Bulan merah diatas jatinangor
menetap kaku diatas gunung geulis
disini aku, menjejak hitam dalam rindu semesta
menerawang percik-percik kehidupan dalam sendu
ketika cawan-cawan mata air bercucuran
jatuh melembab hingga tepian
aku tetap merekam sampai sawan
sesekali mendengus risau sampai kemilau
sesak-sesak nafas yang tiada terdengar
lagi merasuk ke sentuhan malam
Bulan merah diatas jatinangor
aku merajai diri sendiri
atas perilaku absurd yang seirngkali
aku dapati melepaskan tanggung jawab
atas perbuatannya sendiri
yang amat gemar memaku amarah
pada pihak-pihak yang tidak bersalah
kini aku susuli ia yang melarikan diri
masuk ke dalam konstelasi terdalam
hati yang pada beberapa waktu
tidak bisa dimasuki sembarang diri
menindak identititas palsu
yang memaksa tuk masuk dan
mengacak-acak pecahan air mata
pada tetes-tetes daun di malam hari
Bulan merah diatas jatinangor
aku menunggumu dalam diam
membasahi kening dengan keringat juang
hingga aku akan mendekatimu
mendekapmu
dalam ruang imajinasi
yang penuh kekejaman
Tidak ada komentar:
Posting Komentar