dalam setiap perjumpaanku dengannya
aku mendapati diriku bertatap
saling memandang dengan kekakuan yang dingin,
memandang raut wajahnya yang juga sunyi
ketika perjumpaan yang tak sengaja terjadi
aku menelusuri garis-garis warna wajahnya
mencoba menebak-nebak tebal tubuhnya
apakah mungkin ia memiliki lekuk tubuh yang bagus?
lurus ataukah bengkok? ingin rasanya segera aku menyentuhnya
saat detik demi detik berjalan, menyongsong waktu perjumpaan
aku mendapati sebuah rasa yang indah
sebuah perasaan yang tak bisa diungkapkan begitu saja
bahkan adakalanya rasa itu sulit untuk coba diterjemahkan
aku rasa tidak ada bahasa apapun yang mampu membuatnya
menjadi lebih mudah untuk dimengerti
dan sampai suatu ketika aku sudah benar-benar berada di dekatnya
hati ini menjadi lebih berdebar. degup jantung tiba-tiba menjadi cepat
aku rasakan ada jejak-jejak gugup yang mendera. mungkinkah?
akhirnya aku dekatkan lenganku pada wajahnya
ah, terasa halus sekali
kemudian aku coba sentuh dengan perlahan
punggung belakang sisi tubuhnya
ternyata sama, kulitnya begitu halus
lantas akupun berkata "sesungguhnya engkaulah yang aku cari selama ini"
tapi ternyata ia diam saja. tak membalas dengan satu katapun
mungkinkah ia bisu? mungkinkah?
dari jauh aku mendengar sebuah suara
seperti raungan yang terdengar saling bersahutan
sesekali aku dengar suara itu semakin jelas
ya, aku bisa merasakannya. itu adalah suara yang memanggil namaku
mungkinkah? mungkinkah mereka yang memanggilku?
"hai, aku ingin sekali berkenalan denganmu,
maukah kau berjabat tangan denganku" ia bertanya
aku pun hanya terdiam. terasa mulutku terbuka,
sampai tak ada satu katapun yang keluar dari mulutku
mungkinkah kalian? mungkinkah kalian,
wahai buku-buku di perpustakaan rumahku?
*Sambil duduk-duduk di samping rak buku
Tidak ada komentar:
Posting Komentar