sudah kuduga sejak mula
bahwa mungkin ini yang dinamakan cinta
setiap jengkal demi jengkal waktu yang aku coba
buang
tak surut untuk merontokkan rasa ini
bahkan sampai tubuh ringkih, letih, dan tanpa muara
ia masih saja bercokol dalam kemelut jiwa
aku tersiksa, pada rindu batin yang melayang
menjejak dalam gulita yang terpendam
aku menderita, pada kecewa yang dulu singgah
yang menikam jaring-jaring ulu hati
cinta. Mengapa engkau tega kepadaku?
Membiarkan dirimu menerjang, dan
Memukul jatuh segala harap yang aku titipkan
Pada sela-sela keelokan warna tubuhmu
Yang aku sampaikan dengan bisik halus
Di pembuluh-pembuluh jantungmu itu
Dan kini, sempurna sudah
Segala ingin yang meratap dalam kehampaan
Dan kini, mendekam pula
Segala asa yang tak terbendung dalam waktu
Menelusuri setiap kolom-kolom nadiku sendiri
Meniup udara resah pada ungkapan, tak terbalaskan
Begitu terus dan terus begitu
Sampai nanti, sampai aku sudah tak lagi bersandiwara
Bersandiwara untuk melupakanmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar