Kamis, 24 Oktober 2013

Sesudah senja di ibu kota

jalan lengang dan jalan jalang
wanita ber- rok mini mulai bertebaran
jalan hitam, aspal hitam
sajian malam dengan pekat suram
menerkam, mencekam

pegawai pulang, pegawai pergi
mengadu nasib di dunia perantauan
gadis cantik, gadis malam
duduk bersaji dalam tudung uang

gitar pengamen suaranya saru, bernyanyi
dengan senar kumal yang hampir putus
oh dinda, inilah dunia
yang tak cuma datang
tapi juga pergi tanpa selimut

kulihat ada siluet rasa sedih
pada tukang sepatu yang duduk menepi
ada sumringah jemu pada tukang soto
yang bersatu dengan amarah
pada anak yang sudah tak lagi bersekolah
oh dinda, berselimutlah engkau di dalam rumah
lalu biarkan aku saja yang mendekam
dalam udara pekat malam hari ini
tak usah risau, apalagi menggalau
karena aku tak akan main pisau
lantas biarkan aku saja yang  mendekam
dalam udara pekat malam,
pekat sekali disini memang
tapi tidak di hati ini sayang


*di bawah sebuah fly over di kota Jakarta, Oktober 2013 sekitar pukul 23.00 wib
*aku memposisikan diri sebagai lelaki yang menghembuskan rokok di depanku. yang diposisinya itu ia hanya diam membisu, seolah-olah dari raganya sudah tak terlihat lagi sendu meski dari tatap matanya masih kudapati alur kesendirian. dengan raut wajah yang khawatir,  ia mengepulkan asap ke udara yang nyatanya memang sudah begitu pekat adanya. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar