Duhai engkau yang berhati pemaaf
Seringkali aku bersedih dengan diriku
Begitu juga dengan saudara-saudaraku
Bahwa sebenarnya kami begitu merindukanmu
Duhai engkau yang tutur katamu penuh kelembutan
Betapa berharapnya kami bisa memandangmu
Menyentuh kulit tegasmu dalam suasana sendu
Memadunya dengan cerah sorot tajam matamu
Wahai sang penegur dikala khilaf
Kalau kami boleh jujur
Apakah engkau rela kami rindukan?
Atau justru karena kami khawatir dengan itu
Karena kami kadangkala hanya sebatas kata
Basah bibir bukanlah bukti kecintaan kami
Tapi mengikuti segala contohmu adalah
Nilai shahih atas yang kami lisankan
Maafkan kami hanya menjadi seperti ini
Ilmu kami tak lebih besar dari ujung kuku
Amalan kami tak lebih banyak dari setetes air
Namun kami berkata bahwa kami mencintaimu
Maafkan kami
Maafkan kami
Maafkan kami hanya menjadi seperti ini
Tapi lubuk hati kami tetap berkata tentang kerinduan
Karena kami yakin bahwa kami tetap rindu
Shahabat yang menyertaimu saja selalu merindukanmu
Apalagi kami, kami yang tak pernah melihat sendunya wajahmu
Tak pernah menyaksikan indahnya perangaimu
Tak pernah merasakan hangatnya senyum mempesonamu
Tentu kami juga amat merindukanmu
Amat rindu
Maafkan kami karena hanya menjadi seperti ini
Maafkan kami karena hanya menjadi seperti ini
Maafkan kami karena hanya menjadi seperti ini
Tidak ada komentar:
Posting Komentar