Kamis, 19 Desember 2013

Maaf

Maaf. hanya itu kata yang bisa aku ungkap
Maaf. untuk sebuah cerita yang mungkin tidak sampai
Maaf. bagi segala harap yang dulu pernah ada

tidak mengapa, bahkan engkau boleh pergi sekarang
aku tahu, engkau berhak untuk bahagia
karena bisa saja denganku, engkau malah bersedih
karena bisa saja denganku engkau jadi menderita

Tidak mengapa, kalau engkau mau membawa hatimu itu menjauh
aku baik-baik saja disini
jika hanya dengan itu kau bisa lebih baik
jika dengan segala yang ada, kau tidak bisa menjadi lebih indah

dan suatu saat apabila kau terpaksa merindukanku
katakanlah rindumu itu dengan lirih
pada angin yang melintas dihadapanmu
hingga mudah-mudahan ia mampu membawanya
sampai terdengar ke genderang telingaku

dan apabila nanti kau terpaksa ingin melihatku
kau buka saja memori samar yang ada dalam pikiranmu itu
atau temui saja aku dalam mimpi-mimpimu
mudah-mudahan dengan begitu menjadi lebih mudah

atau jika saja kamu ingin menangis
maka tumpahkan saja air mata itu pada tanah sekitarmu
biarkan ia meresap ke tanah, menyesap
mungkin suatu saat nanti ia akan ikut menguap bersama awan
dan pergi membasahi tubuhku yang terkena hujan
biar aku bisa merasakan tangismu
biar aku bisa merasakan rindumu

Maka biarkanlah aku begini
biarkan aku yang menanggung semua hal
yang sudah jadi jalan
seperti halnya jalur aspal yang tertakdir untuk dinjak-injak
maka itulah perumpamaan aku
tidak mengapa, memang sudah jalannya
aku tak akan mengeluh lagi.
aku tak akan mengeluh lagi,
sama seperti yang dilakukan oleh jalur aspal tadi
yang pantang untuk mengatakan hal itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar