menerkalah, ketika aku menelusup masuk di rimbunan awan
yakni pada suatu waktu dimana kau tak lagi beradu
bersama celoteh saling sapa layaknya dahulu
menerkalah menggantikan aku yang tak lagi
bergumam dengan gemericik hujan
menerkalah, dengan kepulan asap-asap hitam
tanda ikatan sudah tak lagi berpagutan
lalu ijinkan aku mengenggam api kesombongan
yang pabila aku biarkan bakal hangus
seperti cerobong butut
bekas kapalan antara api
dengan jejak-jejak hitam
awan sisa pembakaran
maka menerkalah,
saat wana pelangi meninggalkan hitam
bersenandung dalam sedihnya bayang
sisa peraduan tadi malam
maka menerkalah,
membikin kenyataan bagai jarum karatan
yang pedih membuat luka
yang sial membebat kesabaran
dan yang sukar melupa ingatan
maka menerkalah,
beralihkan sungai air mata
yang hanyut membawa duka
yang menyimpan bara kenangan
dan yang menaruh api nestapa
hingga pada debu tempat beradu
bak sisa awan di hamparan gunung semeru
Tidak ada komentar:
Posting Komentar