Kamis, 21 Maret 2013

Panggung Sandiwara


kita memang ditakdirkan berbeda, meski sesekali engkau membantah bahwa kita begitu sama. tatkala surya membenamkan dirinya di sudut ufuk, bukan semata-mata karena jenuh tapi karena memang itulah takdirnya. 
aku tahu, meski perlahan apa yang kau rasa mulai merebak sempurna, akan tetapi kenyataan itu senantiasa akan menemui kita. bahwa rasa itu datang tak kenal waktu, dan mungkin saja akan pergi tanpa pernah kita mau. 
duhai, andaikan bulan itu menampakkan diri di siang hari, atau mentari muncul lagi selepas maghrib, itu sudah ketentuan. kita harus pergi untuk menyadari. untuk merasakan seberapa benar rasa yang kita miliki. dan tak akan pernah tahu kalau tak pernah melakukan. 
satu yang harus engkau yakini,  matahari memang satu. matahari yang dulu dilihat oleh fir’aun juga raja namrudz. matahari yang dibelai oleh awan di masa nebukanedzar. tapi sang waktu lah yang membedakan. kata penyair, kalau hidup ini adalah panggung sandiwara, maka biarlah aku menemuimu dibelakang panggung itu saja. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar