Pada sebuah pagi yang tidak dingin, duduklah sebuah gitar tua
nampak ia sedang kelelahan, senarnya masih menyisakan bekas getar yang sembilu
ia duduk saja seperti itu, mematung menghadap datangnya matahari
disandarkannya tubuh renta pada dinding yang kumuh itu
ia sedang melamun memikirkan nasib masa depannya
"aku sudah tua, tubuhku sudah banyak rusaknya. majikanku sudah bosan memainkanku"
si gitar tua itu nampak semakin murung.
"lihat, senarku nampak berkarat. kulitku terkelupas sana sini. suaraku sember,
tak lagi enak didengar."
gitar tua itu semakin membatin. terkenang olehnya 10 tahun yang lalu, saat ia baru saja tiba
di sebuah toko musik.
"ma,, aku mau gitar ini ma.."
pinta seorang anak kecil berusia 7 tahun sambil menunjuk-nunjuk dirinya.
"iya sayang.. kamu mau gitar ini ya.. yasudah.. mama belikan buat kamu ya.. "
si anak senang bukan kepalang. sepanjang hari ditampakkannnya senyum itu
sambil membopong tubuh gitar balita yang baru saja lahir dari pabrik pengrajinnya.
akan tetapi nasib baik belum berpihak pada gitar itu, ternyata si anak memperlakukannya
dengan semena-mena. digenjrengkannya senar gitar tua itu dengan kasar.
sementara itu ayah dan ibu si anak hanya tertawa menyaksikan tingkah si anak.
si anak pun semakin menjadi, dia terus mengenjreng gitar itu dengan kasar.
sang gitar tetap sabar, meski terasa ngilu akibat sayatan tajam kuku.
lagi pula bukan hanya itu, ia merasa sedih karena hanya jadi bahan tertawaan
keluarga itu. dirinya tidak berguna. merasa gagal menjadi gitar.
waktu terus berjalan. melalui garis-garis hari dan minggu di kalender.
gitar tua itu pun pindah dan tinggal di gudang keluraga si anak tadi.
ia kini teronggok sedih bersama benda-benda lain yang gagal
jadi primadona di hati keluarga itu.
sambil menangisi nasib, ia bercengkrama
dengan barang-barang lain di gudang itu.
ia sempat mendengarkan cerita pilu topo dapur. tentang kegelisahannya
yang selalu dimaki, namun saat dibutuhkan selalu saja dicari. ia bau dan berguna.
juga tentang dispenser rusak yang kini berdiri tegak di pojok gudang.
mesin pemanasnya rusak dimakan usia, juga kran air panasnya yang ikutan patah.
bagi mereka menjadi barang penghuni gudang adalah sebuah kesedihan,
karena tak ada lahan lagi untuk berbuat bagi bagi manusia. hilang sebuah kebanggan.
suatu hari, ibunda si anak menghentikan sebuah gerobak tua.
gerobak itu berisi barang-barang bekas yang biasanya akan dikumpulkan
dan dijadikan barang lainnya. manusia menyebutnya daur ulang.
tapi ada juga sih yang dipoles dan akhirnya dijual kembali.
dengan sedikit tak sabar, ibunda si anak tadi menjewer telinga sang gitar
ia menaruhnya di gerobak tua itu.
"nih bang, udah ga kepake. tukar piring ya.." kata ibunda si anak.
"baik bu, saya terima ya.. ini piringnya" kata si pendorong gerobak
"yaaahhh.. kok cuma satu piringnya bang.. masa gitar bagus begini cuma satu doang
tambahin doong" rengek si ibu. oh bukan, protes si ibu.
"iya bu, gitar kaya gini saya sering dapat. harganya jadi murah."
"ye, si abang.. gamau,, pokoknya harus ditambahin lagi piringnya.
"yasudah, ini saya tambahin bu"
"iya, terima kasih yaa.."
(bersambung)
nampak ia sedang kelelahan, senarnya masih menyisakan bekas getar yang sembilu
ia duduk saja seperti itu, mematung menghadap datangnya matahari
disandarkannya tubuh renta pada dinding yang kumuh itu
ia sedang melamun memikirkan nasib masa depannya
"aku sudah tua, tubuhku sudah banyak rusaknya. majikanku sudah bosan memainkanku"
si gitar tua itu nampak semakin murung.
"lihat, senarku nampak berkarat. kulitku terkelupas sana sini. suaraku sember,
tak lagi enak didengar."
gitar tua itu semakin membatin. terkenang olehnya 10 tahun yang lalu, saat ia baru saja tiba
di sebuah toko musik.
"ma,, aku mau gitar ini ma.."
pinta seorang anak kecil berusia 7 tahun sambil menunjuk-nunjuk dirinya.
"iya sayang.. kamu mau gitar ini ya.. yasudah.. mama belikan buat kamu ya.. "
si anak senang bukan kepalang. sepanjang hari ditampakkannnya senyum itu
sambil membopong tubuh gitar balita yang baru saja lahir dari pabrik pengrajinnya.
akan tetapi nasib baik belum berpihak pada gitar itu, ternyata si anak memperlakukannya
dengan semena-mena. digenjrengkannya senar gitar tua itu dengan kasar.
sementara itu ayah dan ibu si anak hanya tertawa menyaksikan tingkah si anak.
si anak pun semakin menjadi, dia terus mengenjreng gitar itu dengan kasar.
sang gitar tetap sabar, meski terasa ngilu akibat sayatan tajam kuku.
lagi pula bukan hanya itu, ia merasa sedih karena hanya jadi bahan tertawaan
keluarga itu. dirinya tidak berguna. merasa gagal menjadi gitar.
waktu terus berjalan. melalui garis-garis hari dan minggu di kalender.
gitar tua itu pun pindah dan tinggal di gudang keluraga si anak tadi.
ia kini teronggok sedih bersama benda-benda lain yang gagal
jadi primadona di hati keluarga itu.
sambil menangisi nasib, ia bercengkrama
dengan barang-barang lain di gudang itu.
ia sempat mendengarkan cerita pilu topo dapur. tentang kegelisahannya
yang selalu dimaki, namun saat dibutuhkan selalu saja dicari. ia bau dan berguna.
juga tentang dispenser rusak yang kini berdiri tegak di pojok gudang.
mesin pemanasnya rusak dimakan usia, juga kran air panasnya yang ikutan patah.
bagi mereka menjadi barang penghuni gudang adalah sebuah kesedihan,
karena tak ada lahan lagi untuk berbuat bagi bagi manusia. hilang sebuah kebanggan.
suatu hari, ibunda si anak menghentikan sebuah gerobak tua.
gerobak itu berisi barang-barang bekas yang biasanya akan dikumpulkan
dan dijadikan barang lainnya. manusia menyebutnya daur ulang.
tapi ada juga sih yang dipoles dan akhirnya dijual kembali.
dengan sedikit tak sabar, ibunda si anak tadi menjewer telinga sang gitar
ia menaruhnya di gerobak tua itu.
"nih bang, udah ga kepake. tukar piring ya.." kata ibunda si anak.
"baik bu, saya terima ya.. ini piringnya" kata si pendorong gerobak
"yaaahhh.. kok cuma satu piringnya bang.. masa gitar bagus begini cuma satu doang
tambahin doong" rengek si ibu. oh bukan, protes si ibu.
"iya bu, gitar kaya gini saya sering dapat. harganya jadi murah."
"ye, si abang.. gamau,, pokoknya harus ditambahin lagi piringnya.
"yasudah, ini saya tambahin bu"
"iya, terima kasih yaa.."
(bersambung)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar