnakan segala ratap.

Kusapa segala pagi ini dengan pertanyaan
perihal segala aku punya kegelisahan
tentang bakul, tatapan, harap, cacing dan cakrawala,
tentang mengapa mereka semua, mesti duduk disini
di depan aku sedang berhadapan,
mengapa?  

Sabtu, 28 Februari 2015

Sejak Pilu

Sejak pilu semburat merona
Memeka telinga surya semata
Butiran debu demi berpadu
Menerjang batin luka terpaku

Dendam mimpi dalam jeratan waktu
Membekaskan simfoni keraguan
Duka pada kemarau senja
Membentangkan keangkuhan duri terjal

Singgah bersama rindu semu
Semerbak jingga harum madu
melepas birahi jarak dengan menepi
Berhenti di peraduan, pada alam tak terperi

Minggu, 15 Februari 2015

Memori Siluet

dalam bayangku, wajahmu masih berupa gelap
bahkan bagaimana tubuhmu, hanya tersamar redup

dalam bayangku, hanya garis tepi yang membekas
bagaimana sebuah kerudung itu, menyimpulkan sisi
membentuk keanggunan

dalam bayangku hari ini, bagaimana dirimu
masih berbentuk kabut siluet
dimana mataku, hanya memicing dengan perlahan
seakan sinar samar itu adalah kejelasan akan dirimu

dan mungkin suatu saat, kata pertama
yang mungkin akan terucap dari mulutku adalah
"bolehkah aku melihat wajahmu?"
lalu "bolehkah aku memegang tanganmu?"

Sabtu, 14 Februari 2015

goede middag , voor Jakarta

regen is net voorbij
en nu is er een glas melk in mijn kamer
een stuk van het verhaal kan worden genomen
maar niet met de werkelijkheid
die onvermijdelijk blijven

niet aanwezig zijn deze avond schemering
die infiltreert gewoonlijk door de spleet nadir
misschien vanmiddag water met bakken naar beneden
in een richting die steeds hack

en een stuk van de middag nu leven dimt
verlaten tempels downstream wind somber
en opnieuw schemering onzichtbaar
omdat de nacht komt

goede middag , voor Jakarta

Segelas Kopi

sepagi ini, gelas kopi sudah bersiap
menampung gula, air mendidih,
dan tentu saja kopi.
dengan tulus, si gelas mempersilahkan
gula untuk datang kepadanya.
dan dengan tulus pula, kopi menceburkan diri
menyusul si gula,
pada pelukan si gelas.

dan sungguh mereka tahu,
kalau segalanya akan sampai disitu;
saat-saat air menumpahkan tubuhnya
dan membawa mereka larut.
mereka mengikhlaskannya,
seolah yakin bahwa mereka tercipta
memang untuk begitu

dan buih-buih letupan pun lalu muncul
mereka seakan berteriak, beriak
mementahkan suatu nasib di kala pagi
menjadi larutan kopi, manis dan pahit
dalam suatu bejana.


Senin, 26 Januari 2015

Pulpen Hitam

tergolek lemah
diatas sumbu senja dewasa
dan berbaring sendiri
merasai keramaian dalam sunyi

tubuh mulai membeku
pada kata-kata pilu
dingin, menikam air mata
sejak terbitnya kelam
di semesta binasa

dan kita saling mendesak
bermain mata dengan sahaja
melalui sikap ringan kata
yang bersibak pada peraduan

Kamis, 08 Januari 2015

Bukan Urusan Saya

suatu hari, sebilah angin dari timur duduk menepi
ia menguap dan menyandarkan tubuhnya
pada sebuah pohon.
"betapa lelahnya aku hari ini" kata angin itu.
setelah beberapa waktu
secara tak sadar, ia tertidur dengan lelap

tak lama datanglah seekor burung gelatik
terlihat ia sedang memperhatikan angin itu,
lalu dengan perlahan ia mendekatinya,
"hmm.. sedang apa ia disini" pikir gelatik
"bukankah ia tak boleh terlihat, wah wah,,
kalau manusia lihat bisa gawat."

lalu burung gelatik itu bergidik,
ia mencoba mengeluarkan kicauannya
berharap agar si angin tadi terbangun,
namun setelah dua puluh menit enam belas detik
angin tadi belum juga terbangun dari tidurnya.

"apakah ia sebegitu lelahnya sampai
tak bisa bangun meski sudah kubangunkan"
burung gelatik tadi sedikit heran.
kembali ia bergidik dan berkicau dengan
frekuensi yang agak tinggi.
setelah sepuluh menit enam belas detik berkicau,
tak ada tanda apa-apa dari angin itu.
si burung gelatik pun mulai putus asa."

"ah, sudahlah.. ini bukan urusan saya"
celetuk burung gelatik, seraya meniru gaya ucapan
seorang presiden dari negeri antah berantah.

Minggu, 04 Januari 2015

Gila

ada orang gila menggilai seseorang gila lainnya,
yang juga gila akan kegilaan orang gila
yang gila seperti dirinya.

Sabtu, 03 Januari 2015

Gadis kecil yang tertidur diatas becak

seorang gadis kecil meringkuk; tertidur diatas becak
kakinya kurus, namun warnanya pucat
matanya terpejam, kakiknya gemetar
mungkin tanda sedang kedinginan

seorang gadis kecil meringkuk diatas becak:
bertanya dalam mimpi, ada apa gerangan dengan emak-bapaknya
mengapa tega meninggalkan ia disini,
bertanya apakah keduanya masih menyayanginya

dan gadis itu menyimpulkan sebuah senyum
terlihat begitu girang ia
gembira karena baru saja mendapat kecup manis emak-bapaknya;
walau sungguh semuanya hanya dalam mimpi saja

Sore buat Jakarta

hujan baru saja berlalu
dan kini segalas susu ada di kamarku
sepotong kisah mungkin saja berlalu
tapi tidak dengan kenyataan
yang harus berlanjut mau tidak mau

mungkin senja sore ini tidak hadir
yang biasanya menelusup melalui celah nadir
mungkin sore ini air turun dengan deras
pada suatu haluan yang kian meretas

dan sepotong sore kini tinggal meredup
menyisakan bait-bait angin hilir yang sendu
dan senja yang tak terlihat lagi
karena malam sebantar lagi sudah akan tiba

selamat sore, buat Jakarta