gumpalan debu-debu menanjak sehingga muram
menderas dalam alur kebiadaban hati tak yang bertemali
meluruh sampai jauh menerkam setiap kata umpat
setiap jumpa harap menghilang dari sepasang bola mata
kukira ini akan jadi akhir dari perjalana semu
tapi nyatanya justru kita berbalik arah dalam gurat waktu
yang tak bisa dihindari untuk bersama menyambut pagi
kukira nanti akan jadi masa yang cerah untuk kita
tapi nyatanya akan menjadi isap jempol belaka
merintih, meronta, atau mencaci dalam hati
sudah menjadi ritual saban pagi, kelak ketika terbangun
dan tidur seolah menjadi obat bagi kesedihan
entahlah, ada kata yang memang belum teruntai
ada banyak makna yang belum terpahami
tapi sekiranya kemarin sudah seperti bukti
bahwa selama ini pagutan asa itu hanyalah semu
bermimpi di siang hari, merindu bulan untuk bersinar
mustahil
sungguh, tak ada celak dalam batin sebelum purna
hingga dawai itu tak lagi bergetar, masih ada harap
tapi kurasa hati manusia terbuat dari bahan yang cengeng
acap lemah tak berdaya, dimakan perhitungan hati
yang tak melulu benar, tak jarang hanya ilusi belaka
oh, kasihan si anak manusia
sudah jauh pangkal hatinya berharap
sudah letih jiwanya menggegap
hasilnya hanya sia-sia
hanya berdekam sampai jauh
menyisakan sesak di dada
sampai luruh
sampai jauh
sampai jenuh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar