Kamis, 24 Oktober 2013

Untuk Kenangan

menerkalah, saat aku berkelit dari kenyataan 
menerkalah, ketika aku menelusup masuk di rimbunan awan
yakni pada suatu waktu dimana kau tak lagi beradu
bersama celoteh saling sapa layaknya dahulu

menerkalah menggantikan aku yang tak lagi
bergumam dengan gemericik hujan
menerkalah, dengan kepulan asap-asap hitam 
tanda ikatan sudah tak lagi berpagutan 

lalu ijinkan aku mengenggam api kesombongan 
yang pabila aku biarkan bakal hangus
seperti cerobong butut
bekas kapalan antara api 
dengan jejak-jejak hitam 
awan sisa pembakaran 

maka menerkalah,
saat wana pelangi meninggalkan hitam
bersenandung dalam sedihnya bayang
sisa peraduan tadi malam
maka menerkalah, 
membikin kenyataan bagai jarum karatan 
yang pedih membuat luka 
yang sial membebat kesabaran
dan yang sukar melupa ingatan
maka menerkalah, 
beralihkan sungai air mata
yang hanyut membawa duka 
yang menyimpan bara kenangan 
dan yang menaruh api nestapa
hingga pada debu tempat beradu
bak sisa awan di hamparan gunung semeru

Tidak ada komentar:

Posting Komentar