dari bumi aku mendaki bukit belukar
di semenajung awan aku berkelindan
di temaram sepi aku merasuk hati
meski tanpa arah, menyeruak hingga pekat malam
dan tersisih di sisa waktu perjalanan
kulihat daun hijau mulai menguning
sativa berhambur menjalar, menancap dalam
bentuk puing-puing mimpi yang berserak
dari mata aku pernah memandang
keelokan semesta hingga palung fajar
dari kaki aku berjalan, mengiring duka
dan bersama tubuh aku terdiam
menyingsing harapan
hingga jelas sudah makna rindu
pada bumi air langit yang tabu
merekah bersama bunga mendekam
keindahan rupa yang tak terjamah
melewati rintih demi rintih
sukma bulu roma yang tak lagi berdiri
ooh, adakah patut untuk aku menerobos gelap,
meski ada suatu sikap aku bak hangat-hangat tahi ayam?
percumakah melintas dalam titian kalbu durja,
yang hatinya dina melawan angkara murka?
oh ibu, aku hanya ingin mendayu
oh ayah, aku hanya ingin merekah
*sepertinya Bandung akan hujan malam ini, tapi aku masa bodoh dengan semuanya. karena aku tidak suka malam minggu. maka biarkan saja hujan ini melata dalam sunyi, membawa kesedihan yang aku titipkan padanya, hingga jauh, jauh mendasari perut bumi. biar hilang kesedihanku, biar muncul harapan baruku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar